April 08, 2015

Buku Anak Semua Bangsa: Semua Tentang Cinta, Persahabatan dan Nasionalisme


“Sebuah Perjalanan Suci menemukan cinta, Nasionalisme, dan persahabatan” 

Penjara bagi sebagian orang adalah neraka. Sumber segala penderitan dan kesengsaraan. Di dalamnya menyimpan sejuta misteri penyiksaan dan kekerasan. Tapi bebeda dengan Hamka, yang mampu menulis tafsir Al Azhar di penjara, berbeda dengan Muchtar Lubis yang masih sempat mengungkap sejarah lewat catatan hariannya di penjara, pun demikian dengan Pramoedya Anantatoer. Ketika dia dalam masa tahanan di pulau Buruh, pria nasionalis ini  menyelesaikan novel sejarah yang membangkitkan spirit perjuangan pribumi. Salah satunya adalah buku Anak Semua Bangsa ini. Sebuah buku serial kedua yang memiki pertalian kisah dengan buku sebelumnya, Bumi Manusia.

Dalam buku  Anak Semua Bangsa, terdapat banyak konflik yang hadir. Satu per satu dinampakkan oleh mas Pramoedya secara apik dan menarik. Tokoh –tokoh dalam cerita terasa hidup di dunia nyata dan benar adanya di tengah-tengah kita.

Tokoh-tokoh seperti Nyai Ontosoroh, Minke, Jien Maralis, Khommer, Panji Darsam, Annalies, dan beberapa tokoh lainnya, punya kekuatan karakter yang membuat kita terkagum-kagum. Namun dalam review ini saya hendak menyampaikan dua tokoh sentral pembangun isi cerita yakni Nyai Ontosoroh dan Minke. Dua tokoh ini menjati titik sebuah kejadian-kejadian hebat dalam alur kisah dalam novel ini. Sebab, sudut pandang novel ini meminjam mata Batin tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh untuk menyampaikan pergulatan Batin Mas Pram atas kondisi bangsa.

Seperti halnya Nyai Ontosoroh, seorang janda pribumi yang menikah dengan dengan lelaki Eropa yang kaya raya. Punya sebuah perusahaan. Beliau adalah tokoh yang bijak dan selalu menjadi guru bagi Minke, seorang menantunya yang menikahi  anaknya, Annalies.

Nyai Ontosoroh adalah wanita pribumi yang punya hati yang cukup bijak dalam menyakapi kehidupan. Meskipun dia kaya, tapi tidak serta merta menghinakan kaumnya sebagai rakyat pribumi. Hal ini bisa dibuktikan degan beberapa sikapnya terhadap orang-orang di sekitarnya.

Sikap bijaknya ini bisa dilihat ketika menangapi keluhan Darsam, tokoh pesuruh dalam keluarga Nyai Ontosoroh. Ketika itu  Darsam lumpuh. Tangannya sobek oleh tembakan seorang musuh.

Darsam menghiba:

“Nyai, sebagaiamana sebelum ini penghidupan tergantung pada jari-jari tangan kanan. Dengannya aku bisa lakukan perintahmu, semua perintahmu: mngusir, mengantar susu,  mengangkat parang dan berkelahi, menarik rekening,  menjaga keamanan, mendapat kewibawaan atas semua itu” 

Keluhan Darsam di atas malah dijawab dengan belas kasih. Tidak memandang Darsam sebagai pembantu, ajudan, atau pesuruh yang hina. Bahkan, nyai Ontosoh menyuruhnya berobat dan meminta agar anaknya diberi pendidikan dan tidak menjadi pribumi yang bodoh. Dengan bijak nyai berpesan:

“Apa  arti kerusakan pada jari-jari kanan tangan kanan, kalau hati tiada rusak? Nah sana tidur kau!” perintah Nyai Ontoh soroh.

Dari pernyataan ini jelas bahwa Nyai menyelipkan satu pesan bijak kepada pribumi. Bahwa tubuh boleh rusak, tercabik oleh parang, tergores oleh panah, teriris oleh sembilu, tapi tetap semua luka itu tidak ada apa-apaya dibanding hati yang selalu damai dan tidak rusak oleh satu apapun.

Dalam hal ini, Nyo Ontosoh menekankah bahwa hati adalah satu hal yang paling bebarti dalam dunia ini. Jasad boleh lunak dan berantakan di makan usia, tapi hati tetaplah dijaga agar tidak rusak dan dirusak oleh kemewahan dunia.

Kebijaksanaan Nyai Ontosoh pun hadir saat dia harus menyangi orang yang sempat berbuat jahat kepadanya, salah satunya adalah Babah Kong. Seorang penjahat yang sempat berniat merusak tatatan keluarganya. Saat orang lain membenci siapa yang telah menyakitinya, tapi Nyai Ontosoroh malah memberi kasih kepada orang-orang yang sempat menyakitinya.

