Juli 06, 2014

Pasien TBC, Mereka Bukan Zombie

"Jangan Vonis Mereka sebelum tuhan Memvonis kapan mereka akan mati" ( Idrus Dama)

Di sebuah ruangan, saya duduk menangisi apa yang terjadi dengan kakek saya. Jangankan berbicara, mau mendekat di pembaringannya saja, ibu saya waktu itu tidak mengizinkan. Sebab, kakek katanya terkena penyakit menular. 

"Jangan dekat-dekat, mo kana penyakit seperti li bapu" 
Artinya : Jangan mendekat, nanti terkena penyakit seperti kakek" nasehat ibu kepada saya. 

Waktu itu saya tidak tahu penyakit yang sedang dialami kakek. Saya hanya memperhatikan dari kejauhan, dia sering batuk. Sebuah sapu tangan yang digunakannya untuk menutupi mulutnya keluar darah menggumpal-gumpal. Darah yang keluar tidak cair, dia sedikit kental dan merah kehitam-hitaman. 
Saya menatap lekat wajah kakek dengan penuh harap ibu mengizinkan saya untuk duduk. Sekadar berbicara atau  menghiburnya di pembaringan. Karena saya melihat, dia sering sendiri. Ayah dan ibu hanya sekali-sekali datang memberi makan atau sekadar menyediakan air minum. 

Akhirnya, dengan menghiba-hiba, saya dizinkan untuk duduk di samping kakek. Dia yang saharusnya saya hibur, eh malah menasehati saya biar semangat menjalani hidup.  Bahkan, uang yang seharusnya dia gunakan untuk kesehatannya, malah diberikan kepada saya untuk kuliah. Katanya, uang ini harus dipakai kuliah. Dia tidak perduli lagi dengan penyakitnya. Dia tidak berharap sembuh. Umurnya yang telah senja membuat dia putus asa menyambung hidup. 

Waktu itu saya tidak berkomentar apa-apa. Saya hanya menerima apa yang menjadi keputusannya. Wallhasil, dia pun meninggal dalam kesepian dan kesendirian. 

Dari kisah kakek ini saya menyadari. Betapa lebih sakit hidup dalam keterasingan dari pada incaran kematian. Bahkan, kakek lebih memilih mati saja. Buktinya, harta yang dia miliki hanya diberikan kepada saya. Tidak untuk berobat. Sehingga saya menarik kesimpulan. Keterasingan telah membuatnya pasrah, kesendirian telah menyulapnya menjadi manusia tak berdaya. 

Kita perlu ingat bahwa, hidup dalam keterasingan jauh lebih sakit dari penyakit apapun di muka bumi ini. Jika benar demikian, lalu mengapa mereka yang terkena penyakit tuberkulois telah kita berikan rasa keterasingan? Kita sering hindari mereka, kita boikot komunikasi dengan mereka. Seakan mereka adalah manusia paling asing di muka bumi. Acap kali kita menganggap mereka seperti mayat, walau embusan nafas masih bolak balik dari paru-parunya. Tapi vonis "Mematikan" kita telah jatuhkan. 

Sebenarnya dengan kita menjauh dari pesien Tuberkolosis, tidak berati kita bebas dari penyakit "sejagat" itu. Penyakit yang satu ini tidak hanya terjangkit dari aktivitas bersin dan komunikasi saja. Lingkungan kantor yang kotor, orang-orang sembarangan meludah, juga berpotensi sama dalam menularkan penyakit Tuberkulosis. Kita perlu tahu bahwa, Pasien TBC itu bukanlah zombie, yang harus dihindari dan ditakuti. Mereka itu sama seperti kita pada umumnya, manusia yang punya hak hidup dan berkomunikasi. Stop stigma bahwa mereka  itu "Danger Person".

 Sumber : archieve.nrw

Ketakutan kita terhdap pasien penderita Tuberkulosis sudah keterlaluan. Padahal tidak semua orang yang sempat menghirup udara mengandung bakteri tuberkulosis, langsung jatuh terpuruk. Ingat bahwa, masing-masing kita memiliki ketahan tubuh. Ketika secara tidak sengaja menghirup udara yang mengandung bakteri penyakit tuberkulosis, maka kita langsung jatuh sakit dan mati. Itu tidak benar!


