Oktober 08, 2014

Solusi Listrik Cerdas Tanpa Kebakaran


"Kebakaran bukan hanya menyisahkan air mata, tapi kemiskinan yang berkepanjangan" 

Sedih rasanya melihat tangis di tengah kobaran api. Melihat jutaan manusia meratapi nasib malang, bertopang dagu dengan kemiskinan, dan berpasrah dengan kondisi penderitaan yang menerpa mereka. Saat itu terlihat  orang berlarian menyelamatkan barang-barang, ada yang pasrah meratapi rumahnya dilahap si Jago merah, ada pula yang begitu gigih mengangkat segala hartanya biar tidak ikut menjadi debu seperti halnya rumah mereka. 

Hampir di seluruh wilayah di Indonesia tercatat, penyebab kebakaran  diakibatkan oleh aliran listrik yang tidak stabil atau kortsleting. Sebab, kita masyarakat seringkali tidak selektif dalam pemilihan kabel, tidak teliti dalam sambungan arus pendek dan tidak memperdulikan kualitas alat penyaluran listrik sesuai standar. Akibatnya, kebakaran terjadi dimana-mana.

Kasus kebakaran terbaru di Indonesia, antara lain  kantor Harian Umum Pikiran Rakyat yang ada di Jawa Barat, dikabarkan terbakar akibat kortsleting. Sementara menurut laporan Ivan Aditya (7/10/2014) bahwa Kerugian yang dialami sebuah kebakaran mencapai 3,7 miliar. 

Jika kebakaran terus terjadi dan semua "Berkisah" dari aliran listrik yang kortsleting, maka asumsi masyarakat akan negatif terhadap PLN. Oleh sebab itu, hal ini harus mendapatkan porsi perhatian lebih dari pihak pemerintah.

Dampak dari kebakaran memang sangat "Mengerikan". Masyarakat akan bertambah miskin. Pada awalnya mereka merintis usaha dengan semangat, mereka bangun ekonomi bangsa lewat unit usaha kecil-kecilan. Tapi, di saat yang sama kebakaran melanda. Mimpi untuk memajukan bangsa pupus seiring dengan kobaran api. Lenyab bersama debu penderitaan. 

Kejadian ini jangan sampai terus berlanjut. Apalagi masih dalam motif yang sama, kortsleting. Nah, untuk mengatasi hal ini, saya berpikir harus ada peran aktif dari pihak PLN untuk melakukan tiga  hal, antara lain ; 

Listrik Pintar On Mobilephone

Terjadi kebakaran karena kurangnya pemahaman tentang aliran listrik yang baik. Masyarakat seringkali melakukan sambungan listrik sembarangan. Membuat colokan yang terlalu banyak, memilih kabel sembarangan, dan melakukan sambungan pendek yang tidak sesuai prosedur. Sehingga, tindakan mereka itulah yang menjadi pemicu bencana kebakaran besar-besaran. 

Kita tidak boleh menyalahkan masyarakat melakukan sambungan arus listrik mandiri di rumahnya. Karena, sangat berlebihan kalau hanya untuk membuat aliran listrik sederhana di rumah harus datangkan petugas PLN terus menerus. Maka solusi yang bisa ditawarkan adalah edukasi terhadap masyarakat dengan memanfaat media elektronik.

Saat ini, gadget berupa handphone sudah sangat canggih dan murah. Saya berpikir, seluruh data berupa tips membuat sambungan listrik, menghemat listrik dan panduan lainnya yang bermanfaat untuk keselamatan lainnya, bisa dituangkan dalam bentuk aplikasi. 

Saya menyebutnya aplikasi ini dengan nama Listrik pintar on Mobilephone. Aplikasi ini adalah sebuah flip digital book yang sudah dikonversi ke dalam software android. Lalu, dipublish ke google Play sebagai distributor dan pemberi lisensi terpercaya di jagat maya. 

Dari aplikasi ini masyarakat akan belajar dengan mudah, tinggal buka layar handphone, baca tips dan informasi dalam aplikasi tersebut, selesai. Disitulah terjadi proses pedidikan terhadap listrik di Indonesia. Harapannya, dengan aplikasi ini masyarakat sadar dan bisa mawas diri dari bahaya dan tersadarkan dengan pentingnya saving energy.

Saving Energy

Upaya untuk menerapkan listrik pintar ini sebenarnya sangat bagus. Karena banyak kemudahan yang ditawarkan, antara lain; mengecek langsung kapasitas penggunaaan listriknya. Selain itu, kontrol untuk Saving energy  lebih mudah dan terbaca.

