November 23, 2013

Surat Cinta KAMMI untukmu Para Aktivis Da'wah


Pagi buta seusai melaksanakan sholat subuh, Ana sedang mempersiapkan segala hal untuk persiapan pelantikan KAMMI Daerah Gorontalo. Jarkom telah disebarkan dan tiga mobil operasional sudah disiapkan. Namun, dalam hati ini ada perasaan khawatir yang mendalam, “Ko kader-kader belum ada ya? Pada kemana? Padahal jarkomnya jam 7 sudah stay at Maskam dan siap berangkat. Perasaan ini pun makin gelisah.

Terbetik dalam hati, “Beginikah jalan da’wah? Dimana semua orang sudah merasa jenuh dengan nikmatnya jihad? Atau karena semua telah meninggalkan da’wah ini karena membawa kekecewaan masing-masing?” Ah semua terasa hampar. Ketika Ana menyapa Antum lewat sms, Antum balas dengan sejuta alasan, Antum sibuk tugas kuliah menumpuk, Antum sibuk agenda nyuci baju, Antum sibuk temani adik di rumah dan masih banyak lagi.

Padahal, kader da’wah kampus dulunya, jauh sebelum sirene perjuangan dibunyikan, mereka sudah siap sedia berbaris menanti amanah da’wah. Bahkan, ada yang rela tidur di sekretariat untuk merancang masa depan da’wah. Ana masih ingat perjuangan seorang kader da’wah yang rela menggadaikan motor pribadinya untuk menyokong biaya pelantikan KAMMI di tahun 2013 kemarin.

Ada ruh perjuangan yang menungangi jasad mereka. Mata mereka rindu akan bantal guling, namun mereka melawan rasa kantuk itu. Mereka selalu dipompa semangat untuk mengambalikan kejayaan dan kemakmuran negeri ini. Tak kenal lelah, tak kenal letih, butiran keringan mereka bercucuran untuk perjuangan yang mulia. Sungguh dedikasi yang patut diacungi jempol.

Tapi sayangnya, semangat tadhiyah itu lambat laun semakin pudar. Kader-kader da’wah sudah mulai tenggelam dalam hiruk pikuk dunia. Mereka lupa akan hakikat perjuangan.

Andai kata kader da’wah mulai merenungi kembali pengorbanan Syekh Ahmad Yasin, seorang kader da’wah Pendiri Hamas palestina, yang akhirnya syahid di jalan Allah karena tembakan rudal dari bangsa kafir laknatullah. Sebelumnya, di tengah keterbatasani fisik, beliau ingin menghabiskan hidupnya untuk berda’wah. Meski pun hari-hanya banyak di kursi roda. Karena itu, akhirnya dia melakukan perlawan da’wah lewat tulisan-tulisan dan  dari pintu majelis ke pintu majelis lainnya. Hal itu dia lakukan tanpa berkeluh kesah, dia cacat dan lain sebaginya. Gerakannya mampu menggemparkan dunia. Bahkan, Amerika pun harus menggelontorkan dana yang cukup banyak hanya untuk membunuh seorang yang menghabiskan waktunya di kursi roda. Ini pertanda, seorang kader da'wah dimana pun, mereka akan selalu membawa rasa takut bagi lawan islam.

Itulah sosok Syekh Ahmad Yasin. Lalu, bagimana dengan antum yang memiliki banyak talenta? Apakah antum akan terus menerus tenggelam dengan kekecewaan? Atau akan pergi meninggalkan istana da’wah ini untuk selamanya.

Ayyuhal Ikhwah…
Ana rindu semangatnya Antum
Ana rindu semangat Antum yang dulu
Ana rindu ide-ide brilian Antum yang dulu
Ana rindu Liqo bersama Antum lagi
Ana rindu suara Antum lagi di jalanan sambil memegang megaphone

Akhi, tangan Ana memang tak bisa merangkul antum yang tengah menjauh. Tapi, hati dan pikiran Ana masih menyimpan kenangan kita bersama. Mari kita kuatkan kembali kisah da’wah yang kita bangun. Mari kita kembali rapatkan barisan da’wah ini untuk masa negeri kita tercinta, negeri merah putih. Semoga harapan dan panggilan cinta ini mampu menembus mata hati Antum semua untuk kembali berkatifitas kembali di jalan da’wah. Amin, salam rindu untuk Antum semua…