Desember 07, 2014

Sebuah Puisi: Arief Siddiq Razaan.

[ Foto Ilustrasi: rehatmalem.wordpress.com ]

TAK ADA

Oleh: Arief Siddiq Razaan

Tak ada bukan berarti tak berharga, sebab kadangkala begitu tak ada baru kita mengerti betapa berharganya ia.

Saat dekat tak ada rasa pada apapun yang dilakukannya, ketika jauh baru merasa ketiadaannya menyisakan sesuatu yang ganjil di dalam jiwa.

Begitulah kadang kita selalu mengejar sesuatu yang jauh di mata; padahal yang ada di dekat kita itulah yang selama ini kita anggap tiada.

Jangan terlalu diperdaya oleh kemayaan sebab kenyataan itu jauh lebih ada manfaatnya daripada berdiam dalam penantian maya.

Bukan tak boleh memilih takdir menjadi pemimpi cinta, tetapi kesejatian cinta bukan impian semata, melainkan menyempurnakan apa yang nyata.

Cinta kerap menuntun kita pada kenyataan yang sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi kita memilih mengejar impian yang tiada batasnya.

Tak ada mimpi yang nyata jika selalu mengulang mimpi hingga berpaling dari kesadaran bahwa kesempurnaan cinta itu penerimaan jiwa.

Sesungguhnya menerima perhatian yang diberikan seseorang yang didekat kita ialah sebentuk kesempurnaan cinta yang kita damba.

Mengapa kita ingkar dan terlena seolah ada yang jauh lebih sempurna di luar sana, padahal yang di luar itu belum menunjukkan kapasitasnya.

Itulah sifat manusia tamak pada segala, termasuk dalam perkara cinta, hingga yang ada di depan mata tetap dianggap tiada berarti apa-apa.

Semoga saat ini juga dirimu mau membuka mata; barangkali yang ada di dekatmu itulah kesejatian cinta yang selama ini kau damba.

Tak ada bukan berarti tak berharga, sebab kadangkala begitu tak ada baru kita mengerti betapa berharganya ia. Pahamilah adanya!

04.12.2014


Arief Siddiq Razaan, peramu aksara yang bermukim di rumah imaji Komunitas Penulis Anak Kampus [KOMPAK], juga berkarib ajar sastra di Komunitas Bisa Menulis [KBM] dan Serambi Aksara Pujangga [SAP].