Desember 31, 2013

Menjadi Ikhwan Tak Mesti Bersertifikat

Menjadi Ikhwan Tak Mesti Bersertifikat

Bismillah, semoga catatan ini bisa mengetuk kembali pintu kesedaran kita tentang esensi dari status ikhwan yang kita sandang. Ternyata, predikat ikhwan nih sudah membuat kita jauh dari orang lain yang belum berstatus sebagai ikhwan tulen dari sudut pandang kita.

Biasanya, jenjang untuk meraih predikat Ikhwan nih  minimal  harus hafal satu juz Al-qur'an  atau setidaknya rajin sholat serta sedikit berjenggot. Dan yang bagian terakhir adalah sertifikat dari organisasi islam dimana ia bernaung, atau semacam pengakuan begitulah. Karena ikhwan pada hakikatnya bukanlah sebuah status yang mengarah kepada kodrat biologis; kita pria atau wanita. Tetapi, predikat ikhwan ini merujuk kepada gelar. Nah seyogyanya sebuah gelar, tentu harus ada pengakuan dari orang-orang di sekelingnya, ya paling tidak dari teman-temannya.

Saya pernah masuk di sebuah organisasi islam, kebetulan panggilan ikhwan ini adalah hal sakral. Biasanya ketika bertemu, pertanyaanya langsung, "Liqo sama siapa?" biasanya pertanyaan ini adalah upaya mengenal apakah lelaki yang berjabat tangan dengannya ikhwan atau tidak. Ya kalau ikhwan jawabnya, "Ana liqo sama ustad ini dan itu" misalnya. Tetapi kalu bukan ikhwan, pasti dia hanya diam. Otaknya bisa keliling mencari definisi liqo.

Sore itu saya bersama teman saya Ridwan (Samaran) menerima pesan singkat, yang inti pesannya adalah, seluruh kader tingkat dua wajid menghadiri pertemuan di jalan Duren ( Samaran). Kemudian pada akhir sms (Short Message Service), ada catatan kecil, maaf tidak dijarkom (Jaringan Komunikasi). 

menerima pesan itu, ya saya diam-diam saja. Berarti itu pesan rahasia. Tapi ko saya melihat teman saya udah siap-siap mau kesana juga. Tapi kan dia belum tingkat dua? 

"Antum mau kemana?" tanya saya
"Ana mua ke pertemuan A, Antum sendiri?"
"Ana juga mau kesana, sama-sama saja!" ajak saya merayu.
Kedatangam ikhwan ini bukan karena Jarkom, tapi Undangan langsung dari tetua organisasi. "Wah tamu spesial nih" gumam saya. Kami pun berangkat bersama. 

Bentor tua, jadi tumpangan kami berdua. Sepanjang perjalanan, kami bercanda. Kebetulan pria yang bersama saya ini adalah pendatang dari luar Gorontalo. Dia juga adalah angkatan kuliah saya juga. Namun, dia memilih bahasa Indonesia dan saya bahasa Inggris.

Matahari pun mulai bersembunyi di balik awan dan sedikit lagi mau pergi meninggalkan gelap. Saya dan Ridwan turun dari Bentor, dan kemudian  kami menuju rumah nan megah dengan cat nuansa ungu. Setibanya di sebuah tangga, keluarlah seorang ikhwan, wajahnya keheranan menatap kehadiran kami. Dia lalu berdiri tepat di tangga dan berucap.

"Antum ba apa di sini? ini khusus TK2, coba kalau tidak di SMS jangan datang!" ketusnya. Sementara kami yang telah berdiri di tangga rumah, akhirnya turun lagi.

"Maksudnya akh?" tanya saya penasaran.
"Ini pertemuan khusus, bukan untuk pemula" kata dia bangga.

Saya berpikir, ah mungkin dia hanya bercanda. Tapi, ternyata ikhwan ini tidak bercanda. Melihat keseriusannya ini, kami pun langsung balik kanan maju jalan. Memang ada perasaan malu. Tetapi, salahkah kami menghadiri pertemuan itu? lagian saya dapat sms. Ah pusing amat. Pulang aja, buang-buang waktu, kilah saya.

Sambil memikirkan kejadian beberapa menit itu, saya dan Ridwan memilih pulang dengan berjalan kaki. Alih-alih untuk berbicara sepanjang jalan. Biasanya, jalan sambil cerita tak terasa udah sampai. kadang juga meski jalannya panjang, tapi cerita kita malah lebih panjang.

Sampai akhirnya kami kecapean juga untuk berjalan. Kami putuskan untuk singgah di sebuah warung  gorengan. Sambil makan, cerita terus berlanjut. Sahabat saya, Ridwan akhirnya mau membuka lembaran kisah pilunya yang selalu dihujat oleh ikhwan yang barusan mengusir kami.

