Mei 31, 2014

Jembatan Soeharto Boalemo, Simbol Kemiskinan Rakyatnya

 Dok. Pribadi: Susan Warga Pentadu Barat

"Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang tak ingin rakytanya mati karena kelaparan dimana dia saat itu sedang dalam kursi kekuasaan"

Memasuki Kota Tilamuta, pasti akan ketemu dengan Jembatan Raksasa nan megah.  Berdiri kokoh menjulang tinggi dengan bentuk segitiga. Pada bagian tengahnya menggantung sebuah logo besar Kabupaten Idaman. Setiap yang datang, pasti terkagum-kagum bangga melihat jembatan itu. 

Tapi kebanggaan itu tidak untuk Susan, Warga Pentadu Barat yang hidup  kini tinggal di tanggul Air dengan rumah ukuran 2 x 3 meter. Dindingnnya dari Bambu. Kalau hujan datang mereka basah, jika lagi panas mereka kepanasan. Itulah sekilas yang saya temukan sisi kehidupan di Boalemo. Banyak orang hanya bertepuk tangan soal Jembatan Soeharto yang menelan biaya 15 miliar. Padahal, di daerah itu masih banyak yang tinggal di rumah tidak layak, termasuk Susanti.

Menurut keterangan yang saya peroleh, susan sudah didata untuk mendapatkan bantuan. Rumah sudah difoto dan dijadikan banner besar di kantor desa. Tapi sayang, dua tahun berlalu tidak ada realisasi atas program itu. 

"Sudah didata, tapi tidak pernah ada!" tutur wanita beranak satu itu. 


Jembatan Soehato Gorontalo
Jika dilihat dari segi kebutuhan, ada dan tidak ada jembatan Soeharto tidak berpengaruh terhadap kehidupan rakyat. Jika alasan pembangunannya adalah upaya untuk memperlancar arus lalu lintas,  Saya kira Jembatan Trans Sulawesi, yang jaraknya seratus meter dari Jembetan ini masih kokoh menampung ratusan ton yang lalu lalang. Lalu apa tujuan membangun jembatan yang memakan biaya mahal itu? Tanya sendiri kepada "Yang membangun"

Orang-orang yang pro pemerintahan berargumen bahwa itu dana bantuan di luar APBN. Jadi, tidak ada yang dirugikan. Itu bukan uang rakyat. Jadi jangan terlalu mempermasalahkan. Padahal, setelah ditelusri jembatan itu menyedot APBN 15 miliar. Sungguh sangat menyedihkan. Dari kebijakan ini, semakin jelas bahwa pemerintah lebih sibuk mengurusi landmark  sebagai simbol kepemimpinan dari pada kebutuhan rakyatnya. Mengapa otak pemerintah lebih lincah mencari dana untuk jembatan ketimbang rumah layak huni untuk mereka yang tinggal di tanggul?

Saya tidak membeda-bedakan Alm. Iwan Bokings dengan pemimpin saat ini. Iwan Bokings membangun Kota raja, dulupi dengan bantuan rumah layak huni. Hampir sekampung rakyat dapat rumah gratis itu. Sehingga, bagi mereka yang tidak memiliki rumah, kini sudah bisa berteduh dengan nyaman. Wajar, Alm. Iwan Boking dinobatkan panglima "Rakyat Miskin". 

Kalau saya tidak berlebihan, Iwan setidaknya satu tokoh pemimpin yang islamis dan punya Jiwa sosial yang tinggi. Para ulama dan Kiyai sering dimintai pendapat jika memutuskan suatu kebijakan. Karena beliau paham, kelak kepemiminannya akan dimintai pertanggungjawaban. Lalu bagaimana dengan saat ini? 

Bukan berarti warga Boalemo tidak boleh bangga dengan Jembatan Soehartonya. Tapi, harus evaluasi dulu. Apakah, jembatan ini adalah simbol kejayaan? atau malah sebagai penanda kemiskinan yang mereja lelah.  

Jika Susan adalah warga ibu kota Boalemo yang terlupakan. Kita memotret sejenak Paguyaman Pantai. Di sana, daerahnya tertinggal. Jalan bukanlah jalan "Butas" tapi Botus". Salah berkendara, bersiaplah untuk mensedekahkan mobil atau kendaraannya di liang jurang. Jalannya licin, dan kalau hujan pasti tertutup rapat oleh longsor. Tapi itu semua "luput" dari lensa media. Mungkin jaraknya jauh, hingga lensa camera tidak mampu menjangkau. 

Suatu waktu, saya duduk dengan seorang Petani Sarminya, desa Bangga. Beliau berkisah soal hidupnya yang hampir mati di kebun. Dia bersama keluarganya sudah kehabisan beras, hasil panen gagal karena musim panas. Sementara, di saat yang sama, kondisi perairan laut cukup membahayakan. Dua hari keluarga ini bertahan hidup dengan memakan pepaya. Perut mereka diisi dengan buah selama dua hari. 

"Bolo ada makan popaya torang. Susah, deheto jamowali dudulalo" curhat bapak, yang berprofesi sebagai petani itu.  Hati saya terasa ngilu mendengar penuturan sang bapak. 

Jika pemerintah mau mau mengevaluasi diri,  saya yakin pemerintah akan merasa iba dengan kondisi mereka saat ini. Bisa jadi, anggaran miliaran rupiah tadi, akan digelontorkan untuk rakyat miskin.