Februari 09, 2014

Temukan Ikan Duyung, Beti diancam Denda 1 Milyar


SUDAH JATUH tertimpa tangga pula. Itulah pepatah yang pantas disematkan kepada bapak  Beti, Warga Desa Bajo Kecamatan Tilamuta, yang diacam denda 1 milyar setelah menemukan ikan duyung tatkala melaut di perairan Luluwo, Boalemo pada sabtu malam (14/12).

Awalnya Beti mengaku dirinya hendak melaut pada malam hari bersama seorang sahabatnya. Seperti biasa, Beti mengincar daerah baru yang belum terjamah oleh nelayan lainnya. Waktu itu, kata Beti, dirinya memilih kawasan laut Luluwo, perairan yang berpapasan dengan pantai Tapadaa, Boalemo.

Beti mengaku, sekitar pulul 10.00 malam, dirinya menemui jalanya menangkap seekor ikan berukuran 1 meter lebih. Karena rasa bahagia, ikan itu segera dinaikkan ke dalam perahu. Anehnya, kata Beti. Ikan itu malah mengeluarkan suara tangis. Setelah diperhatian, ternyata ikan yang ditangkapnya adalah seekor ikan duyung. Mengetahui hal ini, Beti segera membawa ikan hasil tangkapannya ini ke darat.

“Saya dapa dengar ini ikan manangis ” Ungkap Beti, Ayah dari empat anak itu.

Sesampai di darat, bukan mendapatkan penawaran atas ikannya, malah ditakuti oleh seorang nelayan lainnya yang iri, bahwa Beti harus bertanggungjawab. Ia harus membayar denda 1 Milyar dan diancam dipenjara atas kesalahannya.

“Saya takut. Dorang bilang saya dia mo penjara dengan dia modenda 1 milyar” keluh Beti, lelaki yang telah menghabiskan umurnya 15 tahun dengan menjadi nelayan itu.

Karena takut, Beti akhirnya menyerahkan Ikan itu kepada warga desa yang beranama Nango. Kemudian ikan ini di pelihara dan diberi makan. Sejak penyerahan itu, kata Beti, dirinya tidak mau lagi menengok ikan hasil temuannya itu. Meskipun, Ikan duyung itu sering berenang di bawah rumah terapung miliknya.

“Pokonya saya tidak tahu apa-apa. Dorang so ambil alih” Ketus Pria kelahiran 7 April 1986 itu.

Setelah beberapa hari, Beti Baru menyadari bahwa dirinya telah dimanfaatkan oleh pihak pihak tertentu. Ikan hasil temuannya itu dijadikan lahan bisnis oleh warga.  Dia mengaku, dari jutaan hasil bayaran warga yang mau melihat ikan itu, dia hanya menerima 50 ribu rupiah saja. Setelah itu, katanya, penghasilan lainnya tidak tahu kemana.Padahal pendapatannya ratusan ribu bahkan jutaan per hari.

“Ribuan warga yang ba lihat, ada juga yang ba beli air matanya”  Tutur Beti, Suami dari Ibu Erni itu.

Karena akan membawa masalah besar, ikan ini kemudian dilepas. Anehnya ikan tersebut bukan pulang ke habitatnya. Malah sering berenang di bawah rumah apung bilik Beti. Ikan itu seperti meganggap seperti  sebagai keluarga barunya. Sehingga, walau dilepas, ikan duyung tersebut tidak mau pergi. Bahkan ikan tersebut malah asyik bermain dan berenang ria dengan anak-anak.

“Ikan itu dilepas bebas, eh malah bermain dengan anak-anak berenang sama-sama” Ujar Beti keheranan.

Selama di desa Bajo, Ikan hasil temuan Beti itu diberi makan layaknya manusia. Makanan ikan itu berupa pisang dan roti. Ada yang disediakan oleh warga desa, ada pula bawaan dari warga desa lain yang ingin bercengkrama dengan ikan itu.

“Mo lepas tidak mau, kalau somo usir malah menangis” Jelas Beti

Menurut firasat Beti, ikan duyung itu kesepian. Mungkin karena terpisah dari keluarganya. Sehingga ikan itu sering melelekan air mata. Dengan itu, dia berniat untuk memulangkan ikan duyung tersebut ke perairan tempat ikan itu ditemukan. Terlebih lagi, ancaman dari berbagai pihak yang menunutnya untuk segera melepas. Jika tidak, maka dirinya akan dipennjarakan dan didenda uang  milyaran.

Dirinya berserta teman nelayan lainnya  akhirnya sepakat untuk mengantar ikan duyung itu ke habitanya. Sesampainya di sana, bukan pergi mencari induk. Malah sering menempel dan mengikuti perahu terus menurs, kata Beti. melihat kondisi ini, hati beti menjadi iba.

“Terasa seperti membuang anak sendiri. Apalagi, ikan itu seperti manusia. Menangis minta dikasihani”

Kalau tidak diancam, kata Beti, dirinya tak ingin melepas ikan itu. Desakan dari pemerintah terkait membuatnya harus merelakan ikan kesayangannya itu. Meski berat hati, kata dia, ikan itu harus dilepasnya.

Catatan Waktu Pulang Kampung
Gorontalo, 9 Februari 2014
Idrus Dama