Agustus 24, 2013

Idrus Dama dan Sebuah Catatan Perjalanan Hidup

Idrus Dama, Tilamuta 9 Januari 1990. Meski lahir di tanah Paguyaman Pantai, saya diakui secara administratif sebagai anak yang lahir di perkotaan Tilamuta. Padahal aslinya dari kampung Sagela, desa Bangga. 

Jenjang pendidikan saya gado-gado. Sesekali di Madrasah, tapi di lain waktu jadi anak sekolah umum. Awalnya saya belajar di Sekolah Dasar Pentadu barat lalu pada tingkat kelas dua pindah ke Madrasah Ibtidaiyah Bubu'a, jadi santri beberapa tahun. Nasib ternyata meminta saya harus pindah lagi ke sekolah dasar. Makanya, saya ngak tahu mengaji waktu itu. Bagaimana mau tamat iqranya, sekolah saja modelnya seperti kutu loncat. 

Alasan lain pindah sekolah, kata ibu sih biar lebih maju. Maklum, dulu Madrasah dianggap institusi pendidikan paling terbelakang. Atau kata orang kampung, "Kuno".  Ya! meskipun begitu, saya tetap mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah itu selama empat tahun lamanya. Saya tetap sabar dengan segala ketertinggalan dan keterbelakangan pendidikan di sini. Bayangkan saja, sekolah tanpa jalan raya, selain jalur laut, tersembunyi rapat oleh gunung-gunung super tinggi,  tak ada listrik, tak ada signal  apalagi jaringan internet. Pokoknya madrasah ini cukup mengerikan. 

Andai tidak berpikir nasib anak-anak di kampung ini, pasti madrasah itu sudah ditutup, sebab tak layak jadi madrasah. Parahnya lagi, madrasah ini pernah roboh. Karena dulu, masih dinding papan. Jadi, ketika angin lagi kecang di musim timur, sekolah ini jadi kena imbasnya. Pokonya saya menjalani pendidikan di sini ibarat orang buta. Susah menerawang ilmu. Hal menyedihkan lagi, sekolah ini hanya punya satu guru. Namanya, "Pak Guru Dosi". Saya tidak tahu nama lengkapnya. 

Selain tertinggal, Aturan madrasah ini cukup unik. Kalau ada siswa yang pintar, langsung dinaikkan kelas tanpa harus menunggu catur wulan. Namun, jika tiba di waktu ujian, umur biasanya ditambah-tambahin. Biar terlihat lebih natural secara administratif. Akibatnya, teman saya Santon, tanggal lahirnya lebih dulu dari tanggal pernikahan orang tuanya. Walhasil, kesalahan itu seperti memposisikan dia seakan lahir sebelum kedua orang tuanya menikah. Beruntung saya tidak bernasib sama. 

Para siswa di Madrasah Ibtidaiyah ini susah kalau berbahasa Indonesia dengan baik.  Kami di di Madrasah lebih banyak menggunkan bahasa Gorontalo. Saat studi di Madrsah ini saya memang tidak tahu berbahasa Indonesia. Padahal umur sudah sembilan tahun. Melihat kondisi ini, kedua orang tua saya mulai khawatir.

Keputusan kedua orang tua akhirnya mencapai final. Saya harus dipindahkan. Katanya demi menyelamatkan nasib saya. Orang tua sering mengatakan " Dila motota momolayu tali wanu odiye!" Artinya, saya bakal tidak paham soal bahasa melayu nanti kalau terus melanjutkan studi di madrsah itu. Maksud dari melayu yang disebut orang tua adalah  bahasa Indonesia. 

Pindah sekolah adalah pilihan yang tidak bisa ditolak. Orang tua merantau ke kotaan dan menetap di pesisir kota Tilamuta. Belum lama tinggal di Tilamuta, nyatanya orang tua harus pergi jauh ke Sulawesi Tengah. Nasib saya ternyata harus ditinggal sendirian. Saya dititipkan di rumah tetangga. Kacau emang sih. Masa sih umuran saya harus hidup jauh dari orang tua. Tapi semua harus dijalani. Waktu akhirnya mampu mendidik saya lebih dewasa.  

Ongkos hidup gimana? nah ini yang jadi masalah. Ketika itu, orang mengirimi bekal dari Sulawesi Tengah itu hanya dalam bentuk beras. Uang saku ngak punya. Pengen sakali jajan, tapi ngak punya uang. Ya nasib, anak ditinggal pergi orang tua. Padahal, inginnya sih seperti anak-anak lainnya. Duduk di kantin sambil ngobrol, cerita sana sini dan makan makanan enak. "Sudahlah apa boleh buat!" gerutu saja waktu itu.

Tak mau berkeluh kesah, saya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan. Waktu itu saya melamar bekerja di sebuah warung makan milik orang Jawa. Saya melihat, mas penjual makanan kewalahan melayani pelanggan, piringnya bertumpuk dan  berserakan. Saya datang menghampiri dan menawarkan diri untuk membantu. Walhasil, pemilik warung itu mengajak saya bekerja sebagai tukang cuci piring. Upahnya ketika itu masih 7 ribu rupiah, tahun 2006. Bagi saya upah itu sudah lebih dari cukup.  Pekerjaan ini saya geluti hingga saya tamat Sekolah Dasar.

