Juni 17, 2014

Lima Buku Rekomendasi Agustinus Wibowo Dalam Menulis

Ketenaran sosok Agustinus Wobowo langsung meroket tatkala buku fenomenal perjalananya "Selimut Debu" usai dirilis. Tentu ini membawa aroma wangi bak kesturi di kalangan pegiat literasi.

Banyak orang terhipnotis dengan gaya penulisan Agustinus Wibowo yang meracik tulisan dari bumbu sejarah, budaya dan bahasa. Agustinus memperoleh bakat menulis gaya sastrwawi ini bukan dalam tempo yang singkat. Namun, kemampuan menulisnya lahir dari bacaa-bacaan yang berkualitas. 

Ada beberapa buku yang menjadi rekomendasi Agustinus Wibowo. Dari buku ini, Agustinus belajar bagaimana menuliskan narasi dengan padat serta memikat. Ada lima buku rekondasi dari Agustinus Wibowo. 
  • Pastinya Imperium, karya Ryzard Kapuscinski yang bercerita tentang memoar serta travel writing tentang Uni Soviet. Disini Kapuscinski yang orang Polandia memandang masa kecilnya di zaman perang, lalu dia menjelajahi garis batas Soviet. 

  • Berikut, Tidak Ada Jalan yang Sama karya Yu Hua. Yu Hua adalah novelis China. Buku ini adalah kumpulan tulisan buku harian, dimulai dari kelahiran anak lelakinya. Dia menulis perjalanan hidup dirinya, diparalelkan dengan anaknya yang bertumbuh dari bayi jadi dewasa. 

  • Baghdad without A Map karya Tony Horwitz. Kisah perjalanan jurnalis US berdarah Yahudi di negara-negara Timur Tengah. 

  • From Beirut to Jerusalem, Thomas Friedman, kisah jurnalis di medan perang Timur Tengah. Evocative banget. 

  • Even Silence Has an End, Ingrid Betancourt. Kisah capres perempuan Columbia yang ditulis pemberontak, 6 tahun di hutan.