September 13, 2014

Perjuangan Menuju Negeri Cendrawasih



“Ini uang untuk mendaftar ujian skirpsi!, Idrus Jangan…jangan…beasiswamu sudah habis. Ini sisa terakhir buat uang wisuda!” gema kalimat itu menyusup di bilik hatiku, bercampur dan mengolah pikiranku menjadi tak menentu.

Jika uang untuk wisuda dipakai untuk mengurus berkas kegiatan ini,  sudah dipastikan wisuda akan tertunda. Sementara, semester sudah masuk yang ke sembilan. Artinya, predikat “Mapala”, Mahasiswa paling lama telah dinobatkan. 

“Kapan Wisuda” seloroh ibu dari dapur, sambil terus menggoreng ikan “Oci”. Kata-katanya itu begitu sederhana, bahkan bernada canda. Tapi, entah mengapa hal itu begitu sakit, terasa ada jarum kecil yang menusuk jantung, perih. Beliau tidak tahu, kalau uang untuk  wisuda telah kuhabiskan untuk mengurus berkas kegiatan pemuda. Ibu hanya tahu, kalau aku akan Wisuda Agustus. Sayang mimpinya pupus. Cita-citaku untuk menjelajahi Indonesia dan belahan dunia lainnya menyeretku untuk berpetualang, hingga melupakan arti wisuda bagi orang tuaku. 

“Insya Allah Mama, secepatnya. Mungkin akan telat sedikit” kataku halus membujuk.
“Jadi belum Wisuda agustus ini?”

Sejenak aku terdiam. Tanganku seperti sedang dalam kulkas. Lidahku seperti ditindih batu besar, susah merangkai alasan agar tidak melukai hati ibu.
Mama, Insya Allah saya akan usahakan bulan Desember, uang beasiswa  masih dipakai untuk kegiatan pemuda” 

Kutatap wajah ibu rapat. Ia menarif nafas. Lalu, desahan nafasnya seperti orang melepas kekesalan. Aku tahu, ibu kecewa. Karena, ia ingin aku cepat wisuda, lalu  menunaikan tugas mereka sebagai orang tua, menikahkan. Itu saja, tidak lebih. Setelah itu, mereka bisa hidup nyaman dan tidak dihantui oleh kewajiban menikahkan anak lelakinya. 

Sejak pagi itu, Ibu jarang ngomong.  Mungkin karena terlanjur menanggung malu ocehan orang tentang anak yang tak wisuda tepat waktu. Dilema berat. Hari seleksi provinsi makin dekat. Aku sudah diputuskan sebagai delegasi tunggal kabupaten. Pamitan untuk melanjutkan seleksi inilah yang cukup sulit. Apakah aku akan lanjut, atau berhenti untuk menyelesaikan studi. 

Mama,  Saya so ta Pilih ka Provinsi, doakan saja lolos. Setelah kegiatan ini, saya janji somo kase selesai itu skripsi” Dengan berat hati, ibu hanya menganggukan kepala. Aku berbicara dari hati ke hati, hingga permohonku dikabulkan. 

***
“Sekali melangkah, pantang mundur walau sejengkal. Sekali berjuang, pantang membawa kegalalan” gumamku sambil terus melangkahkan kaki memasuki Gedung Karantina.  Di Gedung Serba Guna, panitia registrasi telah menunggu. Langkahku mantap menuju panitia, sambil memeluk erat Map  di tangan kananku.
Setelah registrasi, aku langsung diberi kamar di lantai dua. Putri ada di lantai satu. Setiap kamar berisi empat orang. Sebagian adalah teman-teman kampusku. Sebagian lagi adalah orang perwakinan daerah yang belum pernah kukenal. Tapi, kuberusaha untuk mengenal mereka lebih dekat.

“Dimana kaki berpijak, di sana harus ada sahabat” itu prinsip yang selalu kubangun kemanapun aku melangkah  “Harus ada sahabat, ya sahabat… itu wajib!” kataku semangat, sambil berderai kritstal bening dari bola mata.

Selamat Datang di Karantina
Hal yang kupelajari di hari pertama adalah tata cara makan. Dalam pelatihan ini aku  mendapatkan nasehat yang cukup bermanfaat. Kebiasaan dan tata cara makanku benar-benar sangat bertolak belakang dengan yang kudapatkan dalam agenda seleksi. Saat aku makan, biasanya kakiku sering kuangkat. Hal ini sangat susah kuhilangkan. Makan dengan sikap tegak, seperti pasukan militer membuat perutku makin tidak nyaman.  

“Kalau makan, usahakan sendok yang bergerak ke mulut, bukan mulut yang mengejar sendok!” nasehat salah seorang instruktur. 
“Jika kalian makan bersama dengan delegasi se nusantara dan pejabat, sikap makan ini harus diperhatikan. Jangan mempermalukan daerah” tegasnya kepada kami seluruh peserta. Seketika aku mengubah kebiasaan makanku yang ala Kampoeng.  

“Cara Makan” terkadang adalah cara orang menentukan kesan karakter kita. Apakah kita termasuk orang beretika atau tidak. Kalau cara makan saja tidak sopan, hal lainnya pun akan dinilai buruk. Alhamdulillah, aku senang mendapatkan ilmu ini. Jadi, aku punya kesempatan untuk mawas diri biar tidak malu di hadapan publik. 