Dalam pandangannya, kesalahan bukan berarti membuat dia gelap mata dan memandang kejahatan selalu hitam dan putih. Ada saat orang mau bertobat, dan itu yang diberikan oleh Nyai Ontosoroh kepada Babah Kong. Bahkan, Memberi pekerjaan kepada lelaki mantan Polisi kelas satu Menado itu.

Nyai Ontosoroh juga menekankan kepada setiap kita, sebagai manusia untuk tetap menghargai sebuah persahabatan. Karena sahabat adakalanya menjadi energi yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun. Jika ikatan persahabatan bisa kuat, maka sulit untuk dikalahkan oleh musuh. Dalam ungkapan sederhana, Nyai Ontosoroh berujar kepada Minke :

“Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat segalanya. Jangan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.” ( Halaman : 484) 

Ada banyak petuah inspiratif yang bisa diambil dari wejangan Nyai ontosoroh dalam novel ini. Namun, penulis tidak hendak menuliskannya di dalam review ini secara keseluruhan.

Selanjutnya, tohoh kedua yang cukup kuat dihidupkan mas Pramoedya Anata Toer setelah Nyai Ontosoroh, adalah tokoh Minke. Seorang Jurnalis Hindia Belanda. Minke adalah sosok yang sangat mengangumi bangsa Eropa. Dia banyak menulis untuk media-media asing, tentu dalam bahasa Belanda. Wajar jika dia cukup terkenal oleh banyak kalamgan pembesar Eropa. Dari jiwa menulisnya itu, akhirnya dia menemukan jati diri bangsa  sebagai pribumi.  Mencintai bahasanya, mencintai bangsanya, mencintai jati dirinya sebagai golongan pribumi.

Dalam petualangannya itu terungkap data-data, dimana sebuah konspirasi besar yang selama ini mengangki bangsa Hindia belanda ( Embrio Indonesia ).  Mas Pramodya Anantatoer mengambil satu ilustrasi sebuah publik Gula yang menyengsarakan rakyat Pribumi. Terlepas nyata dan tidaknya pubrik gula tersebut. Tapi pada kesan  yang dibangun dalam ilustrasi Pabrik Gula cukup kontras dan jelas merujuk pada penjajahan.

Minke, Toko Mas Pram, menuliskan kejayaan perusahaan Eropa yang menyetubuhi  tanah Hindia Belanda. Dia mengungkap bahwa kejayaan itu tidak lepas adalah lingkaran ekonomi setan, kapitalis. Ditambah lagi, dalam petulangan Minke, ditemukan bahwa media-media yang hadir di saat itu sengaja dibuat oleh perusahaan agar memuluskan perjalanan usaha dagang gula.

Minke, sebagai Jurnalis di perusahaan penerbitan, juga akhirnya tahu media yang dia tunggangi sebenarnya milik penjajah, pabrik Gula. Sehingga, tulisannya tentang seorang petani yang dianiaya terpaksa ditolak dan tidak diterbitkan. Karena mengganggu asas kedamaian perusahaan Gula.

Dalam kasus ini mas Pramoedya ingin sekali menyampaikan  bahwa, media adalah senjata yang selama ini menjadi tameng kekuasaan. Tidak hanya di zaman Eropa ketika menduduki bangsa Hindia Belanda. Tetapi juga kondisi ini relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Dimana media menjadi tank-tank penguasa yang siap membombardir segala isu yang akan merugikan kepentinganya. Saat media menjadi kacung kapitalis, mulailah Minke menulis dengan bahasa melayu, bertarung nasib lewat koran lokal sahabatnya, Khommer. Dia menumpahkan segala sesak yang dia rasakan dalam koran itu.

Minke ingin rakyat pribumi dan dunia tahu bahwa telah terjadi penindasan terstruktur di kalangan petani bawah. Tapi banyak yang tidak tahu. Itulah sebabnya, Mas pramoedya, lewat tokoh Minke mencapkan sebuah ungkapan seperti ini:

“Ketidaktahuan adalah aib, dan mensia-siakan orang dalam ketidaktahuan adalah hianat” ( Hal : 389)

Minke dalam diciptkan sebagai tokok yang tidak ingin disebut penghianat. Dia ingin semua penduduk pribumi tahu bahwa ada derita rakyat  di pelosok desa, ada mereka yang ditindas dan dilindas kapitalis Eropa di sudut desa. Tak hanya itu, dalam tokoh Minke, menanmkan sebuah prinsip bahwa lari dari masalah  adalah sebuah tindakan kriminal. Sehingga prinsip ini menjadi pemicu tokoh Minke untuk terus berjuang demi harkat dan martabat bangsanya, Hindia belanda ( Indonesia)

Dalam Novel ini, Mas Pramoedya ingin mengungkap bagaimana sepatu Eropa lebih berharga dari satu orang rakyat pribumi. Tentang harga diri rakyat pribumi ditimbang-timbang dari sehelai pakaian Eropa. Bahkan, ketika itu rakyat pribumi tidak berani mengangkat alis mata walau sejengkal ketika berpapasan di jalan dengan orang Eropa.

