Februari 10, 2014

Corby Dan Menguapnya Kasus Hukum Lainnya


SEPERTINYA penduduk negeri ini sedang digiring perhatiannya kepada wanita cantik yang bernama Corby. Wanita yang ditangkap 2004 di bandara Ngurah Rai, Bali, saat menyelundupkan ganja 4,1 kilogram ini seakan menghipnotis penduduk Indonesia. Tak jarang media selalu saja mengekspos beritanya. Bahkan, di saat yang bersamaan telah dibuatkan sebuah film yang berjudul schapelle yang intinya menegaskan kepada seluruh warga dunia kalau wanita yang dijuluki ratu ekstasi ini tidak bersalah sama sekali. Yang patut dipersalahkan adalah sang ayah sebagai otak gerbong Narkoba kelas teri.

Soal Corby sebenarnya masalah hukum biasa saja. Tapi, oleh media terlalu dibersar-besarkan. Saya malah curiga, ini adalah strategi oknum tertentu untuk menghapus ikatan masyarakat Indonesia terkait kasus Korupsi Bank Century, yang hingga kini belum masuk ke episode akhir. Jadi terkesan, Corby adalah korban mengalihan isu dan keganasan perpolitikan di Indonesia. Sehingga kasus Korupsi yang akan menyeret nama-nama orang penting, terhapus dari ingatan kita rakyat yang merindukan keadilan.

Terkait vonis hukuman Corby itu urusan penegak hukum. Urusan kita hanya mengawal saja apakah hukum itu berlaku adil atau tidak. Jangan dipolitisasi. Apalagi didramatisir sehingga menjadi sesuatu yang dianggap "Waw Gitu". Akibatnya, hal penting lainnya jadi terabaikan. 

Kita harus ingat bahwa Corby hanyalah wanita asing yang harus menjalani hukuman layaknya manusia pada umumnya. Nothing spesial di mata hukum. Apalagi, harus dapat pengurangan hukuman dan lain sebagainya. Ngak penting, kalau salah ya hukum saja. Iya kan? selesai sudah urusan Corby. Ngak perlu dibuat "seksilah beritanya. Seakan penting buat nasib bangsa ini.

Keringana hukuman bagi Corby sebenarnya hanyalah percikan api kecil. Isu diciptakan dan dikait-kaitkan dengan kondisi hubungan Australia-Indonesia. Terlebih lagi ada kasus penyadapan dan pemutusan beberapa hubungan kerja. Sehingga di dalam kondisi ini akan tercipta paradigma bahwa negara Indonesia sedang dihina. Maka respon dari masyarakat yang menangkap isu akan terpancing dan ikut-ikutan menyalahkan Corby.

Kita tidak sadar skenario besar yang terjadi di momen penentuan hukum Corby ini. Kita tidak sadar bahwa saat ini kita sedang dihipnotis media dan pemerintah, agar tertidur lelap hingga tak sadarkan diri. Dengan harapan kita tidakakan  tahu lagi apa yang sedang terjadi di negeri kita.  Semuanya akan lenyap dan menguap.

Katakanlah kasus Korupsi di Bank Century, Kasus Hambalang yang tak ada penyelesaiannya, kasus Atut yang ngak jelas arahnya, dan kasus lainnya yang sudah menguap di telan waktu. Padahal, ini adalah urusan penting untuk masa depan negeri kita. Ko’ kita malah kenyang mengkonsumsi berita si Corby, wanita yang tak jelas utusan hantu dari mana. Hey, wake up bro..!! kita sedang dalam jebakan. Sadarlah.

Saya tidak sedang berfikiran negatif menuduh pemerintah dan media sedang dalam kosnpirasi. Tapi saya hanya membuka tabir kemungkinan yang selama ini belum tersingkap. Bukan mengada-ada. tapi hal ini pernah diterangkan oleh seorang pakar Linguistik, Noam Chomsky. Ia menjelaskan bagaimana media melakukan pengalihan isu. Dia menuliskan strategi ini dalam sebuah artikelnya 10 Strategies of Manipulation. Trategi memanipulasi suasana dan pemikiran manusia.

Chomsky mengtatakan; “Media adalah alat yang dibuat untuk menciptakan bahasa baru dalam upaya menggiring pemikiran manusia.

Jelaslah sudah pernyataan Chomsky. tidak bisa dipungkiri, kalau fakta ini sedang berproses di negeri kita. Media dan pemerintah sedang mesra-mesraan dan bekerja sama untuk mengiring pemikiran kita semua. Sehingga, hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian, menjadi samar-samar bahkan hilang secara tidak sadar dalam benak kita. Chomsky mengatakan;

‘Maintaining public attention diverted away from the real social problems, captivated by matters of no real importance. Keep the public busy, busy, busy, no time to think, back to farm and other animals (quote from text Silent Weapons for Quiet War ).’

Terjemahan :
”Mempertahankan perhatian publik yang dialihkan jauh dari masalah sosial yang nyata, sehingga terpikat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Menjaga waktu sibuk, sibuk, sibuk, tidak ada kesempatan untuk berpikir, kembali ke peternakan dan binatang lainnya…”

Strategi ini sebenarnya sudah basi. Hanya saja, kita sering terjebak di lubang yang sama. Strategi pengalihan isu ini bertujuan memberikan gangguan dalam pemikiran masyarakat agar fokus ke hal-hal kecil yang super tidak pentings dan akhirnya lupa dengan isu-isu besar yang harusnya diselesaikan.

Saya tidak sedang mengalihkan isu itu kembali ke isu sebelumnya. Saya hanya mengingatkan kembali kepada kita rakyat Indonesia agar tidak terjebak lagi dengan trategi murahan yang digencarkan media dan pemerintah. Ingat, kita akan kehilangan sesuatu yang berharga ketimbang ikut serta mencaci maki Corby. Kita harus tetap fokus kepada kebobrokan di negeri kita. Masih banyak tugas-tugas keadilan yang harus kita kawal bersama.

Cobalah kita verfikir, apa untungnya kita membahas nasib Corby? Dipenjara atau tidak, dia adalah warga asing. Ketika masa hukumannya selesai, maka dia akan kembali ke nagara asalnya. Lalu, apa yang bisa kita dapatkan kalau kita menghabiskan air liur kita membahas wanita itu? ada? sebutkan apa dampaknya kepada negara kita? apa itu akan membawa perubahan besar? tentu tidak. Oleh sebab itu, bangunlah dari tidur yang panjang ini. Kita harus terus waspada.

Ingat ! sungguh sangat mengerikan jika kita terlalu sibuk mengurusi si wanita pengedar narkotika itu. Soal Corby, biarlah hukum yang akan berurusan dengannya. Tugas kita sekarang, bagaimana Kasus Bank Century, Hambalang, apalagi Lapindo yang super menyesakkan hati, agar segera diselesaikan dan mendapatkan status hukum yang jelas. Itu saja yang kita butuhkan sekarang. Selebihnya, terserah kita.

Mari rakyat Indonesia, kita berfikir lebih kritis dan waspada. Kita sedang dalam arena permainan politik kepemimpinan. Olehnya itu, kita meski waspada dan setiap saat sadar akan fenomena yang terjadi di sekeliling kita. Agar ke depannya, kita lebih paham gejolak yang terjadi di lingkungan kita berada. Semoga tulisan ini bermanfaat.  Amin