Juli 14, 2013

Aku membaca, aku berfikir, aku menulis

Sering sekali saya bertemu dengan kebanyakan orang yang selalu bercerita keinginan mereka menjadi seorang penulis. Namun, hanya sedikit dari mereka yang benar-benar serius akan keingianannya itu. Selalu banyak alasan yang mereka gelontorkan, misalnya; ngak tahu harus menulis apa, harus dimulai dari mana, dan bagaimana cara menuliskannya, sedikit refrensi bacaan, belum punya ide, sudah menemukan hal menarik untuk ditulis dan lain sebagainya. Padahal, menulis tidak serumit proses dan tahap seperti  itu. Kita hanya cukup melakukan tiga tahap, kita bisa melahirkan banyak tulisan.
:-) :-)

Ada pun tahapan itu yakni; Membaca, berfikir, dan tuliskan. Cukup baca apa yang ada disekitar kita, pikirkan tentang hal itu, dan tuliskan apa komentar dan solusi yang kita tawarkan. Maka jadilah sebuah artikel runut dan baik. Jadi, taka ada yang sulit dalam menulis. Semuanya mudah, tergantung dari cara kita membaca dan berfikir dari sudut yang mana. Dan ingat, tidak ada undang-undang tentang paragraf yang mengatur dan memborgol ide kita. Jadi, biarkan dia mengalir bagai air.

“Tulislah apa yang kita rasakan dan biarkan orang lain mersakan apa  yang kita tuliskan”  (Anonim)

Dalam definisi umum, membaca adalah proses transformasi ilmu pengetahuan dari tulisan ke dalam pikiran dan perasaan. Sementara menurut para aktivis perpus mengatakan membaca itu memngahabiskan buku bacaan dari barisan buku yang bertumpuk dalam perpustakaan. Tetapi, bagi seorang penulis, membaca akan bermakna universal. Membaca diartikan sebagai proses pemaknaan suatu fenomena atau pengetahun kedalam pemikiran, yang kemudian divisualisasikan dalam bahasa tulisan. 

Menulis memang cukup sederhana. Kita hanya cukup  melihat, merasakan dan memaknai satu fenomena dengan menambahkan komentar kita akan hal tersebut, maka satu tulisan bisa tercipta. Belum percaya? Mari kita uji kebenaran. Ketika diperjalanan yang macet, Anda melihat anak kecil meminta-minta dengan membawa kaleng kecil, apa yang Anda pikirkan tentang anak itu?, apa yang Anda ingin rasakan tentang hal itu?, terakhir apa yang ingin anda sampaikan tentang hal itu? dan seterunya. 

Dengan langkah sederhana ini, kita sudah bisa menuliskan apa yang ada di otak kita. Kan, tidak butuh referensi tentang teori kemiskinan lagi. Langsung saja tuliskan apa yang ada di depan mata. Jadi deh tulisanya. Bagaimana, masih ngak mau menulis? Hal menarik yang dikatakan oleh Ali Bin Abu thalib ra. "Semua Penulis akan mati, kecuali karyanya". Jadi, sebelum keburu mampus, langsung saja menulis.




Jadi, inti dari menulis tidak perlu banyak syarat yang susah-sudah. Cukup  tiga langkah yakni; Baca , pikirkan dan tuliskan. Insya Allah idenya pasti mengalir bagai air dan tak bisa dibendung. Semoga tidak kebanjiran . Peace! bercanda maaf ya, semoga saja tulisan ini menginspirasi. 