Desember 18, 2013

3 Cara Mudah Menemukan Ide Menulis Berita Bagi Pemula


Pengen Nulis, tapi ngak punya ide?
Alasan klasik yang biasanya menjadi alasan pamungkas bagi jusrnalis ataupun wartawan pemula adalah sulitnya menemukan ide. Padahal, ide bisa ditemukan dimana saja, kapan saja, tanpa harus menunggu kejadian besar baru bisa melahirkan berita. Misalnya kebakaran, barulah kita bergerak untuk turun liputan. Lantas bagaimana jika tidak ada kebakaran, berarti kita nganggur dong? Nah Jika kita selalu menunngu kejadian, maka sampai kapan pun kita akan menjadi wartawan pasif yang mati karena kahilangan kreatifitas menulis.

Sebenarnya, ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar bisa menemukan ide berita yang ingin kita tulis. Misalnya pergi ke pasar, pergi ke sentral berkawan dengan sopir angkot, penjual es atau bahkan peminta-minta di jalanan. Dari situ kita bisa menemukan banyak ide berita. Selain itu kita juga bisa mempersempit berita nasional ke tingkatan lokal. Untuk lebih jelasnya mungkin teknik sederhana ini bisa diterapkan.

Teknik Menemukan ide dengan gaya  JJS ( Jalan-jalan Santai)

Teknik menulis yang satu ini saya warisi dari teman-teman sahabat Forum Lingkar Pena. Teknik menemukan ide menulis itu adalah jalan-jalan santai. Ketika jalan-jalan, maka kita akan disuguhkan banyak fakta dilapangan. Dari fakta itu akan terakumulasi menjadi fakta yang layak untuk disajikan dalam tulisan. 

Cara  ini sudah pernah diterapkan pula oleh penulis hebat seperti Gol A Gong. Sosok Penulis seperti Gol A Gong, ternyata banyak menemukan ide menulis dari setiap perjalananya. Dalam bukunya, “TE-WE” yang berarti Travel Writer, dia menjelaskan proses kreatifnya menemukan ide untuk ditulisnya. Mulai dari ketemu dengan satpam Malaysia yang menganggapnya remeh bahkan mengira dia seorang pengemis. Semua kejadian seperti itu, Ia tetap merekamnya dalam otak dan setelah itu, barulah dia menuangkannya dalam tulisan.
Hal ini juga pernah ia sampaikan dalam sebuah seminar kepenulisan di Universitas Negeri Gorontalo yang digagas oleh Forum Lingkar Pena. Gol A Gong. Penulis kreatif itu menyarankan menemukan data tulisan, keluarlah jalan-jalan. Dengan begitu, kita akan membawa pulang setumpuk ide untuk bisa diramu menjadi sebuah narasi yang nikmat dan tentunya bermanfaat bagi khalayak ramai.

“Kalau terkena penyakit, writer block, coba keluar dan temukan ide di jalanan” Terangnya saat memberikan materi pada agenda sehari menulis bersama Gol A gong, di ruang sidang Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo (2011).

Dari sini kita bisa memaham bahwa kebuntuan ide dalam menulis tidak hanya terjadi peada penulis pemula saja. Tetapi penulis senior pun sama. Hal yang membedakannya adalah mereka tahu cara mengatasi kebuntuan ide itu sedangkan kita hanya pasrah tau mau berusaha keluar dari kebuntuan ide itu.
Sebagai contoh berita dari hasil jalan-jalan, bayangkan kita sedang di sebuah pasar. Pengap, bau dan suara ribut penjual yang sahut-sahutan. Disana kita menemukan kejanggalan lain, seperti harga kebutuhan pokok naik.

Disinilah titik awal sebuah fakta akan terungkap. Kita akan bertanya-tanya, mengapa dan bagimana sehingga harga bahan pkok bisa naik. Inilah sikap skpetis wartawan yang harus muncul. Selalu bertanya-tanya dan mempertanyakan.

Mari kita coba memulai sebuah berita dengan mengacu pada konsep 5W+H
Apa yang mahal?
Dimana pasar itu?
Sejak kapan harga itu naik?
Mengapa dia mahal?
Bagimana tanggapan ahli/pemerintah/atau yang lainnya tentang hal ini?

Tahap penemuan ide dan pengumpulan data selesai sampai di sini. Kita sudah bisa menyusunnya dalam bentuk berita. Nah, kalau masih bingung dengan teknik merangkai bentuk berita, nanti akan saya bahas pada topik selanjutnya tentang kerangka sebuah berita yang menggoda pembaca.

