Juni 30, 2014

Review Buku " Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, di mana Saja dan Kapan saja"

Buku Seni dalam Berbicara | Larry King's Book

Judul asli buku ini adalah "How to talk to Anyone, Anywhere, Anytime" yang oleh Marcus Prihmonto Wididodo diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga, pada tahun 2003, Gramedia pustaka utama menerbitkan Karya Larry King ini dalam versi Indonesia setebal 184 halaman. 

Buku ini mengulas seacara luas dan padat persoalan komunikasi. Hambatan sesorang dalam berbicara, apa kebiasaan yang sering dilakukan, bagaimana mengatasi rasa gugup ketika berpidato, mempengaruhi pendengar dengan insting humor dan hal lainnya  yang bisa mengantarkan kita menjadi pembicara yang hebat dalam segala kondisi.

Larry King, membuka tulisannya dalam buku ini dengan sebuah pengalamannya yang menuai kegagalan, saat dia memulai karir di sebuah industri penyiaran radio. Ia menyampaikan bahwa kegalalan adalah bagian dari proses yang harus ditempuh oleh setiap orang. Dalam kisahnya, ketika sudah berada di ruang penyiaran, suhu ruangan yang dingin, dan diiringi alunan musik, ternyata membuat dia gugup dan tidak bisa mengucapkan satu kata pun. 

Mengalami hal ini, nyaris sahabatnya Marshall Simmonds marah besar, semarah-marahnya seorang manager, Ia menendang pintu ruang kontrol sampai terbuka dan mengucapkan tiga kata, " Ini Bisnis Komunikasi". 

Saat itu, Larry King tidak merasa putus asa. Dia pun melanjutkan penyiaran dan mengatakan hal apa yang terjadi pada dirinya beberapa menit yang lalu. Jika kita ada posisi Larry King, mungkin kita akan balik kanan meninggalkan statsiun radio itu dan menghilang, tak mau bekerja lagi. Tapi, tidak untuk Larry King, dia melanjutkan perjuangannya. 

Hal terpenting dalam berkomunikasi adalah kejujuran. Dengan jujur, kita akan mendapatkan simpati yang luar biasa dari para pendengar kita. Misalnya ketika kita gugup, maka biarlah pendengar kita tahu bahwa kita sedang gugup. Maksudnya, ketika rasa gugup adalah hal yang menghalangi kita berbicara, maka lebih baik kita jujur mengatakannya. Dengan demikian, para pendengar kita akan merasa maklum jika dalam proses komunikasi yang kita bangun ada kesalahan. 

Dalam sebuah acara, Larry King begitu gugup, dia duduk tidak tenang, kursi putar digoyang ke kiri dan ke kanan. Spontan hal itu mengundang tawa para penonton. Lalu dia mulai berbicara apa adanya, jujur dengan apa yang dia rasakan. 

" Saya belum pernah tampil di televisi sebelumnya, dan saya merasa gugup.Produser saya menyuruh saya duduk di kursi putar. Kesalahan besar. Karena gugup, saya mutar-mutar kursi ke kiri dan ke kanan.... Telah tiga tahun saya bekerja di radio dan ini  kali pertama saya tampil di depan televisi"
"
ungkap Larry King di hadapan penontonnya. ( Halaman : 4)

Tindakan ini, menurut Larry adalah cara tepat untuk menghilangkan kebekuan dalam berkomunikasi. Dia ingin para penonton bisa memahami kondisinya. Inilah yang di maksud oleh Larry King sebagai upaya meletakkan penonton di posisi yang sedang dia rasakan. Sehingga, hilanglah rasa malu, kaku dan rasa takut dengan kesalahan yang diperbuat jika sekiranya terjadi kesalahan. 

Kita sebenarnya adalah pembicara yang hebat. Hanya saja, penyakit malu seringkali menutup kecerdasan kita. Padahal, hal yang membuat kita malu bukanlah karena kita tidak tahu. Tapi pada kurangnnya rasa percaya diri. Nah, Larry King mengatakan, kita semua sama, punya naluri untuk menjadi pemalu. Lalu mengapa kita harus malu jika kita sama-sama pemalu?

