Februari 14, 2014

Karakter Dari Secangkir Kopi


SEBAHAGIAN orang sering kali mengeluh ketika tertimpa musibah atau cobaan dalam hidup. Padahal, dengan itu, kita menjadi lebih tangguh. Rasa mengeluh ini disebabkan diri kita yang tak pandai memaknai segala hikmah di setiap musibah yang diberikan Allah. 

Setiap musibah, pasti ada pelajaran yang bisa dipetik. Hanya saja, tidak semua diantara kita yang mampu melihat hikmah tersebut. Bagi yang menemukannya, pasti akan bersyukur jika ditimpa musibah. Sementara orang yang tidak pandai memaknai hikmah, pasti akan menggerutu terus menerus. Sikapnya akan cenderung berkeluh kesah dan menyalahkan orang lain. Bahkan, tak segan menuduh Allah itu tak adil. 


Musibah adalah tantangan hidup. Allah mengirimkan itu bukan semata-mata untuk menghancurkan ummatnya. Tetapi untuk menguji kualitas pribadi setiap ummat, Apakah dia layak menyandang pribadi yang tangguh atau pribadi keceng-keceng. Bagi kita yang lolos melewati musibah ini,hampir bisa dipastikan akan pribadi hebat. Dan orang yang gagal melewatinya, pasti hidupnya akan berakhir dengan bertumpuk penyesalan.

Musibah adalah ujian agar kita bisa meraih predikat akhsanul Ummah, Ummat terbaik. Allah mengirimkan musibah karena IA tahu itulah yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan mengeluh ketika musibah itu datang menyapa. Kita hanya perlu yakin, bahwa Allah tidak menguji suatu kaum di ambang batas kemampuan hambanya. 

"Layuqallifulahu nafsan Illa wus'aha"
Artinya : Allah tidak menguji suatu kaum melebihi batas kemampuannya

Jadi mulai saatini, katakan tidak pada perasaan mengeluh. Ingat, bisa jadi apa yang kita keluhka itu adalah hal baik untuk kita. Dan boleh jadi, apa yang kita suka akan membawa malapetaka buat kita. Hal ini pernah diungkapkan dalam dalil; 

“Bisa jadi hal yang tidak kau sukai itu baik menurut Allah, dan bisa jadi apa yang menurutmu baik itu buruk di mata Allah”

Mungkin kita perlu belajar dari kisah sederhana dialog seorang anak dan ayah. Anak adalah pribadi yang sering mengeluh. Sementara ayah adalah pribadi yang bijak. Setiap kali musibah datang, sang ayah hanya tersenyum seakan tidak terbebani.


Melihat sikap ayahnya, sang anak semakin bingung. Lalu dengan suara lemah lembut penuh kepolosan, dia bertanya kepada sang ayah.

“Ayah, mengapa Ayah selalu tersenyum di setiap musibah? Bukankah musibah itu menyakitkan?" tanya anak mengernyitkan dahi.

Sang ayah kemudian meletakkan sebuah bak yang sedang dalam pegangannya. Lalu, dirangkulnya tangan sang anak. Dikecupmya kening sang anak. Lalu sang anak diboyongnya ke dapur. Setibanya di dapur, Sang ayah mengambil tiga hal dan diletakkanya di atas meja; wortel, telur dan kopi. 


Melihat tingkah ayah, sang anak makin penasaran. Ia memperhatikan setiap detail apa yang  sedang dilakukan ayahnya. Ia melihat Ayahnya memanaskan air. Sambil menungguh air mendidih, ayahnya lalu mempersiapkan wortel, telur dan serbuk kopi.

Beberapa menit kemudian, semua terlihat telah matang. Sang ayah memasukkan wortel, telur dan serbuk kopi tadi dalam air panas. Lantas, setelah semuanya siap, ia sajikan di atas meja. Tampaklah Wortel telah masak, telur yang siap di santap, dan kopi tersedia untuk dinikmati.

“Anakkku, pahamilah bahwa semua bahan yang ada di hadapanmu ini diproses dengan cara yang sama, yakni air panas. Tapi, mengapa hasilnya berbeda? Itulah jawaban atas pertanyaanmu kepada ayah” 


Sang anak belum paham. Suasana terasa bisu. Keduanya saling menatap.

“Anakku, Wortel yang tadinya keras dan sulit dipatahkan saat mentah, ternyata setelah dimasak menjadi lemah dan lunak. Begitu juga dirimu. Kalau engakau adalah pribadi yang kuat, lalu setelah ditimpa musibah menjadi lemah, maka engaku sama dengan wortel ini.  Tentu ayah tidak ingin engkau seperti ini.

Anakku, Ayah juga tidak ingin engkau seperti telur. Terlihat keras, tapi sungguh didalamnya adalah lemah. Setelah melewati proses perebusan memang telur terlihat mengeras. Tapi, di dalamnya dia lemah. Ayah ingin kau benar-benar tangguh baik secara fisik mau rohani.

Anakku, ayah ingin engkau seperti secangkir kopi. Iya awalnya adalah biji-biji yang keras. Lalu dia dihantam hingga hancur menjadi serbuk. Kemudian serbuk itu dikemas rapi. Lalu, setelah itu di jatuhkan di air panas. Tapi dia menikmati ujian berat itu. Sebab dia tahu, dengan seperti itu dia akan menjadi nikmat dikala menjadi secangkir kopi.


Serbuk kopi yang jatuh ke air panas, terus berusaha menguasai air itu. Walhasil, air berubah warna. Bahkan, diyakini bahwa semakin air itu panas, kopi semakin nikmat. Artinya, semakin seseorang dihantam ujian, maka semakin berkulalitas pula orang itu."

Mendengar penjelasan itu, sang anak memeluk erat ayahnya. Dia berjanji untuk tidak  mengeluh lagi dalam hidup. Dia berniat akan bekerja keras agar bisa menguasai dirinya, meski diperhadapkan pada saat-saat tersulit apapun. Mulai saat itu, tak ada kata mengeluh lagi berselimut di dalam jiwanya.

Kawan! Itulah pribadi yang tangguh. Tidak pernah mengeluh apalagi frustasi.  Semakin kita di tempa oleh hal-hal yang sulit, Insya Allah kita akan semakin kualitas. Keep spirit saudaraku. Semoga tulisan bermanfaat ya..!! Wassalam..!!