"Pada orang-orang yang memiliki tubuh yang sehat karena daya tahan tubuh yang tinggi dan gizi yang baik, penyakit ini tidak akan muncul dan kuman TBC akan "tertidur". Namun, pada mereka yang mengalami kekurangan gizi, daya tahan tubuh menurun/ buruk, atau terus-menerus menghirup udara yang mengandung kuman TBC akibat lingkungan yang buruk, akan lebih mudah terinfeksi TBC (menjadi 'TBC aktif') atau dapat juga mengakibatkan kuman TBC yang "tertidur" di dalam tubuh dapat aktif kembali (reaktivasi)" (Sumber:  penyakittbc.org )

Ini adalah resiko jika sudah terlanjur dan terinfeksi. Tapi kita masih tetap sehat ko!. Tidak serta merta sakit lalu mati seketika seperti ayam. Sekali lagi tidak kawan! 

Saking takutnya orang-orang tentang penyakit Tiberkulosis ini, banyak orang yang dikorbankan. Pikiran kita selalu bepikir negatif kepada seseorang yang baru saja bersin atau batuk. Kecurigaan kita terlapai naik ke level atas. Bahkan orang hanya batuk sedikit, kita sudah lseperti dikejar hantu, lari menyelamatkan diri, dengan dalih mencegah penyebaran penyakit bakteri yang satu ini. 

Saya pernah mengalami kasus di sebuah sekolah. Ketika itu, seorang guru sedang mengajar. Di saat itu, ada seorang siswa sering batuk. Lalu, tanpa berpikir panjang, sang guru langsung menjatuhkan vonis bahwa Sakinah ( Bukan nama Asli) menderita Tuberkulosis. Apa yang terjadi? Anak itu kembali ke rumah dan melaporkan kata-kata sang guru. Serta merta, pecahlah pertikaian antara guru dan orang tua hanya karena guru melakukan vonis lebih cepat dari dokter. Lalu Pada akhir cerita semua bermaaf-maafan. 

Dari kejadian ini, kita harusnya mengambil pelajaran bahwa vonis penyakit Tuberkulosis itu tidak harus membuat kita gegabah. Apalagi mengambil tindakan memutuskan orang mengalami ini dan itu. Akibatnya bisa fatal. Mulai sekarang berhentilah membuat stigma bahwa Tuberkulosis itu sangat mengerikan dan maha menakitkan. Agar kita tidak selalu mencurigai yang tidak-tidak pada semua orang.

Seperti tadi, gara-gara pengetahuan terbatas soal Tuberkulosis, kedua belah pihak langsung bertikai. Sungguh ini tidak etis lagi. 

Kita juga jangan melakukan diskriminasi sepihak. Seperti mengasingkan orang-orang yang terkena penyakit Tuberkulosis. Para penderita penyakit ini masih ada harapan untuk sembuh. Jangan sampai kita telah membuat label, "Ah ini daftar orang yang harus dihindari". Hati-hati Lhoe... itu namanya memvonis. Potensi mereka sembuh itu juga cukup besar. Berbagai obat-obat telah dikembangkan. Ya walau tidak bisa menjawab segala serangan bakteri mematikan ini. Tapi setidaknya, dengan ilmu pengetahuan dan obat pencegah lainnya, kita bisa memperlakukan para penderita Tuberkulosis seperti manusia. Bukan seperti Zombie, yang hidupnya hanyalah sampah yang pada intinya mereka mati juga dalam cara yang mengenaskan. 

Kita harus pahami bahwa tidak semua orang terkena penyakit Tuberkulosis itu berbahaya. Dokter pun masih membaginya dalam dua macam.

1. TB Laten: Pada kondisi ini, Anda memiliki infeksi TB, tapi bakteri tetap dalam tubuh Anda dalam keadaan tidak aktif serta tak menimbulkan gejala.

TB laten juga disebut TB tidak aktif atau TB infeksim yang tak menular. Namun, bisa berubah menjadi aktif sehingga pengobatan penting bagi TB laten untuk membantu mengendalikan penyebaran TB. Diperkirakan, sepertiga penduduk dunia mengalami TB laten.

