Februari 28, 2014

Cinta Habibie, Sang Profesor Pesawat Terbang

"Jika Anda ingin sukses, maka tiga hal yang harus Anda genggam dalam hidup; Agama, Budaya dan Ilmu pengetahuan"

Cinta Sang Profesor Pesawat Terbang
Kata-kata itu dilontarkan oleh pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936, di hadapan  ribuan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo. Sebelum berpidato, Prof.Dr.Ing. BJ Habibie menyanyikan sebuah lagu Bunga Citra Lestari yang menjadi backsound film Habibie dan Ainun. Habibie yang menyanyi langsung disambut meriah oleh ribuan mahasiswa. Sambil berdiri, para mahasiswa melambaikan tangan seiring bai-bait lagu yang dilantunkan oleh ilmuan nomor satu Indonesia itu.

Sang Profesor memulai pidato motivasinya dengan serpihan kisah cintanya dengan sosok wanita yang membuatnya bisa bertahan dan bisa bangkit dari keterpurukan. Wanita itu bernama Hasri Ainun Besari,  tak lain istri sang profesor briliant itu. Setelah kematian sang Istri yang meninggal di M√ľnchen, Jerman, 22 Mei 2010 pada umur 72 tahun, Habibie mengalami trauma kesediahan yang mendalam. Hari-harinya begitu berat dan sulit. Bahkan, dokter ahli dari Jerman tidak bisa berkutik apa-apa melihat penyakit yang diderita sang pembuat pesawat pertama Indonesia ini.

"Saya terbangun tengah malam dan menangis seperti anak kecil kehilangan ibu" Kenang Habibie, Mantan Presiden ke tiga Indonesia ini berkisah dalam pidatonya.

Dalam kondisi demikian, Habibie lantas disarankan empat hal oleh dokter. Pertama, Habibie harus masuk rumah sakit jiwa. Kedua, Habibie tinggal dan dirawat di rumah. Ketiga, Habibie diminta untuk curhat ke teman terdekat perihal kisahnya tentang Ainun. Keempat, Habibie diminta menuliskan apa yang dia rasakan.

Saat itu, Habibie memilih untuk menuliskan apa yang menjadi beban batinya. Hingga akhirnya, pada tahun 2010 terbitlah hasil curhat Habibie itu dalam sebuah buku berjudul, "Habibie Ainun" yang diterbitkan oleh PT THC Mandiri. Tak perlu menunggu lama, buku yang tebalnya 323 halaman itu akhirnya dibuatkan film. Alhasil, Film romantis karya Ilmuan di bidang ahli desain pesawat itu  ditonton oleh jutaan penduduk Indonesia bahkan dunia.

Setelah sukses "menghipnotis" jutaan orang Indonesia, penduduk dunia pun tak mau ketinggalan kisah nyata percintaan  sang ilmuan dunia ini. Sehingga kisah ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dunia, antara lain ; Jerman, China, Jepang, thailand dan bahasa dunia lainnya. Alasanya, buku Habibie Ainun dianggap sebuah kisah yang begitu berharga. 

Selain romantis, kisah dalam buku Habibie Ainun ini berkisah tentang perjuangannya membangun Indonesia. Sehingga,  Habibie mengizinkan buku itu diterjemahkan, namun dengan satu syarat tidak mengubahnya walau hanya satu kalimat saja. Permintaanya pun disanggupi. Dan kini, buku itu telah tersebar di berbagai negara dengan bahasanya masing-masing.

"Buku saya diminta untuk diterjamahkan dalam bahsa asing, saya bilang, boleh! asal jangan merubahnya sama sekali" tutur Habibie di hadapan ribuan mahasiswa, Jum'at (28/2/2014) di gedung Auditorium Universitas Negeri Gorontalo.

Wanita Hebat di balik Kesuksesan Habibie
Ayah Habibie meninggal pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat menunaikan shalat Isya. Sejak itu, Habibie dibesarkan oleh wanita yang hebat, tak lain adalah sang Ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Meski kehilangan tonggak keluarga, Ibunya berusaha memberikan yang terbaik buat pendidikan Anaknya, Habibie. Tepat di hadapan mayat suaminya, wanita kelahiran Semarang ini berjanji akan menyekolahkan anak-anaknya.

Saat itu, sang ibu memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan Habibie ke Jerman. Modal nekat dan harus mengorek tabungan keluarga, Habibie berusaha di daftarkan sang ibu ke RWTH Aachen, Jerman Barat, studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang.