Hal kedua; kedisiplinan. Kalau selama ini aku hanya tahu bahwa  sweeping  itu adalah operasi polisi di jalanan terhadap pengendara motor atau mobil, di dalam kehidupan karantina ada namanya Sweeping kamar tidur”.  Bagaimana, aneh kan? Bener lhoe! Aku mengalaminya. Ketika itu kami tidak mengatur tenpat tidur. Sementara panitia sejak pagi  menunggu di lapangan untuk olahraga. Hampir semua peserta lupa membersikan tempat tidur. Baju bertebaran bak kelelawar, selimut berantakan di lantai, bantal pun melintang tak karuan. 

Sialnya lagi, semua kondisi “Mengerikan” itu diumumkan di hadapan seluruh peserta. Bahkan langsung menyebut nama si pelaku. “Wow….! Betapa malunya aku waktu itu. Dari sini, aku belajar lagi, bahwa kedisiplinan itu harus dimiliki setiap orang.Tanpa itu, hidup kita bakal aca-acakan.

Rasulullah pernah berkata: “ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum ( seseorang/kelompok) selama kaum itu tidak mau merubahnya sendiri”


Hal ketiga; Arti solidaritas. Selama ini,  kita sering memaksakan kehendak personal. Sehingga, ide-ide orang lain sering dianggap remeh. Dalam karantina ini,  aku diajari bagaimana menekan ego sentris  biar tidak celaka. Sungguh, Ego pribadi yang kuat membuat kita menjadi raja dan suka memonopoli segala pembicaraan. Dari Games  dan Simulasi yang diberikan panitia, aku sadar bahwa solidaritas harga mati. Apalah arti sebuah kemenangan jika hanya sendiri-sendiri. Jika boleh diraih bersama tentu akan lebih indah dan menyenangkan.Itu point  terpenting yang kudapatkan.
Senior kupernah berkata, 

“kekeruhan dalam kebersamaan jauh lebih baik, daripada kebeningan dalam kesendirian” 

Karena seleksi KPN dan PPAN sekaligus, tes wawancara tentang wawasan lintas negera pun harus dilalui. Aku ingat, ketika itu aku bermimpi mau jadi delegasi ke Kanada. Pertanyaannya sulit dan mengecoh. 

“Kalau kamu tinggal serumah dengan Gay gimana?”
Pertanyaan ini membuatku terjebak. Aku katakan aja secara jujur kalau aku takut, Karena bayangan negatif akan di-bully dan dilecehakan bakal terjadi. Pokoknya, bayanganku tentang Gay,  itu sangat mengerikan. Aku bisa mati meski hidup sehari saja. Namun, segala asumsi itu akhirnya runtuh. Setelah wawancara, aku dinasehati bahwa aku terjebak melihat satu masalah dari satu sisi. Sehingga asumsi tentang kehidupan para gay  negatif yang terbangun. 

Pewawancara menjelaskan bahwa tidak semua gay  itu rusak akhlaknya. Meskipun mereka gay,  tapi mereka sangat menghargai hak dan kenyamanan orang. Jadi, jangan langsung memberi penilai kepada orang hanya karena melihat perilaku beberapa orang saja. Karena belum tentu, setiap orang langsung mewakili karakter jutaan orang. Dari sini, aku sadar, bahwa sebagai pemuda harusnya lebih toleran dan berpikir positif setiap saat. Jangan terlalu cepat membuat penilaian dan justifikasi sebelum memahami sebuah masalah dalam perspektif yang lebih luas. 

Sebenarnya, banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang hari-hari di karantina. Tapi, hal di atas yang paling berkesan bagiku. Dan, menurutku kesan itu juga sudah mewakili unsur pendidikan yang ditanamkan pada diriku sebagai generasi harapan di hari esok.

Terakhir adalah perspisahan. Pada momen ini solidaritas makin kuat terasa. Malam ini juga pengumuman 8 pemuda lolos akan beri tahu. Dengan penuh keikhlasan, aku menyerahkan segalanya kepada Allah. Kalau pun gagal, mungkin aku akan fokus menyelesaikan studi. Soal uang yang sudah habis tadi, bakal kututupi dengan kerja sambil menyesaikan skripsi. 

Tuhan pun berkehendak,
“Idrus Dama” ya, nama itu meletup keras dari soundsystem. Detak jantung makin cepat, nafas bahagia keluar penuh gelora. Hatiku pun ikut bercahaya layaknya bola lampu di ruangan itu.

Tak sadar, butiran kristal mengambang di pelupuk mata, lambat laut mengalir hangat dipipi kiri dan kanankku. Syukurku melangit. Anak Kampong, yang kuliahnya saja numpang beasiswa, tambah lagi orang tua yang pekerjaannya nelayan, tak lulus SD pula, ternyata bisa lolos di ajang perjalanan mengelilingi nusantara, ya! perjalanan menjadi laskar Bahari di “Sail Raja Ampat”.  

Pasti ibu bakal bahagia mendengarkan hal ini. Karena uang wisudahku yang habis  akan tergantikan. Alhamdulillah…

Mataku susah terkatup. Langit-langit kamar terasa seperti layar Infokus yang memutar segala usaha yang kulakukan selama ini. Bayang-bayang indah tentang nusantara silih berganti memutarkan keindahan negeri seribu pulau ini.
“Hari esok pasti akan jauh lebih indah!” Ketusku sambil mengatupkan mata, tidur.
***