Februari 06, 2014

Surat Cinta Untuk Sang Bidadari

"Cinta tidak mencari pasangan yang sempurna tetapi cinta adalah mencintai pasangan dengan cara yang sempurna"

BEGITULAH nasehat sang murobbi tatkala duduk di lingkaran mentoring. Guru spritualku tak hanya membimbingku bagaimana menjadi sosok yang kokoh secara ibadah, tetapi dia juga menekankan aku harus kokoh secara mental dalam mengarungi episode kehidupan selanjutnya. Untuk itu, dalam surat cinta ini, saya tuliskan beberapa harapan secara pribadi demi cinta kita nanti.

Kepada Yth Bidadariku...

Meski aku tak pernah tahu siapa dirimu, tetapi melalui tulisan ini, aku ingin bercakap banyak denganmu. Aku ingin kau tahu, betapa hati ini telah lama menunggu kedatanganmu. Siapa dirimu, itu tidaklah penting bagiku. Asalkan dirimu siap dan tegar dikala bersanding dalam perjalanan panjang yang bernama "kehidupan". 

Kehidupan bukan hanya sekadar kita bangun tidur dan tidur lagi. Lebih dari itu. Ada banyak gelombang dan cobaan yang akan kia lewati. Sehingga, harapan pertama sebelum kita bersama, persipakanlah dirimu. Baik secara lahiriyah maupun batniyah. Dengan begitu, dirimu akan kokoh menjalani episode cinta yang akan kita rangai bersama. 

Tahukah engkau wahai bidadariku?
Allah menciptakanmu hanya untuk menemani perjalanku nanti menuju cinta yang hakiki, Allah Swt. Olehnya itu, aku berarap engkau hadir untuk mengkokhkan langkahku. Agar kelak, terjan dan bebatuan tajam bisa kulewati dengan sempurna. Maka hidupmu akan lebih bermakna ketimbang  datang ke dunia ini kalau hanya bersenang-senang dalam kebebasan. 

Betapapun kokohnya sebuah bangunan, kalau tak punya tiang penyanggah yang kuat, maka hampir dipastikan bangunan itu akan mudah tumbang. Begitu pula diriku. Meski sekuat apapun aku berusaha tampil, tapi sungguh aku akan mudah jatuh dan kalah kalau tanganmu tak bersedia merangkulku di saat jatuh terpental.

Wahai Bidadariku
Sebeum kita berpetualang tentang cinta nanti, maka belajarlah lebih dulu dari ibumu. Aku tahu, Ia  memiliki banyak pengalaman berharga dalam hal keluarga. Aku sangat berharap engkau bisa menimba ilmu kepadanya. 

Dia tahu banyak tentang bagaimana mendampingi suami agar bisa semangat. Dia tahu bagaimana melayani suami yang baik. Dia juga tahu bagaimana membesarkan anak keturunan dengan cara yang bijak. Semua ada pada diri ibumu. jadi, sebelum kita bersama, yakinkah pada diriku bahwa dirimu telah khatam dari mempelajari ssosok seorang ibu.

Wahai Bidadariku
Saat badai laut berhembus dan gelombang ganas menghantam, maka disitulah dirimu dituntut tegar dan siap melawan tantangan hidup. Untuk masalah ini, saya tidak perlu ragu lagi. Toh, dirimu telah ditempa tarbiyah. Pasti engkau bisa lebih siap mental dari apa yang ada di dalam pikiranku. bukan begitu?

Wahai Bidadariku
Alangkah bahagianya diriku, jika engkau adalah sosok yang telah paham agama. Tidak harus hafal qu'ran  seluruhnya. Tapi sedikitnya engkau tahu mengaji. Hal ini karena engkau akan menjadi madrasah bagi anak-anak kelak. Aku  tak ingin hanya karena engkau tidak bisa mengaji, lalu anak-anakku menjadi tidak bisa mengaji. Aku tak ingin itu terjadi.

Jauh sebelum kita bersatu dalam ikatan halal, belajarlah mengaji terlebih dahulu.  Hal ini tidak terlalu berat. Mungkin dua bulan kalau memang serius, pasti bisa kok. Sholeh tidaknya anak-anak kita nanti, itu akan bergantung kepadamu. Sebab, aku hanyalah pendidik kedua. Yang pertama menjadi guru untuk  mereka, itulah dirimu. Jadi, pastikan dirimu siap menjadi pendidik yang baik. Okay?

Wahai bidadariku
Berjanjilah kepadaku untuk menutup auratmu dengan berhijab. Hijabmu adalah hijabku juga. Tatkala engkau menjual auratmu di masyarakat, maka seperti itulah harga diriku sebagai suamimu nanti. Orang-orang akan menilaiku, "Ah suaminya gagal mendidikanya". Tidak, sekali lagi tidak. Aku tidak ingin hal itu terjadi. 

Jika engkau bukanlah tipikal hijaber, mungkin masih ada waktu. Berubalah dengan secara per lahan. Kenakan jilbab semampumu saja. Dan jika telah betah dengan jilbabmu itu, maka selanjutnya pilihlah jilbab yang syar'i. 

Kalau aku sih maunya engkau pakai jilbab segi tiga. Saya lebih memangdang dirimu berharga dibanding jilbab kecengan yang hanya membalut kepala kepanasan, juga tidak bisa menutup bagian aurat lainnya.

Wahai Bidadariku
Jadilah wanita yang hidup penuh kesabaran dan ketabahan. Ingat dan bacalah kembali bagaimana khadijah menemani rasulullah SAW dalam kehidupannya yang miskin. Sampai-sampai, khadijah tidak memiliki apa lagi untuk dia sumbangkan di jalan Allah yang dirintis oleh suaminya Muhammad. Aku pun sama. Aku tidak memiliki harta yang melipah. Ini penting untuk aku sampaikan, sebab aku tak ingin engkau menyesal di kemudian hari. 

Kalau memang hidupmu berorientasi pada harta dan kemewahan dunia lainnya, maka aku bukanlah orang yang tepat. Tetapi jika dirimu mengharapkan kebahagian, maka akulah orangnya. Bukan berarti aku merasa sombong dan takabur. Tapi memang, aku memili tanggung jawab bagimana engkau bisa tersenyum bahagia.

Wahai bidadariku
Mungkin terlalu banyak syarat yang kuminta. Sekali lagi maaf ya. Jangan berkecil hati. Itu hanyalah sebuah prinsip seorang lelaki yang tidak ingin keluarganya berantakan hanya karena ketidaksiapan sang istri. Aku melakukan ini bukan untuk membuat kita menjadi lebih sulit untuk bersama. Tapi, semua yang saku harapkan di atas adalah modal kita untuk bersama. Jika kita sudah siap dengan hal ini, maka tunggulah aku akan menjemput dalam ikatan suci.

Wahai bidadariku
Cukuplah celoteh calon suaminmu ini. Semoga kita akan segera bertemu. Aku sudah lama merindukanmu. Tapi engkau selalu saja bersembunyi. Atau memang aku tak tahu siapa dirimu. Tapi, okelah, aku hanya menunggu kapan Allah akan mempertemukan kita. Semoga engkau membaca tulisan ini. Salam kangen buat kamu yang berada di sana...

Catatan dalam Keheningan
Idrus Dama