Juni 05, 2014

Tiga Jurnalis Gorontalo yang Menginspirasiku Untuk Terus Menulis


Jambura Online Universitas Negeri Gorontalo
( Idrus Dama : Koran Jambura edisi 16-31 Desember 2013 : Liputan tentang Maleo  )

 " Mata Pena untuk melihat ketidakadilan, tintanya untuk menuliskan kebenaran dan dengan kertas kita biarkan dunia membaca fakta" 
( Idrus Dama )

DI MULAI DARI rumah kecil sederhana. Rumah yang berukuran tidak lebih 8 x 10 meter yang dindingnya terbuat dari papan. Rumah kecil ini berada tepat di samping sebuah hotel, dekat Gorontalo Business Center. Disinilah tempat yang menjadi titik tumpu saya mengawali keinginan untuk terus menulis. Dengan semangat yang ditularkan oleh kakak senior saya, Ali Rajab, lelaki yang berasal dari Muna ini, mengajak saya untuk bergabung bersama media rintisannya, www.mediagorontalo.com . Meskipun akhirnya collapse di tengah jalan dan berganti nama menjadi www.infogorontalo.com 

Ali Rajab 
Dialah jurnalis yang pertama mengajariku bagaimana menulis berita, bagaimana meliput berita dari berbagai isu yang berbeda hingga dia mengajarkan saya bagaimana melempar isu, lalu memniarkan orang berkomentar tentang itu. "itu saja sudah bisa jadi berita" kata dia. 

Bagi saya, Bang Ali Rajab adalah Inspirator muda yang mampu menularkan  naluri jurnalisme.  Saya masih ingat kenangan manis ketika kami harus turun liputan tengah malam. Datang ke kantor Polisi hanya untuk mengambil data para penjudi togel, lalu berlanjut dengan peliputan balap liar. Saya merasa liputan jam seperti itu, apalagi  jam 2 malam, sungguh menantang. Di saat orang lain terlelap tidur, saya dan beberapa jurnalis lainnya malah jalan-jalan liputan. 

Inilah awal episode saya mulai merasakan bagaimana sulitnya menjadi jurnalis. Hidup harus selalu siaga setiap saat. Sebab, tugasnya meliput harus 24 jam. Ya meski ada acara tidur, tapi saya yakin tidurnya wartawan bukan untuk senang-senang, melainkan untuk melepas penat karena seharian jalan-jalan mengumpulkan data. 

Bang Ali rajab, sosok yang sederhana dan pengertian. Beliau cukup sabar dalam mendidik potensi saya. Bahkan, tak sungkan dia mengajak saya untuk pergi ke kejaksaan hanya untuk meliput seorang polisi yang ketika itu tertangkap menggunakan Narkoba. Memang saya sangat takut. Apalagi, sang polisi ganas menatap kami ketika sedang duduk santai. Salah satu polisi berkata, "Wey, jangan dulu liput. Jangan sampe ngoni pe brita lagi nau turun-nae turun". Saya hanya merunduk. Lalu, bang Ali hanya membisikkan ke saya. "Ah cuek, tidak pake biar polisi" kata dia mempropokasi. 

Saya kira banyak cerita yang saya dapatkan dengan Bang Ali rajab. Nantilah saya ceritakan di lain episode.  Saya masih banyak cerita tentang tokoh lainnya yang juga mengajari saya menulis. 

Jambura Online Universitas Negeri Gorontalo
 ( Idrus Dama : Liputan tentang Ombudsman Gorontalo )

Rosyid Azhar
Sosok kedua adalah Rosyid Azhar. Beliau adalah pendiri organisasi Masyarakat Photografer Gorontalo (MFG). Dari beliau saya belajar bagaimana teknik mengambil gambar. Ketika itu, di kampus ada pelatihannya, dan beliau salah satu yang memberikan cara mengambil angle  sebuah foto. 

"Foto itu adalah gambar yang bercerita" begitu kata beliau saat memberikan materi. 

Ketertarikan saya kepada Mas Rosyid berlanjut hingga saya pun bergabung dengannya di media kampus Jambura-online.com dan Koran Jambura kampus Universitas Negeri Gorontalo yang terbit sebulan 2 kali. Saya makin tambah bersemangat ketika tulisan saya terbit di koran kampus dan di jambura online. Sebagai jurnalis pemula, tentu terbitnya tulisan adalah sesuatu yang "Wah" begitu. Saya sulit menggambarkan betapa senangnya hati saya membaca sebuah berita, dimana nama saya tercantum di tag lain berita. 

