Desember 27, 2013

Ayah, Bersabarlah Sampai Tiba Saat Bahagia itu



SAAT AKU pulang ke rumah, pertanyaan ayah selalu saja seputar pacar.  Mungkin pola fikir sang ayah masih diikat oleh zaman tahun 80-an. Dimana setiap remaja yang tengah berumur tujuh belas tahun sudah akan dinikahkan. Entah dengan jalan perjodohan atau dengan jalan pacaran. 

Apapun kondisi di zaman itu, tentu jauh berbeda dengan sekarang. Tapi, Ayah tetap saja ngotot untuk menikahkanku dengan alasan sudah tua.  Bahkan, tak segan dia menawari gadis dari garis keluarga yang bisa menjadi yang halal bagiku.Bukan karena aku tak mau menikah, tapi aku belum menyelesaikan studiku. Sarjana tinggal beberapa langkah lagi, kenapa harus buru-buru.

“So dapa cewe nunu?” kata ayah yang duduk di ruang tamu sambil mengepulkan asap yang keluar dari batangan putih yang menyebalkan itu.

“Insya Allah so Ada!” jawabku santai sambil mengeluarkan sepatu yang kukenakan dari kampus.
“Alhamdulillah kalau begitu. Baru mana itu cewek? Masa tidak pernah Papa dapa lia ba jalan sama-sama?” Wajahnya mengerut, bibirnya mulai menyerupai kua bilibidu. Nafasku terasa sesak. Lagi-lagi pertanyaan itu mengusik batin.

“Coba bawa di rumah, biar Papa tahu” seloroh bapak yang keasyikan bermain asap dari mulutnya.
Memang ada perasaan untuk mengajak gadis yang kuidamkan itu. Tapi, untuk apa? Dalam agenda apa? Itu setumpuk pertanyaan yang membuat mata ini melihat bumi seakan bergoyang. Lagian dia gadis yang tak pernah mau pacaran. Saking pertanyaan itu selalu diulang-ulang oleh sang ayah. Aku jadi makin biasa saja. Terasa itu adalah hal yang tak perlu dianggap serius. Toh hanya sebuah lelucon.

Suatu ketika, Aku berada di lokasi Kuliah Kerja Sibermas (KKS). Kebetulan sedang dalam masa pengabdian pada masyarakat selama dua bulan ke depan.  Program kerja pun baru akan dipaparkan besoknya.

Telpon berdering.
“Kakak, ti papa  sekarang di rumah sakit. Sudah tak bisa berbicara selam dua hari” Detak jantungku makin cepat. Aliran dara terasa berlarian. Mata mulai berkabut. “Ti kaka pulang kamari dulu, soalnya bo ti kaka turus yang dia pangge-pangge!” Turur adikku panik.

“Iya..iya..! kaka pulang besok pagi !” tegasku meyakinkannya.
“Iya, saya mo tunggu, ti mama juga sudah diperjalanan juga dari Bangga”
“Iya sudah, Assalamu Alaikum” Kututup pembicaraan.

Kutatap langit begitu menakutkan. Hitam dan sangar menguasai bumi. Sesekali cahaya putih memecah kegelapan. Lalu, kilatan dan gumpalan hitam itu mencair jatuh satu per satu ke bumi. Aku segera masuk ke rumah, posko tempat pengabdianku.

Sebelum mentari mengejar gelap, aku bergegas menyiapkan beberapa lembar pakian untuk kukenakan nanti. Si kuda jepang, cc100 Blade siap membawaku pergi.

Awan masih mesrah memeluk tanah. Kutarik pedal gas dengan cepat. Kurajai jalanan kosong pagi itu. Sepanjang perjalanan, aku terus berfikir kondisi ayah. Aku juga tak tahu persis penyakit yang dideritanya. Menurut keterangan adikku, ayah terjatuh tatkala hendak mau pergi melaut. Tepat jam dua malam, tubuh ayah tak bisa digerakan. Mata liar kesana kemari menyentuh wajah orang-orang di sekelilingnya.
Tak cukup tiga jam, aku tiba di rumah sakit  Tani dan Nelayan (RSTN) Boalemo. Aku menuju ruang perawatan umum.

Kutemui, Adikku duduk di bawah, melantai tepat di samping ranjang ayah yang sedang tertidur pulas di pembaringan. Aku segera mendekat, kutatap wajahnya yang pucat pasi.  Kuraih jemarinya, kugenggam. Ada kehangatan yang kutemui. Nafas Ayah tak karuan. Sekali menarik nafas, terasa adalah kenikmatan yang tak terkira.

“Papa, te Nunu minta maaf, so lama tidak jaga pulang hanya karena sibuk urusan kuliah” Hatiku makin koyak. Ada seberkas penyesalan yang mengumpal di batin ini. Andai Aku di sampinya, tentulah dia akan lebih menjaga kesehatannya. Ia kadang lupa makan disaat bekerja.  Ibu memang sudah mempersiapkan, hanya saja ayah keras kepala dan begitu mencintai apa yang dia kerjakan. Akibatnya, penyakit begitu mengincarnya.

Kepala ayah bergerak, matanya berlahan terbuka.
“Nunu, so pulang kamari” kata Ayah sesak. Aku hanya bisa menganggukan kepala. Aku bisa membaca perasaannya. Betapa dia merindukan kedatanganku.  Bertahun-tahun, aku meninggalkannya. Biasanya, setahun bisa dua kali aku menyempatkan waktu bersama keluarga. Aku terlalu sibuk dengan studiku hingga aku lupa kewajibanku sebagai anak.

“Somo kase nikah, mana calon istri, ti papa so tidak akan lama lagi. Jika te nunu tidak menikah dalam waktu dekat ini, ti papa somo meninggal. Serkang, cita-cita li papa yang tertinggi , cuma mo kase nikah pa ngana. Setelah itu, baru ti Papa mo meninggalkan dunia ini dengan tenang" ketus ayah melemah.

Aku hanya diam. Aku tak tahu bagaimana menuruti keinginan ayah. Sejak masuk kuliah, nyaris tak pernah memiliki pacar. Aku sibuk dengan urusan kuliah. Pernah menyangi seorang gadis. Tapi akhirnya harus kandas di tengah jalan hanya karena gadis itu merasa tidak diperhatikan seutuhnya. Akhirnya aku dan dia memutuskan untuk bubaran.


Sejak itu, aku fokus pada cita-citaku. Ternyata, pesan sang guru kepadaku dulu ada benarnya. “Jika tak ingin terjerat dalam godaan wanita, silahkan menyibukkan diri. Dengan demikian engkau akan mampu melupakan godaan tersebut” Ujar Ustadku, ketika masih Aliyah kelas sebelas dulu.

Hingga gelap merebahkan jubahnya, aku tak mampu berucap meyakinkan ayah bahwa aku akan siap menikah dengan siapa saja pilihannya. Beberapa hari kemudian, Ayah telah sehat dan mulai beraktivitas lagi. Namun, Ayah tak pernah menyinggung soal nikah lagi. Apakah dia marah? Aku juga tak tahu. Semoga saja tidak.

Gorontalo,   27 Desember 2013
Idrus Dama