Februari 02, 2014

Catatan Hitam Koran Gorontalo Post


Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kepada Yang Terhormat
Pimpinan Redaksi Gorontalo Post

Sungguh satu kebanggaan bagi saya selaku generasi muda Gorontalo membaca artikel yang cukup menggugah dan menginspirasi di rubrik sastra dan budaya. Rubrik yang terbit di setiap minggu ini menjadi sajian menarik di akhir pekan. Selain Sastra, saya juga menikmati gendre tulisan traveller yang berbagi kisah perjalanan di tanah Gorontalo.

Sayang, kebanggaan itu berganti kecewa yang membuncah tatkala saya berpindah halaman lainnya seperti telusur, Show Biz dan for Her. Halaman ini dengan "Kurang Ajar" memoteret wanita-wanita dengan pose sedang bersenggama dengan sajian paha yang montok serta buah dada menganga. Lebih para lagi, yang disensor hanya bagian mata sementara tubuh lainnya yang harusnya disensor itu dibiarkan terbuka lebar. Sungguh sangat disayangkan dan menyedihkan. Koran sebesar Gorontalo post bisa serendah ini derjatnya.


Sebagai media terdepan, saya yakin Gorontalo post punya andil besar dalam mendidik Masyarakat. Olehnya itu, saya berharap, media ini bisa kita jadikan sumber pengetahuan untuk membangun masa depan Gorontalo. Bukan sebaliknya, mendidik masyarakat ke hal-hal yang negatif. Ingat bapak Pimpian redaksi. Maju dan tidaknya Gorontalo, akan bergantung dari media memawacanakan berita kepada masyarakat. Karena media adalah salah satu alat yang paling ampuh menggiring pemikiran manusia. Karena secara tidak sadar, berita atau artikel yang terbit akan membentuk pola pikir pembaca. Hal ini pernah disebutkan oleh pakar linguistik, Noam Chomsky

"Media adalah alat yang diciptakan untuk membuat bahasa baru dalam menggiring pemikiran manusia"
Saya menyarankan untuk rubrik seksi seharusnya dievaluasi kembali oleh pimpinan redaksi sebagai orang yang bertanggungjawab setiap tulisan ang terbit.

Masih banyak topik menarik yang bisa diangkat terkait wanita. Bukan hal seks saja. Karir dan prestasi mereka  menarik  untuk diangkat. Tidak harus skandal seks melulu.Muak. Saya malah ingin bertanya. Apakah media sebesar Gorontalo Post dibangun dengan cara menulis berita seks terus menerus?

Menurut pantauan saya, Gorontalo secara berepisode menyajikan berita terkait seks. Mulai dari seks di dunia sekolah yang murah, seks dunia kampus yang menggurita  sampai  seks jalanan natar jemput. Memang berita ini berharap agar masyarakat tidak terjebak untuk mengikuti perilaku amoral . Sayangnya, yang ditonjolkandalam tulisanya bukan  himbauan moral. Lebih menekankan aspek seksinya. Foto seksinya yang digedein.  coba perhatikam kembali, hitung berapa besar gambar seks dengan penampilan vulgar mengisi lembaran berita Gorontalo post? banyak kan? Ingat itu semua sangat jauh dari philosofi media yang menjunjung tinggi nilai pendidikan.

Pimipinan Redaksi yang saya Hormati
Apakah harga diri Gorontalo post sama dengan apa yang sering ditulisnya?

Kita sebagai masyarakat normal, suka hal yang berbau seks. Tapi kita tahu cara penyalurannya. Dan pasti dengan cara yang halal. Hanya saja, sajian Gorontalo post yang berbicara soal seks, secara psikologis, hanya memberikan stimulus kepada remaja Gorontalo untuk mencari layanan seks  tersembunyi itu. Hampir bisa dipastikan, wartawanlah yang akan jadi incaran lelaki bejat sevagai agent seks. Walhasil, pemuda pun akan menyerat ikut antrian pengen dikenalkan kepada mereka pengagum free sex tersebut.

Pimpinan redaksi Yang saya Cintai
Saya memang tidak tahu persis, berapa jumlah nominal rupiah yang diraih Gorontalo Post atas menu-menu artikel beraroma seks itu. Coblah pertimbangkan lagi. Saya  tidak bisa melarang media ini membahas masalah seks, cuman harus proporsional. Masih topik yang lehih "Hot" tapi mendidik. Bukan berarti bicara seks tidak boleh.Silahkan saja. Toh itu ilmu pengetahuan. Sya hanya khawatir,  ketika tamu dari luar Gorontalo datang, trus baca koran kita malah akan berasumsi, "Ko daerah serambi madinah malah jadi pengagum seks layaknya Moscow ya?" dimana harga diri kita sebagai kota islamis?

Pimpinan Redaksi yang saya Banggakan
Jika hal ini terus berlanjut dan tidak mendapatkan tanggapan serius, makan jangan salahkan mahasiswa dan pemuda. Boleh jadi kami akan berhadapan dengan Gorontalo post di jalanan. Anarkisme akan kembali menyala-nyala. Bukan hal tidak mungkin Gorontalo Post akan diporak-porandakan oleh pemuda dan mahasiswa sabab musabab kekecewaan mereka yang terakumulasi.

Sungguh saya tidak ingin kekacauan itu terjadi. Karena Gorontalo post adalah harapan masyarakat Gorontalo. Media kesayangan kita semua. Sehingga, kelalaian ini saya harapkan tidak berakhir tragis dan dramatis. Layaknya episode drama  Universitas yang ada di Gorontalo yang sempat dibakar mahasiswa. Saya tidak ingin itu terjadi.

Pimpinan redaksi Gorontalo post yang baik hati
Kembalikan jati diri Gorontalo post yang sesungguhnya. Berikan pemberitaan yang benar-benar mencerdasakan. Sehingga masyarakat bisa berfikir lebih maju. Saya kira itulah harapan terakhir saya. Saya tidak meminta lebih. Saya hanya ingin generasi saya selamat dari pendidikan yahudi melalui media. Maaf juga kalau saya menulis surat ini di Facebook. Sebab saya tidak punya media besar layakanya Gorontalo post. Kalaupun saya kirim ke Gorontalo post, pasti hanya akan menjadi lembaran sampah di depan kantor bapak.

Semoga Gorontalo post bisa lebih baik. Saya tetap mencintai koran kebanggaan Gorontalo ini dengan sepenuh hati. Semoga sukses dan jaya selalu kepada Gorontalo post. Salam cinta buat yang duduk di sana. Wasslam.

Gorontalo, 2 Februari 2013
Idrus Dama
Pemerhati Budaya Gorontalo