Episode perjuangan untuk chapter pertama selesai. Saya lulus dari sekolah dasar negeri Pentadu Barat. Mendengar kelulusan saya, datanglah sang ibu untuk menjemput. Ibu membujuk biar ikutan ke Sulawesi Tengah. Katanya di sana bagus, sekolahnya maju dan moderen. Saya putuskan ikut. Berharap semua akan baik-baik saja kalau dekat dengan orang tua. 

Beberapa bulan di sana, orang tua saya malah bangkrut. Seluruh aset usaha dijual untuk kembali ke Gorontalo. Terus nasib saya gimana? Ya ditinggal lagi. Kali ini saya dititipkan kepada paman. Kebetulan paman masih bertahan di tanah peranatauan ini. Meski tinggal dengan paman bukan berarti gratis. Setiap pagi saya harus menujual ikan sebelum berangkat ke sekolah. Susahnya minta ampun. Pagi-pagi buta harus kesana kemari menjajakan ikan di sepeda kumbang.

Selang beberapa bulan kemudian, ternyata kesedihan saya tinggal di perantauan dirasakan ibu. Saya akhirnya di jemput untuk pulang ke Gorontalo. Awalnya saya menolak, mengingat nasib pendidikan saya yang tidak jelas arahnya. Tapi ayah sudah berjanji mau melanjutkan studi saya nanti di Gorontalo. Dengan berat hati saya putuskan untuk kembali ke Gorontalo.

Nasib ya nasib. Selalu saya menjadi misteri bagi kami orang miskin. Ekonomi keluarga saya hacur berantakan. Beberapa hari kami kadang tidak makan. Kondisi ini menyeret saya untuk menjadi pelaut. Ikut bersama Ayah, mencari sesuap nasi untuk keluarga. Tak ada jalan lain. Sebagai anak laki-laki yang tertua, saya harus bertanggungjawab dengan kelangsungan keluarga. Saya hanya yakin, bahwa kesuksesan hidup tidak mesti harus menempuh jalur pendidikan.Pilihannya hanya satu, putus sekolah dan jadi nelayan, sama seperti ayah. Usaha keluarga mulai membaik. Kebutuhan keluarga mulai terpenuhi. 

Entah mengapa, semangat belajar tetao bergelora meski status nelayan cilik telah disandang. Sepulang dari melaut, saya paling getol belajar di kamar. "Kan belajar bisa meski tak punya guru" begitu pikiran saya menghibur diri. Secara tidak sengaja, Ayah kemudian mendapati saya sedang asyik membaca buku-buku pelajaran. Melihat keinginan saya ini,  terketuklah hatinya.


"Masih muda nunu, nanti mendaftar di skolah lain. Biar tidak malu dengan teman-teman di SMP" Jelas Ayah. 

Saya menatap ekspresi ayah. Merah membara, matanya sedikit mengerut dan dari dua bola matanya, keluarlah titik bening yang sedari tai mengambang. Baru kali ini saya melihat ayah menangis. Saya hanya tertunduk malu dan pelan-pelan bergerak menyimpan buku-buku koleksi saya. Tiba-tiba, pelukan Ayah begitu erat menggenggam tubuh. Dengan suara  serak tak jelas dia berucap;

"Nak, besok pigi di pasar dengan ti mama. Bili baju skolah wua" Kata ayah dengan suara pelan bernada haru.

Betapa bahagianya saya mendengar pernyataan itu. Andai saya punya sayap, mungin saya sudah melayang-layang di angkasa. Ternyata niatan Ayah disambut berkah oleh yang maha kuasa. Saat bersamaan, saya mendapatkan tawaran beasiswa retrival, sebuah beasiswa khusus anak-anak putus sekolah. Segala biaya akan ditanggung; pakaian, sepatu, buku-buku hingga uang jajan. Asyiknya lagi, beasiswa ini berlaku sepanjang masa studi. Saya akhirnya di terima di Madrasah Tsanawiyah Tilamuta.  Semasa di Madrasah Tsanawiyah ini, Alhamdulillah saya bisa membuat jejak prestasi yang banyak. Alhasil, saya menjadi ketua OSIS MTs Negeri Tilamuta, sering mewakili sekolah di ajang pentas seni dan Olahraga tingkat Provinsi, lomba olimpiade matematika, bahkan kegiatan kepramukaan.

Prestasi itu kemudian berlanjut hingga Madrasah Aliyah Negeri Tilamuta. Saya kembali terpilih menjadi ketua OSIS. Dua tahun saya dibebaskan dari biaya sekolah karena amanah itu. Meskipun di tahun ketiga, sebelum lulus, saya pernah diusir di kelas gara tidak membayar tunggakan SPP dan di akhir studi saya harus menjadi kuli bangunan dengan upah 40ribu per hari. Semua ini saya lakukan untuk menyambung mimpi selanjutnya,  kuliah di universitas impian saya.

