September 07, 2015

Hasna Lamondji, Gadis sederhana dengan Prestasi Gemilang


 Jika banyak wanita yang hanya sibuk berdandan, mempercantik diri dengan polesan semu, berbeda halnya dengan Hasna Lamondji, putri kelahiran Gorontalo, 25 desember ini. Dia tampil apa adanya, tapi tetap terus mencetak prestasi yang gemilang. Itulah yang menjadikannya terlihat satu level berbeda dari para gadis umumnya.

Penampilannya yang sederhana, tidal lantas membuatnya redup dalam pencaturan akademik. Malah, kesederhanaan itu membuatnya terus melejit dan mampu merebut target-target prestasi gilang gemintang. Semua itu dilakukannya dengan modal prinsip sederhana pula.

" I just be my self and that's the way I am.
I stand on my foot". Katanya, dalam sebuah wawancara.

Dari ungkapan ini, dia ingin menjadi diri sendiri, berdiri di kaki sendiri, tanpa harus bergantung atau pun mengekor pada kesuksesan orang lain. Dia lebih memilih jalannya sendiri meskipun itu terbilang sulit. Alhasil, dalam masa pendidikannya meraih sarjana, banyak prestasi yang dia torehkan.

Tercatat, Hasna penah menjadi finalis English Debating Championship GPBN tingkat Nasional di Malang tahun 2007, dan di Bandung 2008, Debat English Expo se-sulawesi kendari 2012, Duta Bahasa 2011, Jambore Bahasa 2012. Terakhir, mimpinya untuk ke luar negeri pun tercapai. Dia sempat melukiskan prestasinya di langit Kanada tahun 2013 dalam program Canada World Youth/Indonesia Canada Youth Exchange Program participant 2013/2014.

Tekad yang kuat, prinsip hidup yang dinamis, menjadikan gadis yang sering disapa Elis ini terus melaju, mencetak prestasi hingga batas kemampuannya. Untuk menciptakan peluang prestasi, dia mencoba membangun mitra dengan segala instansi pemerintah, baik itu lokal mau pun nasional. Sehingga, arus informasi dan lomba begitu cepat sampai padanya melebihi pemuda umumnya yang sering menunggu datangnya informasi. Hasna, memang satu langkah lebih maju dalam mencari informasi terkini dunia akademik.

Hasna bukanlah sosok yang pendiam. Boleh dibilang, dia adalah manusia domaden di era modernisasi. Dia terus berpindah-pindah dan suka merantau. Dalam hidupnya, terekam bahwa putri dari Darisman Lamondji, Ibu Rahmin Mohi ini pernah tinggal 10 tahun di Bintauna, Sulawesi Utara, lalu pindah dan memilih studi di SMK 1 Gorontalo. Sampai akhirnya dia meraih gelar S1 pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Gorontalo.

Seperti halnya roda kehidupan, pasti mengalami masa-masa sulit dalam hidup. Begitu pun dengan Hasna Lamodji. Sejak kematian sang ayah, dia seperti kehilangan satu pijakan dalam hidupnya. Hari-harinya penuh masa kelam. Ayahnya, tempatnya menumpahkan segala curahan hati, telah berpulang ke rahmatullah. Saat itulah masa terpuruknya. Nyaris, kehidupannya tamat dan sempat putus asa dalam hidup.

“Bagi saya, Ayah adalah segalanya. Teman diskusi, tempat curhat, pokoknya segalanya dengan ayah". Katanya saat diwawancarai oleh media cahaya pena.

Dari kehidupannya, banyak orang belajar tentang eksistensi kehidupan sebagai wanita. Saat isu menyeruak bahwa perempuan itu lemah, perempuan itu bodoh, dia malah  tampil untuk melawan asumsi itu. Dia buktikan pada publik bahwa perempuan bisa lebih cerdas dari anggapan sosial umumnya. Hal itu pun terwujud dalam hidupnya.

Selain cerdas dan sederhana, Hasna juga dikenal sebagai sosok pebisnis hebat. Sejak sekolah dia sudah berbinis dengan memelihara sapi. Lantas sapi itu dijual jika telh beranak pinang. Penghasilan dari itu dipakainya untuk membiayai pendidikan. Sampai akhirnya tamat meraih sarjana, dia mampu mandiri secara finasial untuk biaya kuliah. Hal ini tentu menjadikannya menjadi pribadi yang patut dicontoh oleh kebanyakan wanita.

Satu hal yang pasti dalam hidupnya. Dia selalu yakin  akan sebuah ungkapan, “ Man Jadda wa jadda”. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dia dapat. Kalimat itu baginya seolah menjadi mantra ajaib dalam hidup. Dia pun ingin semua orang bisa memahami hikmah di balik ungkapan itu. Hasna telah membuktikan hasilnya. Kini giliranmu mencetak prestasi gemilang selanjutnya.

Gorontalo, 6 September 2015.