Selain upaya menghemat energi, listrik pintar telah memberikan kemudahan bagi petugas PLN dan juga masyarakat dalam uusan administrasi. Bisa dibayangkan, jika ada jutaan penduduk Indonesia ngantre di loket pembayaran listrik secara manual. Bisa-bisa keriting rambut petugas PLN melakukan proses pembayaran.

Namun, saya berpikir masih ada celah dari program listrik pintar ini. Saya khawatir dengan adanya listrik pintar akan ada pemborosan sepihak. Pihak tertentu yang punya duit banyak,  akan memakai daya listrik yang paling banyak pula. Dia bisa saja membeli pulsa listrik banyak dan menggunakannya dalam skala besar. Sementara yang lainnya melakukan penghematan luar biasa. Saat penggunaan listrik melewati batas ketersediaan energi, maka pemadanan bergilir menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Disinilah titik rawan konflik terjadi antara PLN dan masyarakat. 

Karena itu, perlu adanya pembatasan listrik bagi setiap rumah, terutama orang kaya yang pemakaian perbulannya terlalu besar. Hal ini untuk menghapuskan asumsi bahwa listrik hanya milik yang punya budget saja. Listrik harus merata terdistribusi ke masyarakat.

Memang hal ini akan menuai kontroversi, tapi ini bisa dijalankan untuk sementara mengingat daya listrik di Indonesia makin besar bebannya.  Saat bersamaan, pemerintah punya banyak waktu untuk terus berbenah, memperbaiki pembangkit listrik kita. Jika sekiranya sudah bisa memenuhi kebutuhan, maka upaya yang saya tawarkan ini sudah bisa dikeluarkan. 


Andai pengehematan listrik dengan pembatasan quota terlaksana, kita yakin tidak akan terjadi lagi "Seremoni" mati lampu, tidak ada lagi aksi mati bergilir, tidak ada lagi keresahan masyarakat yang harus hidup dalam kegelapan. 

Saya ingat betul, gara-gara pemadaman listrik, di daerah saya, Sebuah kantor PLN Boalemo nyaris dihancurkan warga. Hal ini sebagai buah kekecewaan masyarakat karena pemadaman bergilir. Meskipun pemadaman dilakukan untuk Saving energy, sayang, masyarakat terlanjur marah dan langsung melakukan demonstrasi yang berujung pada pengrusakan. 

Lalu siapa yang salah? tentu kita tidak bisa menyalahkan masarakat, pun demikian dengan petugas PLN. Masyarakat tidak paham tentang regulasi penyaluran lsitrik dan daya, sementara PLN hanya melaksanakan apa yang bisa dilakukan guna penghematan. Maka pokok permasalahan ada pada pemahaman.

Alangkah bagusnya, jika informasi listrik baik daya dan kebutuhan itu tertuang dalam bentuk aplikasi sebagaimana saya rekomendasikan di atas, yakni; listrik on mobilephone. dengan demikian, masyarakat bisa lebih cerdas, paham kondisi kekinian listrik yang tersedia. Hasilnya, akan lahir sebuah pemahaman dan pengertian satu sama lain. 

Kortsleting Detector on Meteran 

Mungkin terdengar lucu. Tapi ide ini yang terbayang di pikiran saya, Kortsleting detector. Selama ini, terjadi kebakaran diakibatkan korstleting, yang ujungnya berimbas pada kebakaran. Harapannya, akan ada teknologi pembaharuan yang mampu menimalisir kebakaran. Salah satunya terciptanya kortsleting detector. Hal ini memang tidak menjadi jaminan menghilangkan kebakaran. Tapi, sedikitnya mampu menolong orang banyak dari kerugian yang besar. 

Kortsleting detector ini bukan semata berfungsi pendeteksi error sambungan, tapi juga otomatis melakukan pemadaman listrik jika terjadi kebakaran di suatu tempat. Sangat diyakini, adanya teknologi ini akan mampu membantu jutaan penduduk Indonesia dari incaran kemiskinan akibat kebakaran.

Ketika terjadi kesalahan sambungan, maka Kortsleting detector akan bekerja. Sehingga, percikan api tidak berlanjut pada bencana kebakaran. Atau sekiranya sudah terlanjut terbakar, alat ini bisa langsung merespon untuk melakukan pemadaman listrik secara area. 

Alat ini bisa saja menempel dan terkoneksi dengan  metereran. Sehingga cara kerja dan kontrolnya bisa lebih bagus.  Itulah beberapa gagasan yang terlintas di benak saya sebagai blogger Indonesia. Harapannya, gagasan di blog ini bisa menjadi sumbangsi pemikian untuk perbaikan bangsa ini. Jika ini kita bisa laksanakan, maka Insya Allah akan membawa kebaikan untuk kita semua. Amin...

Sumber gambar
* www.energytoday.com
* metropolitan.inilah.com