Tak hanya itu, lewat Tokoh Minke, Mas Pramodya melukiskan kisah tentang sahabat dan keluarga. Hal ini bisa dilihat dalam sikap Minke terhadap seorang pembantu di rumah mertuanya, Darsam namanya.

“Bagus Darsam, Arloji ini memang cocok untukmu.Pakailah sebagai kenang-kenangan dari seorang muda yang tak dapat  lupakan terima kasihnya padamu.” ( Halaman : 374) 

Jam tangan itu adalah jam tangan Emas yang dihadiahkan Bundanya. Tapi Darsam memberinya sebagai bentuk kasih sayang. Tiada dia memandang Darsam sebagai pesuruh, bahkan dia menganggap Darsam sebagai paman. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup ini, tak baik kiranya memandang seorang perja di rumah kita selayaknya budak, diperlakukan dengan kasar hanya karena dia dibayar oleh rupiah yang kita punya.

 Mereka juga manusia, yang harusnya merdeka dari segala hina dari kaum yang sok berkuasa. Dalam hal ini, Minke ingin mengajari kita semua tentang bagimana bersikap kepada manusia dengan tidak memandang status sosial yang disandang.

Selain tokoh-tokoh yang filosofis yang diutus oleh mas Pramoedya, novel ini juga menggambarkan bagaiamana nasib wanita pribumi. Salah satu kisah yang dikuatkan dalam tulisan Minke adalah Surati, gadis malang yang mati setelah jadi gundik oleh tuan Administratur Pabrik Gula.

Di sini, dijelaskan bahwa anak wanita harus tunduk patuh kepada titah seorang ayah. Seolah seorang ayah adalah tuhan kedua setelah Allah. Kata-katanya bak sebuah garis takdir yang tidak bisa ditolak. Inilah yang dialami Surati ketika dia harus menjadi gadis Gundik dan tidur seorang lelaki yang bukan halal baginya.

Tapi pun demikian, Surati tidak menyesal. Sebab dia telah merasa berbakti sebagai seorang anak. Apalah arti sebuah kehormatan wanita dibanding rasa malu seorang ayah. Bagi itu ayah adalah sebuah manusia sakral yang harus dijunjung tinggi, bahkan rela harus menjadikannya tumbal sekalipun.

Polemik lain juga yang hendak dihadirkan mas Pramodeya dalam novel ini adalah soal bagimana pribumi memandang dirinya lebih hina dari bangsa-bangsa Eropa, belanda. Padahal, pribumi harusnya bangkit dan meletakkan harga dirinya seperti bangsa lain di atas bumi.

Dalam hal ini, Mas Pramodeya memberi gambaran kejayaan jepang yang mampu berdiri sejajar dengan Bangsa kulit putih. Mass Pram mau bangsa pribumi menjadi negara matahari terbit ini. Kuat membangun rakyat, mendidik anak-anaknya hingga mampu menguasai ilmu pengetahuan dan menjadi bangsa yang besar yang disegani dunia.

Lewat tokoh Minke, Mas Pram mendudukan peroalan itu dengan jelas. Sebagai generasi harapan, Minke di utus mas Pram untuk merombak tatanan kehidupan rakyat primbumi dengan membangun sekolah bagi rakayat Hindia belanda. Hal ini ditopang langsung oleh tokoh perempuan yang cukup bijak, Nyai Ontosoroh.

Novel ini dalam pandangan saya punya banyak konflik yang cukup rumit. Bahkan pembaca kadang kalau tidak jeli, akan terjebak dalam satu konflik. Padahal konflik dalam cerita ini ibarat sebuah gurita, menyebar dan akan bertemu di satu titik akhir. Semua konflik harus disambung-sambung sediri oleh pembaca. Karena novel ini cukup berat tapi tetap enak untuk dibaca. Sebab, selipan kata-kata dan gaya penceritaannya berciri khas melayu. Sehingga lebih nyaman dan renyah untuk diresapi.

Novel ini sangat direkomendasikan dibaca oleh kaulah muda, jurnalis, penulis buku, atau tokoh politisi. Sebab dalam novel ini sudah memberi gambaran cukup jelas kemana arah dan peta perjuangan bangsa. Mualai dari konsporasi, kapitalis, penindasan tertruktur, dan langkah perjuangan yang bisa ditempuh. Buku ini seolah sebuah panduan buku bertata negara tapi dilukiskan dalam bentuk narasi kisah novel. Selamat membaca!