September 12, 2015

SOS Children's Village Bali dalam Bingkai Cerita Mas Agung

I Gusti Agung Made Sucewa/ Kepala Desa SOS Children's Village Bali

Pagi yang cerah. Anak-anak yang tinggal di SOS Children's Village Bali, Tabanan, sudah berbondong-bondong berangkat ke sekolah. Langkah mereka tegap, seiring dengan matahari yang mulai meninggi. Terlukis di wajah anak-anak itu senyum penuh ceria, juga harapan-harapan yang melambung tinggi. Binar mata mereka jenaka, gelak tawa mereka menderu seolah telah hilang kesedihan dalam diri mereka untuk selama-lamanya.

Saya berdiri di pintu gerbang. Melihat mereka yang saling berangkulan, berjalan sejajar, sambil bercanda di sepanjang jalan desa anak. Mereka seperti berkarib akrap, merasa telah lahir dari rahim yang sama. Meskipun kenyataannya mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda.

"Mereka adalah anak-anak yang kehilangan harapan dan tempat untuk berbagi cerita. Maka, SOS Children's Villages ini memberi mereka ruang. Di sini mereka diasuh dengan cara terbaik. Mereka diberi rasa aman, nyaman, dan asuhan yang baik." Kata I Gusti Agung Made Sucewa, putra Bali yang telah mengabdi 24 tahun itu.

Dalam cerita lelaki yang sering disapa mas Agung itu, bahwa anak-anak asuh SOS Children's Villages diberi bekal untuk masa depan sesuai dengan minat mereka. Ada yang hobi menjadi penari, mereka terus dibina menjadi penari. Ada yang bercita-cita menjadi guru, mereka disekolahkan hingga perguruan tinggi. Nanti, setelah mereka sukses, pihak SOS Children's Villages mulai melepas mereka secara mandiri.



"Setelah mereka keluar dari sini ( Desa Anak ) mereka ada yang membuka bengkel, ada yang membuka lahan tani, ada yang jadi dosen, ada yang jadi pegawai Bank, ada yang jadi tentara. ada programer, dan owner Majalah, ada yang sudah punya rumah makan. Mereka kini telah sukses. Dan itu visi SOS Children's Villages memang." ujar lelaki kelahiran 6 november 1949 ini.

Dalam memperjuangan desa anak, banyak tantangan yang dihadapi SOS Children's Villages. Pernah, kata mas Agung, SOS Children's Village Bali pertama kali dilarang beroperasi. Karena tersiar isu bahwa organisasi atau yayasan ini akan membawa isu agama. Maka lahirlah narasi tentang misionaris, dimana anak-anak Bali katanya akan diarahkan ke satu agama dan melupakan agama aslinya. Isu ini menyeruak dan menjadi hambatan dalam pelaksanaan progam.

"Padahal sudah disosialisasikan, bahwa ini tujuannya untuk menolong anak-anak yang butuh pengasuhan yang layak." tutur mas Agung, pria yang pernah juga menjadi anggota dewan perwakilan rakyat ini.
 
Maka untuk memulai perjuangan SOS Children's Villages ini, Mas Agung mencoba menjadi guru les matematika dan bahasa Inggris. Hal ini dilakukannya untuk membangun kepercahayaan masyarakat bahwa hadirnya SOS Children's Villages adalah murni untuk pengasuhan dan pendidikan karakter anak. Membangun jiwa kemandirian bagi mereka yang kurang mendapatkan perhatian dari keluarganya atau bagi yang sudah tak berkeluarga.

Seiring berjalannya waktu, SOS Children's Village Bali mulai dikenal. Masyarakat mulai memahami esensi dari visi yayasan non profit ini. Pemerintah pun seiring waktu mulai ikut menmambil bagian dalam pengembangannya.

"Dinas sosial mulai terlibat soal perekrutan." tambahnya.

Dalam keterangan mas Agung, SOS Children's Village Bali kini telah memiliki 149 anak. Setiap village terdapat 12 rumah dan setiap rumahnya terdiri dari 8 sampai 10 orang anak. Setiap rumah telah disediakan satu ibu asuh.

"Jadi setiap rumah, ada ibu asuhnya. Selama menjadi ibu asuh, tidak boleh menikah. Agar nanti perhatiannya bisa fokus ke anak-anak. Nanti, kalau ibu asuhnya menikah, maka akan digantikan oleh yang lainnya. Jika ibu asuhnya sudah tak bersuami, maka dia boleh membawa anaknya ke sini, dan diasuh sama-sama." tambah mas Agung, lelaki yang juga aktif di gugus depan pramuka ini.

Pengalaman mas Agung  memang cukup sulit. Dulu, katanya, dia harus bolak balik sejauh 5 kilo meter per sehari. Tapi dia tetap bersemangat bahwa apa yang dilakukannya adalah mulia.

" Saya pernah nubruk truk. Nyaris mati. Tapi Tuhan sepertinya belum mau mencabut nyawa saya, karena dia tahu saya harus mengabdi di desa anak ini". kisahnya, disambut senyum ceria.

Perjuangan  mas Agung sedikit menyentak nurani saya. Betapa, apa yang dilakukannya begitu berat dan panjang. Bahkan, dia rela merelakan segala iming-iming kekuasaan untuk bertahan dalam isu pendidikan anak. Dalam karir, katanya, dia pernah menjadi salah satu kandidat kuat Bupati. Tapi, lantaran jiwanya terpanggil untuk mengabdi di SOS Children's Village Bali, dia rela mundur dari pencalonan calon Bupati. Kemudian memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya bertahun-tahun dalam pengasuhan anak.

Kalau Mas Agung bisa? kamu sebagai pemuda kapan?
Hayo dukung SOS Children's Villages di daerahmu. Jadilah bagian yang selalu menjadi pelopor pengasuhan bagi anak-anak butuh perhatian. Karena, kalau bukan kau nunggu siapa lagi? Mari bergandeng tangan memulai kepedulian kita. Salam Cinta SOS Children's Villages Indonesia.