2. TB aktif. Kondisi membuat Anda sakit dan bisa menularkan ke orang lain. Ini bisa terjadi beberapa minggu pertama setelah terinfeksi bakteri TB atau beberapa tahun kemudian. 

( Dikutip dari : www.health.liputan6.com) 

Olehnya itu, hilangkan rasa trauma yang super lebay. Ingatlah bahwa cara kita menganggap mereka mayat hidup, itu adalah salah satu kekejaman terbesar dan deskriminasi yang kebablasan. Sekarang ubalah cara melihat para pasien TB. Andai yang terkena itu adalah kita. Lalu, apakah kita akan tahan diasingkan bagai mayat hidup? 

Cara Mengindari Menularnya Penyakit Tuberkulosis dari seseorang
  • Dalam berkomunkasi dengan penderita TBC, harusnya di rungan yang cukup udara, artinya udara bisa leluasa mengisi ruangan. Atau lebih baiknya berbicara di tempat yang terbuka. 
  • Dalam berkomunikasi penderita TBC, tidak apa-apa kita sedikit mendekat. Agar dia merasa tidak didiskriminasi. Kita bisa menggunakan masker sebagai pengaman. Jadi, perlakukan pasiennya dengan baik sambil tetap menjaga diri biar tidak tertular. 
  •  Hindari dia saat meludah. Sediakan tempat khusus untuk dia membuang ludah. Biar tidak berlereran sembarangan. Hal ini akan mengamankan kita. Si penderita pun ikut merasa melindungi siapa saja yang berhubungan dengannya. 
Saya kira cukup saja yang bisa saya bagikan perihal pengalaman dengan penderita Tuberkulosis. Semoga kita tidak anarkis dengan mendiskriminasi mereka. Mari cintai mereka selayaknya kita mencintai diri kita senidiri, Mereka masih hidup, jangan menganggap mereka telah mati sebelum tuhan sendiri mengambil keputusan. Semoga kita semua terhindar dari penyakit ini. Amin...

Referensi : 
www.paru-paru.com
Health.liputan6.com
www.penyakittbc.org
www.sehatsaja.com
- www.tbindonesia.or.id
- www.stoptbindonesia.org
- www.depkes.go.id
- www.pppl.kemkes.go.id
- www.cdc.gov
- www.who.org
- www.kncvtbc.org
- www.fhi.org


1. TB Laten: Pada kondisi ini, Anda memiliki infeksi TB, tapi bakteri tetap dalam tubuh Anda dalam keadaan tidak aktif serta tak menimbulkan gejala.

TB laten juga disebut TB tidak aktif atau TB infeksim yang tak menular. Namun, bisa berubah menjadi aktif sehingga pengobatan penting bagi TB laten untuk membantu mengendalikan penyebaran TB. Diperkirakan, sepertiga penduduk dunia mengalami TB laten.

2. TB aktif. Kondisi membuat Anda sakit dan bisa menularkan ke orang lain. Ini bisa terjadi beberapa minggu pertama setelah terinfeksi bakteri TB atau beberapa tahun kemudian. - See more at: http://health.liputan6.com/read/521884/bukan-batuk-biasa-waspadai-tbc-dengan-8-gejala-khasnya#sthash.8ulIWHDI.dpuf

1. TB Laten: Pada kondisi ini, Anda memiliki infeksi TB, tapi bakteri tetap dalam tubuh Anda dalam keadaan tidak aktif serta tak menimbulkan gejala.

TB laten juga disebut TB tidak aktif atau TB infeksim yang tak menular. Namun, bisa berubah menjadi aktif sehingga pengobatan penting bagi TB laten untuk membantu mengendalikan penyebaran TB. Diperkirakan, sepertiga penduduk dunia mengalami TB laten.

2. TB aktif. Kondisi membuat Anda sakit dan bisa menularkan ke orang lain. Ini bisa terjadi beberapa minggu pertama setelah terinfeksi bakteri TB atau beberapa tahun kemudian. - See more at: http://health.liputan6.com/read/521884/bukan-batuk-biasa-waspadai-tbc-dengan-8-gejala-khasnya#sthash.8ulIWHDI.dpuf