Desember 09, 2013

Surat Cinta Untuk LHI

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam cinta untukmu yang disana wahai Qiyadahku.

Walau hanya dalam layar kaca dan beranda monitor laptop, saya selalu menyaksikan engkau diobok-obok dengan kejam di meja keadilan. Hati ini koyak saat engkau berjuang untuk mengembalikan senyum islam di mata Indonesia, tapi nyatanya kau dibantai diperadilan dengan cara "keji".

 Saya bukanlah golongan fanatik untuk membela, saya hanya sosok yang selalu menuntut keadilan itu bisa ditegakkan dengan seadil-adilnya. Saya sudah tahu bahwa kasus yang melilit engkau tidak ada bukti yang bisa dijadikan penggugat untuk memasukanmu ke dalam penjara. Saya juga sudah membaca pledoi tentang kasusmu yang intinya, KPK tidak mampu membutktikan bahwa LHI menerika suap. Kalau pun dihajar dengan tindak Pidana Pencucian uang, engkau bukanlah pelaksana negara. Lalu hukum apa yang akan mereka pakai untuk menghajarmu?

Dari sini saya percaya, engkau dijadikan korban oleh lawan politik. Sekali-kali tidak, saya bukan hendak melakukan justifikasi keluar kasus ini. Tapi bukti dan kondisi saat ini mendukung hal itu. Seperti misalnya engkau diputuskan di saat hari anti korupsi. Apa maksudnya? Yang secara emosional tentu akan mempengaruhi putusan keadilan nantinya. Para hakim akan merasa was-was kalau membebaskanmu. Sebab, meraka juga takut kepada media, apalagi pada mereka  "Binatang" liar yang ada di KPK.

Jujur memang, saya merasakan sakit atas ketidakadilan hari ini. Saya melihat  ada upaya mengubur kebenaran itu di buka bumi. Konspirasi yang dikatakan oleh Anis Matta benar adanya. Dan mereka pun sukses mengeksekusi hal itu. Sekarang mereka bahagia melihat matinya rasa kebanggan terhadap partai islam. Ya memang itulah yang meraka mau.

Sebenranya ini bukan kesalahanmu. Tapi memang itu resiko engkau menitipkan mentri kader sucimu di kementrian pertanian. Apakah engkau tahu, mentrimu itu  keras kepala, dia menolak diajak korupsi oleh Indoguna. Ia berani menolak penawaran penmabhan kuota impor daging. Akibatnya, mereka hancurkan partaimu. Jadi begilah kisah yang meraka buat untukmu.

Bahkan tak sadar, semua mentri yang kau titipkan dianiyaya secara sadar. Masikah engkau ingat penyadapan Australia? Lalu siap yang disalahkan dalam hal ini? Ya tentu mentrimu juga, Si Ustad Tifatul Sembiring. Hanya saja, kasus yang menguap begitu cepat adalah impor daging sapi, walau sebenaranya tidak ada kaitannya dengan PKS.

Tapi itulah kenyataanya. Uang mampu membolak-balikan fakta. Saya tidak mengatakan di meja hakim hari ini itu ada sejuta keping rupian menunggu. Bukan tidak mungkin di momen politik seperti ini semuanya menjadi halal dan sah-sah saja. Tapi percayalah, suatu saat itu akan tersingkap juga.

Ustad, kami disini, di tanah sulawesi percaya bahwa ini adalah isyarat dari Allah kita PKS akan segera memimpin Indonesia. Percayalah, toh Muhammad SAW memperjuangkan Islam dilempari kotoran hewan, bahkan dilempari batu hingga berdarah-darah. Bahkan seorang Nelson Mandela saja harus masuk penjara dulu kemudian menjadi Presiden. Bisa jadi, apa yang terjadi hari ini,  adalah skenario film dari sang maha kuasa untuk menjadikanmu pemimpin di negeri ini. Amin…

Andai Saya bisa hadir di saat keputusan pengadilan itu. Maka saya akan menyampaikan kepada dua tokoh sentral di balik kasus ini. Pertama kepada para dewan hakim dan kedua kepada si Abraham Samad.

Untuk Hakim :

"Putuskan kebenaran itu seadil-adilnya, sebab suatu saat kau akan dapat giliran diadili"

Untuk si Abraham Samad :
"Tersenyumlah kau di tengah penderitaan orang. Engkau tak menyadari ada ratusan ribu do'a kader PKS yang terdzolimi di seluruh Indonesia mendo'akan engkau untuk mendapatkan balasan yang setimpal dari yang maha kuasa atas kesewenangamu"

Terakhir, sebelum surat ini diakhiri, saya ingin sampaikan kepada engkau.

 “Apapun putusannya, kami akan tetap mencintaimu"

Tetaplah tegar dan tersenyumlah. Allah akan menyertai perjuangan kita.


Gorontalo, 9 Desember 2013

Idrus Dama Gorontalo