Saat belajar di Jerman, Habibie mengaku merasa susah. Nasib seorang mahasiswa, kadang makanan tak punya. Dirinya memang tidak menerima beasiswa layaknya orang Indonesia lainnya. Teman-temannya menerima full beasiswa dari pemerintah Indonesia. Sedangkan dia harus berjuang sendiri dengan biaya sang Ibu.

Cita-cita Ibunyalah menjadikan habibie menjadi pribadi yang kokoh. Ibunya bekerja keras menjadikannya orang yang berpendidikan tinggi. Dengan harapan, bisa menjadi manusia yang bermanfaat di masa depan kelak. Saat Habibie jatuh sakit, tak lupa sang Ibu juga menyanggupi untuk datang ke negeri Hitler itu.

"Do'a ibu yang membuat saya bisa seperti ini" curhatnya saat memberikan pidato pentingnya agama dalam meraih kesuksesan hidup.

Menjalani Pendidikan dengan Paspor Hijau


"Anak-anak Indonesia lainnya punya beasiswa, sementara saya satunya yang memegang Paspor Hijau" Ujar Habibie Jum'at (28/2) di gedung Auditorium Universitas Negeri Gorontalo.

Paspor Hijau adalah paspor mahasiswa biasa. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang memiliki parpor Plat merah alias dinas RI. Biaya hidup dan kuliahnya masih ditanggung oleh sang ibu. Sehingga di saat mahasiswa lainnya menikmati liburan, Habibie malah bekerja keras mencari uang untuk membeli buku. Dia hanya bertekad, saat sudah merantau pantang untuk gagal.

Tahun 1960, Akhirnya Habibie memperoleh gelar Diploma Ing., dengan predikat Cumlaude dengan nilai rata-rata 9,5. Gelar itu pula kemudian mengantarkannya di perusahaan Firma Talbot, sebuah peruhaan kereta Api. Di perusahaan ini, Habibie mencoba untuk mencarikan solusi perusahaan yang mengami kesulitan saat mengangkut barang yang bermuatan besar. 

Saat itu, Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mengahadapi masalah itu, Habibie mencoba menerapkan ilmu kontruksi  sayap pesawat terbang ke kereta api.  Hasilnya pun memuaskan. Dia sanggup menciptakan kereta api yang mampu menahan beban tekanan hingga 200 ton.

Tahun 1965 Habibie meraih gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summacumlaude dengan angka rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Selain itu, Habibie memecahkan masalah pemecahan persoalan konstruksi bagian ekor pesawat yang sedang dialami oleh Perusahaan HFB (Hamburger Flugzeugbau) yang kini berubah menjadi MBB (Messerschmitt Bolkow Blohm). Masalah yang belum terpecahkan selama lima tahun itu, mampu dipecahkan oleh sosok Habibie dalam waktu enam bulan.

Keberhasilannya itu kemudian diabadikan dengan teori, faktor dan metode Habibie. Keberhasilannya itu pula Ia mulai mendapatkan perhatian dari negara Indonesia. Lalu pada tahun 1974, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB. Di saat yang sama, Presiden Suharto langsung memberi instruksi kepada B.J. Habibie untuk merintis IPTN.

Misi Membangun Indonesia

Saat diminta pulang oleh Soeharto, Habibie bertekad membangun Indonesia. Dengan semangat nasionalis merah putih, B.J.Habibie berangkat ke luar negeri untuk "merayu" industri-industri pesawat terbang lainnya untuk bekerja sama. Sayang banyak yang menolak. Tak jarang kata-kata pesimis membuat telinganya memerah.

Tantangan melejitkan semangatnya untuk bergerak. Hingga akhirnya, beliau bekerjasama dengan CASA Spanyol  dalam pembuatan NC 212 Aviocar berbaling-baling ganda. Berdasarkan pengalamannya di negara Eropa, beliau juga berhasil membuat persetujuan dengan MBB untuk membuat Helikopter BO-105 dan sebagainya.

Prestasi Habibie meroket. Selain wakil presiden, ia juga memimpin industri IPTN, guru besar bidang konstruksi pesawat terbang di ITB, menjadi Menteri Riset dan Teknologi,  ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, Pimipinan The Habibie Center dan sejumlah prestasi lainnya.

Foto Narsis Cucu Habibie di Gorontalo : Heheh Peace..!!