Desember 04, 2014

Kutipan Motivasi Buku Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk [ Hamka ]

[ foto : dok Pribadi : Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk

Bagi saya, Kutipan motivasi atau dialog inspratif adalah hal yang selalu jadi catatan penting. Ketika saya membaca buku atau menonton sebuah film, saya paling sibuk membuat catatan penting dialognya. Hanya saja untuk novel ini, saya tidak sempat membuatnya. Nantilah saya baca lagi novelnya. Nah, terus kutipan yang dishare dari mana?  Saya  menemukannya kutipan motivasi dari  Mas Dian Sandy, tentu dari blognya yang dishare pada januari 2014 kemarin.

Kutipan motivasi dalam buku sangat penting sekali bagi saya. Karena melalui dialog tokoh, Saya bisa menangkap  pesan tersirat maupun tersurat dari penulis. Menurut saya, Narasi boleh bergulir, tapi dialog adalah yang utama. Sebab disitulah  ruh dan gerbong pesan yang menjadi jembatan  antara penulis dan pembaca. 

Kutipan Motivasi Buku Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk 

“Walaupun kamu pergi, jiwamu akan selalu dekat dengan jiwaku.”

“Jangan pernah bersedih. Jangan putus asa. Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.”

“Kau yang sanggup menjadikan saya seseorang yang gagah berani. Kau pula yang sanggup menjadikan saya sengsara selamanya. Kau boleh memutuskan pengharapanku. Kau pun sanggup membunuhku.”

“Hati saya dipenuhi cinta kepada kau. Dan biar Tuhan mendengarkan bahwa engkaulah Zainudin yang akan menjadi suamiku kelak, bila tidak di dunia, kau lah suamiku di akhirat.”

“Carilah kebahagiaan kita. Kemana pun engkau pergi, saya tetap untukmu. Jika kita bertemu kelak, saya akan tetap bersih dan suci untukmu, kekasihku.”

“Dengan surat kita lebih bebas menerangkan perasaan.” 
“Tanganmu akan ku gandeng, dari hayatku, sampai matiku.”
“Semuda ini usiaku, sudah begitu berat duka yang harus ku tanggung.”

“Cinta bukan mengajarkan kita untuk menjadi lemah, tapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan melemahkan semangat, tapi membangkitkan semangat.”

“Kalau pikiran tertutup bagaimana mungkin bisa mengarang?”
“Sejauh-jauhnya kita tersesat, pada kebenaran kita akan kembali.”
“Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan. Kau minta maaf..”
“Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu?”

“Janganlah kau jatuhkan hukuman, kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini.”
“Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walau pun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.” 

“Saya tidak akan pulang. Saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan. Biar saya kau pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya. Saya butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau..”

“Tidak. Pantang pisah berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke kampungmu. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya.”

“Percayalah di dalam jiwaku ada suatu kekayaan besar yang engkau sangat perlu kepadanya.Dan kekayaan itu belum pernah ku berikan kepada orang lain, walaupun kepada Azis. Kekayaan itu ialah kekayaan cinta.”

“Heningkan hatimu kembali. Sama-sama kita habisi kekecewaan yang sudah-sudah. Maafkan saya. Cintai saya kembali.”

Resensi buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk ini sedang dibuat.