Oktober 15, 2014

Operasi Narkoba dan Pelacuran

 
Nyaris tak ada cahaya yang nampak di langit. Bintang seperti ditelan kabut malam. Kilatan tajam sesekali menyala-nyala  membela kesunyian. Igo tetap memantapkan langkahnya menapaki setiap inci jalanan sunyi di seperdua malam ini. Padahal, kakinya tidak bisa dipaksakan untuk melangkah. Pecahan botol yang menyobek kakinya terlalu dalam.

Harusnya malam ini dia kembali dengan sepeda kumbangnya. Sayang, sepeda itu hilang dibawa kabur orang entah kemana. Terpaksa dia pun harus menyeret kakinya sejauh puluhan kilo untuk bisa sampai ke tempat kostnya, Jalan dua susun.

Tak perlu menunggu lama, setelah beberapa kali kilatan di tengah kegelapan, jalanan langsung disapa titik air dari langit. Jalanan yang tadinya kering kehausan jadi basah merata. Daun-daun tampak girang, wajar memang enam bulan berturut bumi sepertinya kehauasan.

Apa pedulinya dengan hujan? Pria yang serig disapa bang Igo itu tetap saja kering jiwanya. Meski hujan tumpah membanjiri bumi. Lelaki itu telah banyak makan asam garam soal hidup. Penderitaanya telah mengajarinya cara bersyukur dan ikhlas dalam segala hal. Belum sempat dia menatap jelas wajah ayahnya, dia harus menerima kenyataan bahwa dia menjadi anak yatim.

Pria malang itu terus melangkah dengan sisa kekuatannya. Dia mendengus dan sesekali berhenti untuk mengambil kekuatan mengangkat kakinya yang terlihat bengkak. Disetiap langkahnya, terlihat darah berleleran seperti sebuah pewarna. Dia menengadah ke langit, berharap hujan segera berhenti. Nyaris, langit malah semakin gadas disusul hujan yang butirannya menyakitkan tubuh.

Ia melirik samping kiri dan kanan. Melihat-lihat rumah yang masih buka untuk meminta pertolongan. Sepertinya sia-sia. Di tengah hujan malam mencekam ini, mana ada rumah yang sudah terbuka. Apalagi sudah pukul satu malam. Mau ke rumah sakit terlalu jauh. Ia pun memilih untuk melanjutkan perjalanan.

Tulang pahanya sepertinya tidak kuat lagi menopangnya untuk berdiri. Beruntung, dia telah tiba di depan kost.

"Jabir..!! Jabir..!" Teriaknya memecah kesunyian. Tak ada suara yang membalas.

Jabir yang mendengar suaranya langsung bangkit dan berpura-pura baru kaget dari tidurnya. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.

Saat Igo mau mengetuk pintu, Jabir sudah membukanya. Keduanya berpas-pasan dan langsung saling memperhatikan satu sama lain.

"Kiyapa ngana? ni kaki so ba bangka bagini?" Tanya Jubair beruntun, seperti orang sedang menginterogasi penjahat kelas teri saja.

"Biasa saja, cuman luka kacili ni dia. Sabantar somo sembuh sandiri!" ujranya santai meski di wajahnya menyisahkan perih.

"Ahh,, capat saja, masuk baru kita mo obat kamari!"
Jabir memapahnya.

"Ikat saja ta pe kaki. Nanti itu darah mo berenti sandiri. Ana somo istirahat!" ketusnya sambil berlalu

"Eits! tunggu, jangan masuk di situ! malam ini torang tidur di luar. Kost lagi te Salman pake dengan cewe" Jabir memohon.

"Bangsat! kau kira ini tampa prostitusi?" Suara Igo melengking.
'Prakkk!" Tangan Igo secepat mungkin menghajarnya.

"Bruk,,,! " Pintu hancur. Saat bersamaan polisi datangi kost itu.
"Semuanya angkat tangan! Jangan bergerak!" Seru polisi penuh siaga. Mereka berdua tak berkutik. Pasrah dibekuk.

Setelah semuanya digeledah, ditemukan 5kg paket Ganja dan sebilah pisau. Sementara Salman keluar dengan keadaan tak mengenakan pakaian selain pakain dalam kemaluannya. Ketiganya dibekuk dan dibawa untuk pemeriksaan lanjutan.

"Maaf Igo. Kita terpaksa. Kita pe orang tua butuh biaya rumah sakit. Dia akan dioprasi kangker. Ini jalan-jalan satunya. Bantu kita bebas dari kaus ini, akuilah ini ngana pe barang. Nanti kita pe urusan so selesai, kita datang jemput ngana!" jabir menghiba.

Ia bingung. Antara Sahabat  dan masa depan kuliahnya. Sementara dia anak yang dinanti sang ibu pulang dengan toga sarjana setelah 16 tahun terpisah. Apa langkah yang harus dia lakukan?
......
Bersambung....001