Desember 07, 2014

Puisi Pilihan : Tersia Dalam Belantara Sunyi Karya Arief Siddiq Razaan

[ foto Ilustrasi by Pesantren Media ]

Puisi Pilihan Redaksi 
== Tersia Dalam Belantara Sunyi ==

Kesepian itu tercipta bukan karena ketiadaan suara, – tetapi karena ketiadaanmu di hatiku, ayah. Malam ini, sepulang memanggul cita-cita, kusapa dedoa untukmu, meski telah purnama kesekian kita tiada bercakap-cakap perihal rindu. Dahulu; kata-katamu kujadikan lentera agar gelap tiada memerangkap, namun kini sebenar heningmu mengajarkanku untuk mendewasakan hidup.

Tersia dalam belantara sunyi; mencari dengung suaramu, namun tak kudengar meski sekedar semayup – aku pun menemu letih, ayah. Hingga kini belum mampu kusiarkan debar bahagia bersebab selembar ijazah masih kueja dengan terbata. Namun; haruskah riwayat bungkam engkau surat dalam gelegak ketika amarah hendak memurka tiada mewujud, karena rasa takutmu pada Allah?

Jangan mendiami hening ketika amuk menggejolak di dada
sungguh gaduh amarahmu kuanggap bahasa cinta paling sempurna. Ayah, kutitip dedoa pada hujan yang jatuh satu satu serupa gerimis air mataku; berharap engkau segera meng-ada dalam ketiadaan semangatku. Malam ini datang dan jenguklah aku dengan gertakmu hingga membelah langit , agar kala kujatuh dapat bersegera bangkit.

Pada akhirnya aku kembali pada ketiadaan untuk mengadakanmu, ayah. Jangan sampai kediaman menjadi jarak terjauh menuju cinta.

Bukan sebenar jarak Jawa-Sumatera yang kutakutkan, tetapi ketiadaan suaramu itulah sebenar jarak yang jadikanku pesakitan.

Selamat malam ayah; marahlah padaku -- niscaya engkau telah memulangkan ada-mu lewat sekatup suara yang mendetak di jantungku.

Dunia Imaji Kompak, 07.12.2014

Profil Penulis : 
Nama : Arief Siddiq Razaan
Alamat : Jalan Jombang 3A. No. 24 C Malang
Email : ariefsiddiq13@gmail.com