Januari 25, 2014

Asyiknya Menjadi Seorang Wartawan

Cita-cita menulislah yang menggoda saya untuk terus belajar dunia kepenulisan. Bermula dari kelas menulis Forum Lingkar Pena Gorontalo hingga akhirnya menjadi wartawan kampus.

Awalnya, saya berfikir, "Ah yang penting belajar, soal gaji mah urusan kedua" begitu niat saya waktu itu. Yang terpenting  studi oke, penghasilan pun oke. Menjadi jusnalist memang penuh dengan hambatan, ada susah dan ada pula senangnya.Kalau senang pasto momen terima gajian, susahnya kejar-kejaran dengan nara sumber.

Melekat betul dalam memori saya tentang sebuah ungkapan,"Tak ada kesuksesan yang diraih dengan mudah. Semua harus dibayar dengan kucuran keringat yang tak sedikit" .Dalam versi yang berbeda, sahabat saya berkata, "Kalau berjuang, harus siap berdarah-darah" kata Said Ismail, mahasiswa sejarah, ketika hendak turun aksi parlemen jalanan.Ada bayak manfaat yang bisa dirasakan ketika menjadi seorang jusnali antara lain;

# Bisa Ketemu Pejabat kelas Atas
Menjadi Jusnalis atau wartawan bukan hal tidak mungkin bisa bertemu pejabat kelas atas. Sebab, profesi ini sudah ditakdirkan dekat dengan para pejabat. Tugasnya untuk mencari informasi mengharuskannya  menemui nara sumber, termasuk pejabat tinggi sekali pun. Jangankan bertemu pejabat, masuk ke area terlarang saja bisa, apalagi hanya bertemu dengan pejabat. Coba perhatikan ketika wartawan lalu lalang di areal larangan polisi. Meski tertulis jelas, "Don't cross the police line". Tapi, ternyata dia bisa lewat walau hanya dengan selembar Id Card Pers. Kalau garis batas polisi saja bisa tembus, masa ketemu pejabat ngak mungkin. Ya pasti bisa kan?

# Bebas Sweeping dari Satlantas
Dalam memburu informasi, terkadang wartawan itu seperti pemadam kebakaran. Selalu ngebut di jalanan. Hal ini memang melanggar  aturan lalu lintas. Tapi, bagi seorang petugas Satlantas menilai ini wajar saja. Karena dia menilai wartawan sedang buru-buru. tidak bisa dihalangi. Jika seandainya polisi mau menghalangi, paling dinasehati,"hati-hati ya!". Ngak berani menahan. Sebab, pak polisinya juga takut kalau ditulis berita yang ngak bagus tentangnya. Jadi perjalananpun mulus tanpa harus keluar pulus. 

Pernah sahabat saya pergi memburu berita. Ia lupa membawa helm. Dengan gesit motornya menerobos keramaian kota. Sialnya, dia terjebak sweeping. "Wah tidak bawa helm". Dia pun mendekati pak polisi. 

"Mana helm-nya?" Semprot pak polisi
"Aduh pak, lupa. Saya buru-buru mau meliput gubernur, jadi lupa pakai helm-nya" keluh sahabat saya"

"Oh, jadi kamu wartawan, mana kartu persnya?" pinta pak Polisi tak percaya
"Ini pak!" Teman saya menyerahkan 
"Oh, iya-iya. Maaf ya, saya ngak tahu. Silahkan lewat jalur ini. Supaya bisa cepat sampai" kata pak polisi dengan melambaikan tangan mempersilahkan.

Ternyata, pak polisi itu juga takut wartawan. Begitu diberi tahu dari pers, urusan lalu lintas jadi ngak berlaku baginya. Inilah asyiknya jadi wartawan, urusan makin mudah hanya dengan selembar ID Card Pers. 

# Menjadi Orang yang disegani 
Menjadi wartawan membuat saya disegani. Ingat disegani, bukan ditakuti. Sebab, seorang wartawan dianggap sebagai pengamat berbahaya. Bisa menjadi ancaman bagi sebuah isntansi atau perusahaan. sekecil apapun itu, kalau dianggap tak baik di mata wartawan, maka langsung digoreng wacananya. Itulah mengapa banyak perusahaan atau instansi pemerintah selalu siaga kalau ada wartawan. 

Kalau sedang berkunjung ke suatu perusahaan, semuanya pasti dipersiapkan dengan baik oleh tuan rumah. Karena mereka takut kalau wartawannya menulis yang macam-macam. Misalnya saja di hotel, pasti dilayani dengan bagus. Sampah-sampah benar dibersihkan. Meja-meja diatur yang rapi. Pelayannya pun menawarkan bantuan tanpa diminta.

"Ah, pak, kalau butuh sesutu beri tahu saja, kami akan siap melayani" begitu kira-kira mereka menawarkan.

Padahal, seorang wartawan bukanlah tentara yang harus disegani. Wartawan hanya punya dua amunisi, Id Card Pers dan sebuah pena. Mereka hanya punya itu. Tidak seperti tentara, lengkap dengan sangkurnya. Akan tetapi, dua amunisi itu mampu mengacaukan dunia. Dengan tulisan wartawan, diyakini mampu memporak-porandakan dunia. Buktinya? Coba kita misalkan terjadi, informasi dikacaukan oleh wartawan, bisa jadi antar warga dan sesama suku bertikai. Maka hancurlah Indonesia.

Seorang wartawan senior Gorontalo pernah berkata, "Kalau ingin menghancurkan dunia, tidak perlu persiapkan senjata rudal, tidak perlu dengan bom atom. Itu hanya akan menghabiskan anggaran. Cukuplah dengan sebuah mata pena. Kita kacaukan informasi, maka negera akan hancur dengan saling memusuhi" 

Wartawan memang punya andil besar dalam membetuk pola pikir di masyarakat. Hancur dan tidaknya negeri ini juga tergantung bagaimana wartawan menggoreng informasi. 

# Menjadi orang berwawasan luas
Wartawan bisa belajar apa saja. Entah ekonomi, budaya, kesehatan dan bidang ilmu apapun. Sebab, wartawan selalu bersentuhan dengan pelayan publik yang mengharuskannya untuk mencari informasi terkait isu tersebut. Misalnya liputan berita kesehatan. Meskipun wartawan seorang sarjana bahasa Inggris, tetapi dengan menjadi wartawan akhirnya belajar tentang kesehatan. Seperti penemuan virus terbaru, penyakit terbaru, dan penyembuhan sebuah penyakit. Jadi, ilmu yang diterima wartawan bisa beragam. Sebagai hasil, wawasan seorang wartawan menjadi luas. 

Ketika disuguhkan dengan materi kesehatan wartawan juga paham, ketika bicara politik juga paham, ketika bicara ekonomi, wartawan juga paham. Karena memang pekerjaannya mencari informasi terkait hal itu. Wajar memang wartawan menjadi cerdas dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Itulah Asyiknya menjadi Wartawan.