Pemikiran saya ketika sekolah juga sudah mulai terasah. Karena di sekolah sudah banyak organisasi kampus yang masuk. Mereka melakukan perekrutan jauh sebelum saya mengenal dunia kampus. Organisasi seperti HMI dan lembaga Dakwah kampus rutin memberikan kajian. Bahkan saya dikader menjadi anggota ikatan pemuda Muhamadiyah Kabupaten Boalemo 2008. Dan di tahun yang sama, saya  terpilih menjadi duta Boalemo di ajang Raimuna Nasional 2008, Cibubur Jakarta.

Petualangan chapterdua selesai. Jejak berikutnya adalah  perjuangan di Kampus Merah maron, Universitas Negeri Gorontalo. Nasib ternyata masih berpihak. Saat mendaftar di kampus ini sebagai mahasiswa berprestasi, dengan hadia kuliah gratis selama studi empat tahun. Ya! Saya lolos menjadi mahasiswa penerima Full schoolarship Putra Bidik Misi Anggkatan 2010.

Ternyata takdir Allah jauh lebih indah dari perkiraan kita manusia. Ada hal yang menurut manusia baik, tapi mungkin itu menurut Allah tidak baik untuk kita. Sehingga, kita harus tetap berprasangka baik kepadaNYA. Maha kuasa Allah dengan segala tahta dan kerajaanya. Saya begitu bersyukur dengan rejeki ini.

Terakhir pada tahun 2013, saya dipilih menjadi Ketua Forum Komunikasi Bidik Misi regional Sulawesi A. Hingga saya diberi kesempatan oleh Allah untuk jalan-jalan ke Padang, Sumatra Barat, berdiri di tanah bukit Tinggi, mengunjungi Museum Bung Hatta, menatap tingginya jam Gadang. Semua gratis, mupung perjalanan dinas kampus, ceritanya ikut dalam agenda Kongres Mahasiswa Bidik Misi.

Kini, di tahun 2014 ini, saya akan melakukan perjalanan mengelilingi Nusantara dengan Kapal Republik Indonesia ( KRI ) untuk kegiatan kepemudaan, Sail Raja Ampat yang ada di Papua Barat. Saya dan teman-teman peserta lainnya memulai perjalanan dari Jakarta-Makassar- Waisai-Sorong- Kupang-Bali - Jakarta lagi.

Kerjaan terakhir di tahun 2014 ini adalah menyelesaikan studi. Saya mengangkat penelitian tentang kajian sastra murni, dengan judul, " Women's Issues in Mona Lisa Smile". Alhamdulillah pembimbing skripsi saya baik semua. Cantik dan cerdas, Novi R Usu dan Ibunda Moon Otoluwa. Thanks you so much for driving me to finish my project proposal.

Sahabat Muda Indonesia!
Sekian tentang saya. Semoga catatan sederhana ini bisa memperkuat semangat kita dalam belajar. Wallahu A'lam Bissawab..!!

Catatan Pengalaman : 
* Ketua OSIS MTs N Tilamuta 2006
* Sekretaris OSIS MAN Tilamuta 2007-2008
* Ketua OSIS MAN Tilamuta 2008-2009
* Juara 1 Lomba Pidato bahasa Inggris  2010 Kab. Boalemo ( Porseni MA)
* Juara 4 Pidato Bahasa Inggris Tingkat prov. Gorontalo ( MA)
*  Peserta Englishville ULEC Makassar 2008
* Anggota Aliansi Jurnalis Independen Boalemo (AJIB) 2008
* Anggota Ikatan Pemuda Muhammadiyah 2008
* Pendiri  Boalemo Moslem Center ( Team Sebelas )
* LK1 HMI angkatan ke IX FIS 2012
* Wartawan Mediagorontalo.com 2013 ( Sekarang : www.infogorontalo.com) 
* Wartawan kampus UNG www.jambura-online.com
* English Teacher at Genius Course 2013
* Home Creative Design ( Percetakan Mahasiswa ) 
* Ketua Forum Lingkar Pena Cabang UNG 2014
* Ketua Kebijakan Publik KAMMI Komsat UNG 2014
* Peserta Duta bahasa 2012
* Peserta Duta Bahasa 2013
* Duta Bahari 2014 ( KPN Sail Raja Ampat) 
* Juara II Creative Design Kategori Poster oleh MITI Mahasiswa 2012
* Nominasi Mahasiswa Multi Talenta versi LDK UNG 2012
* Juara II Lomba Pidato Kandungan Alqur'an MTQ UNG 2012
* Ketua Kemadiksi UNG 2013
* Ketua Forum Komunikasi Bidik Misi Wilayah Sulutgo 2013-2014 
*  Peserta ESQ Nasional 2014 
* Publishing and Social Media Team of Korps Alumni Kapal Pemuda Nusantara 2014
* Relawan Kelas Inspirasi Siswa Gorontalo ( KISS Gorontalo )