Februari 11, 2014

Valentine’s Day, Ekspresi Cinta Yang Gagal


Hari Valentine

DALAM mengekspresikan cinta, banyak cara yang bisa dilakukan. Ada yang melakukannya dengan membuat kaos couple biar kemana-mena bisa dideteksi oleh orang, “Oh kren pasangan serasi” decak manusia yang melirik. Ada juga yang mengekspresikannya dengan menulis surat yang super “lebay” dengan kata-kata romantis, puitis padahal najis. Bahkan, ada yang rela menghabiskan uangnya untuk membelikan sesuatu yang disukai oleh sang pujaan hati. Meskipun sebenarnya, uang itu masih minta pada orang tua. Tapi, nggak apa-apa! Yang penting bisa dilihat “gagah” di hadapan kekasih.

Ekspresi cinta
seperti itu saya kira wajar aja. Namanya juga cinta. Jangankan materi, nyawa pun berani dipertaruhkan. Semacam film Titanic begitulah, pengenya jadi super hero bagi sang kekasih. Apa-apa, selalu pacarnya is the number one.  Nggak ada yang lain lain. It’s okay, namanya juga cinta.

Dari cara  remaja mengekspresikan cinta, saya tertarik dengan sebuah perayaan cinta yang mombastik plus fantastik. Apa itu? Humz… pasti sudah tahu dengan makhluk yang bernama, “Valentine’s Day” Ya! Sebuah hari yang dinobatkan sebagai hari cinta suci nan abadi.

Dari kisah yang saya baca, Valentine’s day  itu adalah kisah cinta para pemuda yang dilarang menikah oleh Raja Romawi.  Lalu, si lelaki yang berama valentino tuh ngotot menikahkan pemuda tersebut. Walhasil,  raja Romawi Ngambek nih ceritanya. Karena kesal, si lelaki dijatuhi hukuman mati  dengan digantung. Akhirnya, si lelaki  Mampus. Lalu, oleh dunia, tragedi ini dikisahkan dengan indah. Yang intinya hari ini menekankan bahwa cinta itu butuh pengorbaban.Si Valentino itu tuh yang dikorbankan demi cinta para pemuda.

Uniknya, remaja masa kini banyak yang ngak paham itu esensi dari valentine’s Day. Yang ada dalam pikiran remaja, kalau hari Valentine itu beli coklat, kasih kartu ucapan cinta kepada sang kekasih, ngajak dia membuktikan cinta dengan Making love-lah dan hal lainnya yang menggambarkan pengorbanan layaknya valentino, si lelaki yang dikorbankan karena cinta.

Nah, karena di dalam kisah si Valentino yang jadi korban, sekarang para lelaki nih, malah minta balas atas pengorbanannya di masa lalu. Perempuan di minta untuk mengorbankan sesuatu bukti cintanya. Terserah dalam bentuk apa. Atau yang lebih ektrim lagi, buka perawanlah istilah krennya. Kalau, tidak seperti itu, katanya nggak benar-benar cinta. Waw, masah sih? Harus gituh ya? Humz…

Kalau pacarnya (si perempuan) ngak mau berkorban, langsung dicerca oleh lelaki, “Ah kamu ngak sayang kan sama aku. Buktinya, ngak berani untuk melakukan ini dan itu…” ngek lebay deh. Padahal, itu alasan doang untuk menodai mahkota kesucian kalian para wanita. Makanya, kalau ada yang sok romantis di] valentine’s Day, pasti tuh ada maunya. Kalian wanita patut  waspadalah untuk hal ini.

Wanita tuh harus tegas kalau masalah cinta. Katakan tuh pada pacarnya, “Eh cowok, kalau cinta, kita nikah aja. Setelah itu kamu bisa puas melakukan apa aja yang menurutmu itu cinta”. Pasti para lelaki tuh mikir, “waduh, kok si gadis jadi ngambek sih. Gue makan aja masih numpang sama orang tua, apalagi nikah”.  Makanya jangan sok tahu arti cinta. Dasar, sembarangan minta pengorbanan ini dan itu. Emang menurut lhoe(Para lelaki), cinta itu harus sex on the bad? Benarkah? Oh no! It’s mean that you are Goblok thinker.

