Mei 20, 2013

Maaf Bro ! Mahasiswa Bukan “Agen” Demo


Ilustrasi
Predikat Mahasiswa adalah sebuah prestise yang sungguh diagung-agungkan. Dengan itu ia Merasa diri lebih cerdas dari siapapun, merasa diri lebih benar, merasa diri paling hebat dan lain sebagainya. Itu hal yang wajar-wajar saja,  karena mungkin mahasiswa berfikir, dialah kaum intelektual yang lebih bijak dan benar dalam segala hal. Meski pun demikian, ada hal yang sangat “mengerikan” ketika predikat mahasiswa itu disandang, yakni disaat mahasiswa terlihat “ bodoh”.  Ada pun maksud penulis dalam perkataan “bodoh” Adalah saat mahasiswa harus berteriak di jalanan tanpa ada pengetahuan yang kuat, argumentasi yang logis dan tak berdaya saat  mempertahankan apa yang menjadi  sudut pandangnya.

Sebagai mahasiswa yang kritis, tentu sebelum  melakukan demonstrasi, segala amunisi berupa titik balik dalam berfikir tentu telah dibungkus dengan segala persiapan dan  konsep yang matang. Shingga kematangan ide dan narasi berfikir bisa terterima oleh lawan. Ide-ide yang ditawarkan pun mampu menjadi solusi yang terbaik. Akan tetapi, jika hal ini tidak dilakukan,  mahasiswa tak ubahnya sebagai  sapi yang siap diarak kemana saja. Dan  sunguh -Sungguh sangat mengerikan jika hal ini terjadi.


Sebagaian Mahasiswa mahasiswa mengatakan “Aku adalah mahasiswa idealis yang siap memperjuangkan hak-hak rakyat !” Alangkah kata-kat itu yang menggugah dan membakar semangat. Ironisnya,  kata-kata itu hari ini tidak bermakna lagi. Ibarat kotoran jalanan yang tak sudi dipungut lagi oleh rakyat.  Andaikan pernyataan itu  bergeming di era dulu, tentu kondisinya akan berbeda. Kata-kata itu jauh lebih bermakna bahkan  memiliki ruh yang kuat untuk merasuki pemikiran para oposisi  atau “ Oknum Pejabat”.

Apa yang salah dengan mahasiswa?
Jika sepintas membuka   lembaran sejarah tentang celoteh  idealisme sosok mahasiswa di zaman dulu dan sekarang tentu sangat kontras. Jika mahasiswa di zaman dulu mekakukan demo, rakyat antusian menyambut dengan dengan segelas air minum di depan rumahnya. Mereka  meyambut mahasiswa yang kehausan untuk meminum seteguk air pelepas dahaga di bawah terik matahari. Ini adalah simbol dukungan rakyat, lalu kemudian itu lahir sebagai energy positif bagi para mahasiswa kala itu.  Persoalannya bukanlah  pada secangkir air, tapi kepedulian dan dukungan moril itulah yang patut di apresiasi setinggi-tingginya. Pertanda suara mahasiswa benar-benar atas suara rakyat. Sayangnya,  kalau kita melihat kondisi demo mahasiswa saat ini, seteguk air di saat demontrasi kini bergant sekarung batu untuk mahasiswa, batu-batu itu bukan untuk membantu malah dilepari ke mahasiswa. Faktanya adalah beberapa universitas yang ada di Idonesia harus menjadi lawan rakyat ketika turun aksi.



Temuan yang cukup mengecewakan adalah disaat mahasiswa tidak lagi peduli pada kepentingan orang banyak. Banyak oknum mahasiswa yang hanya memperjuangakan dirinya sendiri dengan menjadi peliharaan para elit-elit tertentu. Ada yang dijadikan sebagai benteng dari kekerasan ( Ajudan ), Ada yang menjadi agen demo dalam artian jika ada orderan demolangsung rame-rame terik “hidup mahasiswa. Hidup rakyat”.   Hal ini bukan lagi “pelacur idealis”  tetapi “anjing-anjing bejat”.  

Kondisi di atas memberikan stimulus bagi penulis sebagai seorang mahasiswa yang hanya mengabiskan waktunya sebagai teropong kampus di depan sebuh laptop. Kondisi di saat idealisme mahasiswa terjualan atas nama kepentingan personal. Daya nalar mahasiswa semakin tumpul dengan lembaran rupiah. Harga dirinya pun runtuh di atas paha-paha “kucing” peliharaan oknum pejabat. Ada pula yang menjadi “anjing” di rumah pejabat agar si oknum tadi bisa tidur nyenyak dari para oknum lainnya yang berseteru.

Beberapa fenomena sederhana yang telah penulis uraikan di atas mungkin bisa jadi  satu gambaran ada sesuatu yang salah dengan mahasiswa. Entah itu nilai perjuangan yang melenceng atau perjuangannya tidak mendapat restu dari rakyat. Ini perlu menjadi evaluasi bersama. Jangan sampai predikat intelektual akan berganti dengan “ mahasiswa Agen Demo” mau demo atas pesanan dan bukan atas nama rakyat lagi.



Sebagai kesimpulan, penulis ingin berpesan kepada para mahasiswa bahwa untuk memperjuangankan kebenaran atas nama “demontrasi”  adalah hal mulia. Harapannya,  hal-hal yang diperjuangakan pun atas dasar kemanusiaan bukan kemahasusahan. Maka dari itu, kembalilah ke jalur kebnaran jika sudah ketersesat. Berjuanglah dengan asas kemanusian, jangan sampai atas dasar nominal kotrak di bawah meja dengan elit-elit tertentu. Ingat!  “mahasiswa yang cerdas dan kritis tidak dilihat dari seberapa lantang suaranya saat di megaphone, tetapi yang dilihat adalah seberapa bijak dirinya dalam menaggi setiap polemik”. Mari kawan ! Harapan itu masih ada ! rakyat menunggu jiwamu untuk mengekseskusi titah rakyat jalatah.