Juni 27, 2013

Ide Menulis dari rasa marah !


Dunia maya dan kompi komputer tak bisa lepas dari hadapan saya. Setiap saat, saya selalu merindukan informasi yang berterbangan di dunia maya. Sehari saja absent dari dunia maya, tidur pasti tak akan nyenyak. Mungkin boleh dikata telah kecanduan dunia maya. Tapi, saya tak peduli akan hal itu. Sebab yang terpenting saya bahagia dengan apa yang saya lakukan.

Beberapa tulisan saya,  semuanya adalah prodak amarah. Setelah saya merenung, ternayata saya bisa menulis jika saya sedang marah. "Mengapa ya demikian?. Saya pun menemukan jawabannya dari perkataan seorang sastrawan Andrea Hiarata. Ia berkata "Tulislah apa yang kamu rasakan, biarlah orang lain yang meraskaan apa yang anda tuliskan". Kalimat ini memberikan pelajaran bagi saya bahwa penulis  itu harus melandaskan tulisannya dalam  emosi. Entah emosi marah atau bahagia.

Saya sendiri adalah penulis lepas yang menulis dari ide rasa marah. Kondisi marah inilah yang  menggoda saya untuk menuliskan apa yang selama ini terkubur dalam perasaan. Sampai akhirnya, tulisan saya pernah dimuat di salah satu media parpol. Tulisan itu tentang independensi media dalam komunikasi politik. Tulisan itu  membuka kebobrokan media dalam kontrak politikmembedakan mana berita orderan dan mana benar berita nyata.

Terkadang tulisan saya dianggap konyol. Tetapi saya tak memperdulikannya.  Hal terpenting  adalah perasaan saya sudah tersalurkan. Terterima atau tidak, itu adalah hak mutlak publik.Selain itu, rasa marah membuat saya harus menghabiskan malam dengan setumpuk buku. Karena menulis tanpa membaca juga bego. Apa yang kita tuliskan sementara kita tak punya apa-apa untuyk dituliskan. Akhirnya saya membuat kebiasaan baru yakni membaca sambil menulis. Saya pernah menghabiskan dua buku dengan tebal rata-rata 150 halaman  dalam semalam. Tak terasa, sebab didorong oleh emosi. Imbasnya, saya tidur  sepanjang hari  dan tidak melakukan aktivitas. Setelah bangun, barulah saya langsung meluapkan emosi saya dalam kata-kata.

Itulah caraserhana saya menulis. Saya menfaatkan rasamarah itu untuk menjawab opini luar. Nah, sekarang kamu bagaimana? Apakah Anda sudah memanfaatkan amarah untuk bisa menulis? jika belum, cobalah menulis dalam keadaan marah. Anda akan menemukan perasaan yang berbeda dari biasanya. Akan ada titik kepuasan tersendiri saat tulisan Anda selesai. Sekarang ambil kertas dan mulailah menulis.