"Untuk membantu Anda mengatasi perasaan malu, ingatlah bahwa orang yang Anda ajak bicara, sama malunya seperti Anda" Tulis Larry King dalam buku ini ( Halaman : 12) 

Masuk pada bagian lima isi buku ini,  fokus pada masalah ketepatan dalam berbahasa, atau lebih dikenal dengan "bahasa Politis".  Artinya, setiap kita harusnya memperhatikan situasi, kondisi dimana kita berbicara. Hal ini akan membantu kita berkomunikasi. Terkadang, kita terjebak dalam situasi, sehingga banyak kata-kata yang seharusnya  tidak kita ucapkan di saat itu, malah meletup keluar tanpa sengaja. Selain itu, dalam berbicara juga kita terkadang seperti orang mengeja. Kata seperti "ee' dan "eem" seringkali mengisi dan menyusup di setiap kalimat yang kita ucapkan, entah di depan atau pun di akhir. 

"...Ada bunyi yang sering menyusup dalam pembicaraan kita, ketika kita tidak hati-hati.... Anda segera mengetahuinya, "ee" dan "eem" ... Orang-orang akan menganggap Anda tidak mampu berbicara" Jelas Larry ( Halaman : 64 ) 

Kata-kata seperti di atas masih banyak kita dengarkan ketika seseorang berbicara. Coba kita bayangkan, ketika kata itu menyusup sampai  5 kali dalam satu menit kita berbicara, dan durasi bicara kita sekitar satu jam, maka ada 300 kali kata itu meluncur dari lidah kita. Bisa dipastikan, orang-orang yang duduk mendengarkan kita saat itu tidak paham dengan apa yang kita sampaikan,  mereka lebih tahu berapa kali kita mengucapkan kata, "ee" dan "eem" sepanjang kita berbicara. 

Saya kira hanya itu saja ulasan singkat yang bisa saya gambarkan terkait dengan buku ini. Dan masih banyak hal yang bisa diperoleh ketika kita membaca  karya Larry King. Saya sangat senang punya buku ini, ya meskipun hanya pemberian dari seseorang. 

Hal yang menjadi kelebihan buku ini adalah serpihan kisah pengalaman hidup Larry King dalam proses membangun kemampuannya menjadi komunikator yang ulung. Secara jujur, Larry menyampaikan pengalamannya, entah itu hal konyol mau pun yang berbobot. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan oleh Larry King juga sangat menarik, kita akan merasa berada di hadapannya, bercakap dengannya langsung dalam sebuah program 'talk Show" lalu membahas topik seni berbicara. 

Kekurangan buku ini lebih pada bahasa target, yakni terjemahan buku ini. Karena awalnya buku ini versi bahasa Inggris, ketika diterjemahkan, contoh yang diberikan tidak kontekstual dengan bahasa Indonesia. Seperti contoh ;
"I was out Shopping or whatever"
"I have to finish this letter or whatever" 

Meskipun posisi kalimat ini sekadar contoh, tapi alangkah lebih bagus lagi jika itu lebih pada bahasa Indonesia. Sehingga, pembaca lebih bisa menangkap maksud penulis. Terlepas dari kita memiliki kecerdasan dan daya nalar yang hebat. Dalam hal ini, saya sekadar berbicara dalam konteks umumnya bahwa tidak semua kita mampu memami sebuah konteks dengan bahasa asing.

Komposisi paragraf yang tidak terlalu banyak dan "bengkak" mempermudah kita untuk memahami. Manfaatnya lainnya, mata kita  tidak akan terlalu capek membaca dari baris ke baris selanjutnya.  Yang pada kesimpulanya buku ini bagus. Buat penulis buku, ini terima kasih telah berbagi ilmunya.

Akhir kata, saya remokendasikan buku bagi kita yang bermasalah dalam berkomunikasi. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. Wassalam.