Juli 06, 2014

Rasa Kagum Yang Tak Penah Terucap

 
Siapa sih yang tidak punya rasa kagum dengan seseorang? Saya kira semua pasti ada. Hanya saja, yang membedakan, ada yang mampu mengungkapkannya secara langsung, ada juga yang hanya sebatas dalam diam. Orang yang berani menyatakan kekagumannya, biasa dia merasa lebih berani. Tapi bukan berarti yang mengagumi dalam keheningan itu pengecut. Bisa jadi, dia memilih diam karena memang untuk menyelamatkan perasaannya. Agar jangan sampai kotor karena mengagumi sesuatu yang terlarang. Iya kan? 

Kebiasaan kita, kalau sudah kagum sama seseorang, pasti yang jadi bahan materinya tentang si "DIA" melulu. Sepertinya, materi yang dia hafal sepanjang hidup hanya tentang si "DIA". Emang enggak ada pekerjaan lain apa? ya sudah, kalau kudu terlanjur kagum, engak apa-apa. Asal jaga  hati biar tetap istiqomah. Jangan suka mengumbar rasa kagum itu, nanti setan bisa menyusup. 

"Ah, saya kan rajin beribadah. Ngajinya one day one juz." Waduh, kamu tahu enggak. Nabi Adam saja, itu dikeluarkan dari Syurga karena Godaan setan. Kamu siapa? hayo? Imanmu dengan nabi Adam, kira-kira kalau ditakar, siapa yang lebih kuat, hayo jawab? Nah, kalau nabi Adam saja yang imannya kuat, tapi tetap juga tergoda, apalagi kamu yang cuman one day one juz. Jangan bangga dulu. Ingat selama kita masih bernafas, aliran darah masih berkeliaran di pipa nadi, sampai di situ setan tuh bisa mengobrak-abrik imanmu. Jadi, jaga hatimu biar tetap suci. Jangan hanya karena kagum, eh hatimu jadi rusak, Oookney?

Trus, apa salah ya, kita kagum kepada seseorang? Saya kira juga tidak salah. Kan manusiawi. Apalagi kagum terhadap lawan jenis. Semua itu sah-sah saja. Hanya saja, jangan merubah rasa kekaguman itu menjadi sebuah maksiat. Maksudnya apa? Misalnya kita kagum sama si Ukh ini atau Akh itu, terus kita sampaikan perasaan kagum itu. Nah, itu namanya rasa kagum yang disulap jadi bencana. Boleh jadi bukan kagum lagi, tapi  itu sudah jatuh cinta. Lah, apa bedanya kagum dengan cinta? ya jelas beda. Kan kagum tuh menyukai seseorang tanpa harus dikatakan kepada yang bersangkutan. Kalau cinta, itu sudah ada akad, atau ijab atau lebih simplenya ucapan. 

Kagum, kalau sudah berani diutarakan, itu bukan kagum lagi. Itu namanya udah cinta. Tapi sayangnya, belum halal. Jadi untuk apa katakan cinta kalau bukan sama seseorang yang belum halal. Kan sama halnya kita menyiksa batin. Belum lagi kalau ketahuan aslinya. Ternyata dia nikah dengan si Akh ... atau ukh... Waduhh kecewanya pasti berlipat ganda. Udah enggak mau makanlah, tidur tidak nyenyaklah, sampai mimpi pun hanya ada dia. Wah, kalau udah seperti ini, bahaya lhoe.

Lalu bagaimana sih cara mengagumi yang benar? Gini ya, saya kasih tahu. Kamu pernah nggak dengar kisah cinta Ali Bin Abu Thalib dan Fatimah Azzahra. Itu kedua pasangan dunia akhirat. Mengapa? Si Ali bin Abu Tahlib itu kagum berat sama Fatimah. Begitu pun sebaliknya. Tapi, diantara keduanya tidak pernah mengungkapkan perasaan itu, cukup di hati saja dan Allah yang tahu. Saking hebatnya mereka saling menyimpan rasa kagum itu, setan saja enggak tahu tuh perasaan si Ali dan Fatimah. Hal itu baru terucap tatkala ijab kabul terlaksana. Itu baru hebat. Jadi, kagum itu boleh, asal jangan diumnbar-umbar,nanti kelihatan lebay lhoe.... heheh...

Kagum itu adalah perasaan tulus suka sama sesuatu atau seseorang. Karena pada hakikatnya, kagum adalah isi hati yangg paling dalam. Bukankah Allah yang membuatkan hati ini? jadi wajar jika ada perasaan seperti itu hadir. Tinggal bagaimana kita menyikapi perasaan itu. Jangan suka sembarangan mengatakannya. Apalagi diobral seperti pakaian bekas tuh yang di pasar-pasar. Murah kan? begitu juga perasaan yang suka diumbar. harganya pasti murah, bahkan murahan. Bagaimana, masih mau mengumbar kekaguman?  Semoga tidak.

Orang yang kecewa karena rasa kagum, biasanya isi dunia ini pengen dihancurkan saja. Hatinya pasti tidak karuan. Apa-apa selalu terlihat buruk. Burung di atas pohon saja membuat dia stress. Itu tuh efek dari suka menjual rasa kagumnya. Akibatnya kena virus merah jambu, alias cinta non halal...atau dalam bahasa bule "Forbidden Love"

Okay, sekarang, mari kita perbaiki hati. Kita boleh kagum. Tapi jadikan kagum itu membawa kita ke hal positif. Misalnya orang yang kita kagumi itu akhlaknya bagus. Ngajinya rajin. Bolelah kita tiru, sebagai stimulus bagi diri kita untuk beribadah. Insya Allah berkah. 

Baiklah, udah dulu yah postingan kali ini. capek tangan nih mengetik. Nanti saya sambung lagi dah di postingan selanjutnya. Maaf ya kalau ada kata-kata yang membuat tersinggung. Saya tidak berniat untuk menyindir. Tapi lebih sekadar saling mengingatkan, terutama bagi diri saya secara pribadi. Kita sama-sama menjaga hati ini biar sterile dari virus merah jambu alis kagum super lebay.