Desember 09, 2014

Empat Kisah Perempuan Kepada Hujan

[Ilustrasi: 1tajuwita[.]wordpress[.]com]



HUJAN ITU KAU
Oleh: Nurmalia

Kau adalah hujan
Air yang menari di rimbunnya pepohonan
Bergemericik merdu memecah kesunyian
Menyanyikan titah tuhan
Menggenapkan separuh perasaan

Kau adalah hujan
Wujud cinta yang tak pernah lekang
Bergelayutan di pikiran tanpa mengekang
Mewarnai dengan warna yang tak pernah usang

Kau adalah hujan
Indahmu selalu terekam
Dengan senyum dan matamu yang tajam
Tak pernah berhenti mengusik hatiku berjam-jam

Kau adalah hujan
Makhluk tuhan yang ku pinta
Dengan doa tanpa tergesa gesa
Aku menyimpanmu dalam asa tanpa rupa
Tak ada yang tau
Hanya kau, aku, dan hujan

91214

**

HUJAN
Oleh: Monita Alvia

Lagi-lagi,
tentangmu mulai terbayang,
Dengan alunan gemercik air,
Kau hadir, pada tiap-tiap bulir.
Dan kini,
Kubiarkan dingin menikamku,
dan kenang akanmu melekat dalam kalbu.

Di balik jendela berhias rintik hujan, 09 Desember 2014.

**

GERIMIS MENYIMPAN RINDU

Oleh : Wiwi Nurgiyanti

Biarlah,
rindu menggebu cintapun merayu
Jarak samudra pembatas rasa; begitu hampa
Biarlah!

Terpatri cengkrama laksana arjuna; pada gerimis senja
Menggigil sunyi menepis rindu kelabu. Tak ada sapa dan puja

Kekasih halalku;
antara aku, kau dan hujan mengisi ruang sepi pada bilik hati memanjatkan Doa

Setia; janjiku padamu karena_Nya
mendekap rindu pada bulir-bulir asmara.

Asmara merindu.
Purbalingga, 9 Desember 2014

**

HUJAN DAN SECANGKIR KENANGAN

Oleh: Adinda Zetya Salsabila

Bilamana rindu kan berlabuh
Di dermaga hati yang meretak
Dulu;
Seuntai janji kau ucap
Bersaksi rintik dan sinar pelangi

Dua hati saling berseri
Tapi kini,
Di rintik hujan Desemberku
Secuil luka lalu masih bersaksi bisu

KLATEN, 09 November 2014