Suatu ketika, Ridwan sedang memberikan mentoring kepada mahasiswa baru. Atau semacam pengajian begitu kalu bahasa orang umum. Melihat hal ini, ikhwan A itu mengata-ngatai, "Ah, jeruk ko makan jeruk" dengan penafsiran, ko masih Tingkat satu, sudah mau membina tingkat satu. apa jadinya" cemo'oh lelaki itu.

Lebih lanjut Ridwan berkisah, sejak itu Ridwan merasa dintai terus. Seakan dirinya adalah penghalang dan tandingan baru bagi ikhwan A tadi. Dia merasa, organisasi yang ingin digelutinya ini, menganggap  bahwa dia adalah ancaman bagi pergerakan da'wah. Ya mungkin Ikhwan A ini, takut ada penyusup. Wajarlah jika curiga. Tapi kan kecurigaannya ngak boleh getol gitu dong. Sampai-sampai mengabaikan perasan orang, kasihan kan.Sampai dimulutnya seperti mau robek ngomel melulu.

Sampai akhir cerita, Ridwan tidak mampu berkata-kata lagi. Dia serahkan semua kepada sang penguasa hati, Allah SWT. Kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan setelah selesai makan beberapa gorengan.

Tibalah kami di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Magrib. Aku menjadikannya sebagai Imam waktu itu. Suaranya bagus, bacaannya juga fasih. Saya yang dibelakangnya terbawa haru. Air mata saya jatuh tak tertahankan.

Usai menunaikan sholat, saya langsung memeluk dia. Saya membisikan kepadanya, "Akhi, Antum bukan hanya teman bagi Ana. Tapi juga saudara. tak perlu hiraukan apa kata mereka. Antum pasti jauh lebih hebat dari apa yang mereka bayangkan" kata saya memotivasi dan menghibur dia agar tidak berkecil hati.

Ridwan akhirnya memilih jalannya sendiri. dia berjuang dalam organisasi apa saja yang butuh tenaganya. Tak perlu menunggu lama, dia sukses menggaet hati para penguasa kampus. Bahkan, organisasi yang dulu menolak dirinya, kini berbalik arah mengacungi jempol atas kehebatannya. Bayangkan, hanya dengan sms-an, dia mampu mencairkan dana kegiatan di kampus. Dia berhasil menjadi orang kepercayaan penguasa kampus. Sehingga untuk masalah dana kegiatan, selalu saja mulus. 


Disamping itu, dia tidak memilih organisasi mana yang membutuhkan bantuannya. Jika butuh bantuan, tanpa basa-basi, dia langsung kerja dan memberikan kontribusi. Sungguh luar biasa!. Sayangnya, dia kenal oleh masyarakat kampus, aktivis dawah. Tapi nyatanya, organisasi islamfavoritnya tidak menerimanya.

Sungguh kerugian besar bagi da'wah melepas busur-busur tajam dimanfaatkan organisasi lain. Hanya karena soal jenjang aktivis da'wah banyak akhirnya busur-busur dawah harus digunakan oleh kaum sekuler.

Lalu apa yang salah?

Apakah organisasi yang salah karena telah menolaknya? atau orang-orang yang disebut ikhwan itu yang mesti dinasehati? mungkin orangnya ya. Karena tidak semua perkataan aktivis sebuah organisasi itu mewakili fikroh organisasinya. Jadi, kesalahan sesorang kepada yang lainnya, tidak mesti membuatnya pergi meninggalkan organisasi yang dicintainya.

Bro and Sis yang dirahmati Allah sebelum diakhri
Ada beberapa pesan hikmah kejadian ini adalah;

- Jangan suka menilai seorang aktivis da'wah dari jenjang kaderisasi. Bisa jadi, dia yang hanya pemula tapi hatinya lebih tulus dan berjuang di jalan Allah ketimbang sudah senior tapi akhlaknya nol

- Jangan suka menilai orang dari kacamata senioritas. Bisa jadi, senior malah lebih bobrok pemikirannya ketimbang yunior

- Jangan tampil sok Sholeh diantara saudara yang lain. Karena bisa jadi itu akan membawa kita pada kehancuran diri sendiri.

Ingatlah, sebuah predikat ikhwan itu memang mahal. Tetapi tidak mesti punya sertifikat yang resmi layaknya sertifikat halal yang dikeluarkan MUI. Jadi, anggaplah lelaki sholah itu sebagai ikhwan meski tidak punya sertifikat bahkan SK (Surat keputusan) dari organisasi. 

Karena sungguh, predikat terbaik hanyalah milik Allah. Dialah yang menganggat derajat manusia sesuai derajat keilmuannya. Semoga kita akan senantiasa sadar, betapa mereka yang kita cemo'oh sebagai lelaki biasa bisa menjadi tombak-tombak islam di masa yang akan datang. Amin.

Wallahu Mustaan. Wassalamu Alaikum.
catatan pribadi di : www.cahayapena.com
Silahkan share jika ini bermanfaat buat saudara yang lainnya...
 
:::Cahayapena  Klik Download App ANDROID