Mas Roshid juga adalah jurnalis yang hebat. Sudah belasan tahun mata pena beliau telah menuangkan banyak cerita dan narasi tentang Gorontalo. Buah tanganya telah memberi inspirasi buat daerah saya, Gorontalo tercinta. Hal yang perlu diacungi jempol adalah kegigihan dari mas Rosyid untuk memperkenalkan Gorontalo di mata dunia. " Inilah Gorontalo" katanya kepada saya suatu waktu. Dengan pena dan lensa, beliau bekerja keras membangun kebudayaan Gorontalo

Jambura Online Universitas Negeri Gorontalo

(Idrus Dama : Liputan Tentang Linux UNG )

Banyak hal yang saya pelajari dari beliau terkait jurnalis. Tapi dari sekian banyak itu, saya lebih cenderung dengan gaya penulisan Mas Rosyid, yakni Jurnalisme sastra. Sebuah style menulis yang menambahkan unsur satrawi di dalam tulisan. Penyajian datanya lebih dalam dan menyentuh. Sehingga, enak di baca dan tidak membuat orang merasa bosan. 

Untuk saat ini, saya masih off untuk menjadi jurnalis. Karena kesibukan kuliah, diamana saya harus mengurus skripsi saya biar cepat selesai dan mengabdikan diri untuk bangsa ini. Apakah pergi meninggalkan dunia jurnalis untuk selammanya? saya kira tidak. Sebab, jurnalis bukan berarti saya harus bersama media. Saat saya dimana pun ketika ada hal yang unik, saya akan meliputnya. Jadi, off untuk sementara hanya untuk memfokuskan pikiran kepada penyelesaian studi.

Jambura Online Universitas Negeri Gorontalo
 ( Idrus Dama : Liputan Tentang Kratifikasi Pengurus KUA )

Sultan Sulaiman
Jurnalis ketiga adalah Sultan Sulaiman. Beliau sebenarnya bukan Jurnalis. Tapi pekerjaan beliau di sebuah kantor adalah membuatkan press liris. Begitu keterangan yang saya peroleh dari teman. Tapi, saya kira pekerjaan itu juga adalah pekerjaan jurnalis. Jadi, bagi saya, beliau jurnalis.  Untuk menjadi jurnalis kan tidak mesti punya kartu, "I am Jusrnalist". Iya kan? Jika ada yang protes juga tidak apa-apa. lagian itu hanya versi saya. 

Dari Bang Sultan Sulaiman, saya belajar menulis profesional. Karena beliau adalah penulis juga, jadi beliau lebih cenderung kepada nilai akademis dan kualitas sebuah tulisan. Sering sekali beliau memperbaiki tulisan saya, baik itu ejaan dan diksi yang kurang tepat. Bahkan beliau menyarankan saya hal yang saya kira aneh. "Sebagai penulis profesional, harusnya sudah khatam Ejaan bahasa Indonesia" komentar beliau dalam sebuah cerpen saya. It's okay, komentar beliau postif dan membangun.

Bang Sultan Sulaiman adalah Ketua Forum Lingkar Pena Kota Gorontalo. Wajar beliau cukup disiplin soal ejaan dan gaya menulis. Terutama ide penulis dalam membangun paragraf yang koheren dan kohesif. Untuk urusan ini, Bang Sultan sangat jeli dengan ejaan dan menentukan kualitas ide sebuah tulisan. Olehnya itu, penulis Gorontalo, banyak yang meminta beliau untuk sekadar testimoni dalam bukunya, salah satunya dalam buku Muhamad Hiarata dalam buknya, "Di Antara Dua Sujud"

Saat ini, saya hanya menulis dalam waktu tertentu saja (Part time) . Tidak serutin dulu. Tapi, setidaknya saya masih tetap menulis. Daripada saya berhenti untuk selamanya. Saya kira itu saja catatan  tentang perjalanan saya dalam dunia tulis menulis. Sekarang saya mau tanya, siapa di dalam hidup kamu yang cukup menginspirasi?