Teknik Menemukan ide dengan gaya  ATM (Ambil Tangkap Modifikasi )
Dalam training managerial mahasiswa yang saya ikuti di palu pada tahun 2011, saya menemukan ide baru dalam menemukan ide menulis. Meskipu hal itu berbiacara tentang managemen, tapi hal itu ternyata bisa diterapkan dalam dunia kepenulisan, khususnya untuk menulis berita.

“Kita harus inovatif kalau tidak bisa kreatif. Kalau kreatif kita menciptakan hal yang belum ada, tapi kalau kita inovatif berarti kita memoles yang ada agar terlihat lebih menarik. Itulah yang saya namakan ATM, Ambil Tangkap Modifikasi” kata Adji Wicaksana, mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang ketika itu sebagai keynote speaker dalam agenda managerial organisasi yang diprakarsai oleh teman-teman Universitas Tadulako waktu itu.

Dalam menulis berita pun sama. Kita dituntut untuk inovatif kalau tidak bisa kreatif. Caranya sangat mudah. Kalau lagi malas keluar untuk mencari ide berita yang akan ditulis, buka aja Kompas.com, merdeka.com, detik.com atau tempo.co atau yang terbaru beritasatu.com. Dari situs berita ini kita bisa menemukan berita yang cocok untuk berita lokal yang kemudian bisa kita jadikan berita lokal. 

Misalnya saja di tingkat nasional, isu kematian Nelson Madela. Nah, berita hangat itu kita persempit di wilayah lokal. Kita minta pendapat para pakar sosiologi misalnya, apa dampak sosial yang bisa jadi pelajaran dari kematian sosok Nelson Mandela. Maka akan ada banyak persepsi akan hal ini. Disinilah kita akan menemukan data yang unik untuk disajikan. Memang beritanya sama, kedua-duanya bercerita tentang Nelson Mandela, tetapi dari sisi berita kita lebih unggul, sebab pembaca akan lebih dekat dengan sumber yang bercerita dalam berita. Jadi kita tidak masuk ke ranah plagiat dan ide berita kita pun megalir terus tanpa ada putusnya.

Hal yang sama juga dianjurkan oleh Suleman Bouty, Dosen bahasa Inggris, yang menjabat sebagai kepala Humas Universitas Negeri Goroontalo (2013).

 “Kamu liputannya di kampus saja, tidak usah kemana-mana. Supaya tidak capek-capek” tuturnya saat bercakap di dalam kantor jurusan bahasa Inggris.
“Lah pak, kalau di kampus saya mau liputan apa? Tidak ada yang menarik selain berita sambutan rektor membuka acara.” Kilah saya waktu itu.

“Kampus ini tempatnya orang-orang cerdas. Di kampus ini semua bidang keilmuan ada. Tinggal baca berita yang lagi hot di tingkat nasional, terus suruh komentari kepada dosen yang punya relasi keilmuannya, selesai. Kan itu bisa masuk berita kampus, iya kan”  Tanya dia meyakinkan saya.

Oleh sebab itu, untuk menjadi wartawan yang tidak pernah kehilangan ide menulis, kita tak hanya harus kreatif tetapi juga inovatif. Dengan demikian, kita akan menjadi wartawan yang kaya akan informasi.

Teknik Menemukan ide dengan gaya  Feedback ( Umpan balik )
Feedback adalah cara mudah juga untuk mendapatkan berita. Namun, cara ini tetap saja turun lapangan untuk menjemput balasan isu kita gulirkan. Berbeda dengan Berita ATM tadi. Kalau ATM kita mengangkat isu dari media berita nasional kemudian ditanggapi oleh orang lokal. Nah, untuk Berita feedback, kita sendiri yang menciptakan isu untuk ditanggapi.

Perihal isu yang diangkat jangan sampai mengada-ngada. Harus ada fakta dilapangan. Misalnya di Gorontalo marak hadirnya anak jalanan peminta-minta yang menggangu arus lalu lintas. Mintai aja komentar tentang tentang perilaku anak jalanan itu. Bisa ke Satuan Lalu lintas, karena berhubungan dengan ketertibaban lalu lintas, bisa juga ke dinas sosial. Siapa tahu, anak-anak itu jadi peminta-minta karena memang tidak punya keluarga. Maka harus ada solusi dari pemerintah terkait. Nah, tanggapan itulah yang kita kumpulkan untuk digoreng menjadi sebuah sajian berita.