Dalam mendekteksi si Goblok thinker di Hari valentine’s Days itu mudah. Biasanya dia selalu berkata yang sok romantis. Padahal, di hari-hari biasa nggak seperti itu aslinya. Tiba-tiba ngak ada hujan, ngak ada badai, langsung baik di hadapan pacarnya. Atau paling tidak menjelang hari valentine’s Day sering menyapa;

 “Sayang, Gie ngapain?” udah makan belum?” wah dasar buaya darat. Parahnya lagi, perempuannya terjebak dan langsung balas.

 “Belum sayang, kamu gimana? Makan bareng yuk!”
ajak peremuan yang genitnya luarbidahsyat. Akhirnya, karena nggak punya modal, lelakinya menghadap sama ibunya.

“Ibunda sayang, pengen beli ini dan itu, kira-kira uang jajan besok, bisa diminta sekarang? "Rayu sang anak itu dengan manja. Melihat wajah anaknya yang menyedihkan itu, ibu langsung terpikat.

“Iya boleh, asal disimpan ya sisahnya buat  jajan besok” kata ibu menasehat.
“Oh iya. Boleh-boleh”
katanya bahagia.

Jadi deh rencana makan sama si gadis impian. Pengennya makan di warung mewah, tapi modal goceng. Lantas di beri kata-kata romantis lagi kepada sang pacar.

“Sayang, kita makan di warung sederhana ya? Biar kita bisa belajar arti cinta itu memang sederhana. Nanti, lain waktu aku ajak kamu makan di Mall. Okay?” rayu sang lelaki.

“Iya sayang, biar sederhana, tapi cintamu begitu sempurna” waw terbayanglah gelembung love-nya yang langsung berhamburan tuh dalam imajinasi keduanya.

Setelah asyik-asyik makan ria, nah mulai deh kata romantis berikutnya berhamburan. Seperti lawaknya Samsul Arifin tempola kala menulis statusnya di beranda Facebook.

“Sayang, kamu tahu nggak bedanya kamu sama pohon”
“Nggak tahu!”
“Kalau pohon, itu tumbuh di tanah. Kalau dirimu, itu tumbuh di hatiku”

Alangkah lucunya kalau cinta sudah seperti ini. Romantis sih romantis. Tapi jangan lebay olo deh. Karena, kesanya cinta nggak asyik lagi di mata kita. Bisa jadi, cinta ini hanya akan menjadi lelucon saja.

Setelah acara makan-makan usai, mulai nih permintaannya macam-macam. Minta kiss di jidat-lah. Walapun  pun nggak mandi, pacarnya langsung muji.

“Kamu wangi banget sayang.” Dalam hati si perempuan, “Benarkah, padahal aku belum mandi” hahaha..! Dasar lelaki ya, sukanya muji nggak jelas atuh.

Episode terakhir dari romantisnya mereka adalah Making love. Nah, intinya yang ini. Yang lain itu hanya pendahuluan. Bab yang paling urjen nih soal sex. Meminta hal lainnya yang harusnya tidak diberikan sebelum akad. Katanya, kalau cinta sexs adalah syarat pertama. Kalau nggak mau, langsung deh mutusin pacarnya. Demi cinta, ya terpaksa mahkota satu-satunya diberikan secara free alias gratis seperti wi-fe di kampusku. Walhasil, hamil di luar nikah. Si lelaki mulai deh menghilang. Sms nggak pernah lagi. Di telpon nggak di angkat. Yang menderita siapa? Ya perempuanya dong. Kasihan kan?

Dalam ekspresi cinta, jangan sampai kita mengorbankan salah satu. Benar cinta butuh pengorbanan. Tapi, harus nikah dulu. Karena cinta harus halal baru diuji kekutan cintanya. Kalau belum nikah, jangan coba-coba. Itu hanya nafsu kawan. Sekarang, terserah kamu aja ya. Saya nggak mau membatasi hak kalian. Saya hanya mengingatkan saja. Sebab, saya merasa prihatin atas masa depan kalian. Ya, itulah cara saya mencintai kalian wahai generasi emas Indonesia. Saya berdo’a semoga kalian tidak jatuh ke ranah ekspresi cinta yang gagal ini. Semoga bermanfaat ya… Wassalam.