Oktober 26, 2014

Kemana Hati Akan Berlabuh #Seri1

BAGIAN 1

Delapan tahun sudah berlalu, tetapi kenangan itu belum juga terhapus oleh waktu, bahkan wajah gadis teduh itu masih terbayang jelas di pelupuk mata. Perlahan dan lembut, sebuah nama meluncur.

“Annisa!” 
Nama itu bak kalimat suci yang wajid diucapkan di setiap waktu. Tragedi pilu asmara yang menimpanya ternyata  tidak lantas merenggut bayangan sosok gadis dalam imajinasinya itu. Padahal, wanita di dunia ini jumlahnya bak jamur dan sampah berserakan.bahkan, di jalanan banyak diperdagangkan. Tapi hatinya masih tersimpul kuat di hati gadis bernama lengkap "Annisa puspita Sari"

Empat jam berlalu habis dalam renungan. Dari rumah Panggung yang menghadap laut ini, lelaki paruh baya, berambut gondrong itu merutuki nasib. Suasana hatinya masih tetap sama, berkcamuk. Lelaki yang telah ditinggal mati ayah kandungnnya ini berusaha berdamai dengan dirinya sendiri.  

Suasana malam ini nampaknya juga selaras dengan kondisi hatinya. Desir angin laut yang merangkak pelan di bawah kolong rumah, deburan ombak juga tak terlalu ribut sebagaimana biasanya menjadikan suasana jiwanya makin meracau."Kau harus tabah!" kata itu cocok buat penawar hati lelaki ini.  Mata lelaki itu menatap ke kanan, menyisir deretan rumah panggung. Ia berharap masih menemukan cahaya lentera yang tersisa. Sekadar memasikan kalau malam belum terlalu larut. Ternyata sudah gelap pekat. Semua lentera telah padam. Disertai desahan, pria itu kembali melangitkan pandangan, berharap ada bintang yang jatuh, menghibur hati yang sedang kusut. 

“Benarkah dia masih ingat akan diriku?” hatinya berbisik sayu. 
Kenangan delapan tahun silam, kembali menerjah ingatannya. 

Diangkatnya kaki dari anak tangga, dipeluknya erat, lalu tanganya menjadi bantalan dagu. Kulitnya merasakan Angin malam mulai menggigit, meski kepala tertutup rapat dengan Sarung. Ia melirik lentera, cahaya pun tampak gelisah, menari lembut di tengah kegelapan.

Hening seketika.
Dari rumah panggung ini, Azwar bertahan dengan mimpi-mimpinya. Memelihara kenangannya, meski kenyataannya sudah hilang terbawa takdir. 

“Annisa, jika itu pilihan terbaik, setidaknya izinkan hati terpaut padamu walau sehari” harapnya menghiba di tengah kebisuan malam. 

Meski hanya menelan ludah, teramat suli baginya. Sebening Kristal jatuh terurai dari bola matanya. Sepertinya dia sudah mulai kalah dengan perjuangan. 

“Drukkkkkkkkk…!!" suara pintu kamar digeser. Bunyinya sedikit mengusir kesunyian. Begitulah pintu kamar rumah Azwar. Saat di geser, bunyi bergesekan terasa seperti lintasan kereta api. 

“Nak, tidurlah. Tak baik begadang sepanjang malam!” seru ibu dari kejauhan. Wanita janda yang sering disapa Aminah itu turut merasakan derita anaknya. Entah nasehat apalagi yang bisa dia berikan. Rasanya, sudah habis petuah yang bisa diberikan. “Kalau begini terus, kau bisa sakit. Kalau itu terjadi,  kita akan tambah repot lagi, Muthia tidak bisa ke sekolah karena harus menjagamu di rumah sakit” nada Ibu Aminah menghiba.

Ibu mendekat, memeluk anak lelakinya itu. Tangan sang ibu turut menghapus linangan air mata yang bercucuran tak terbendung. Ia sadari, meski anaknya terlahir sebagai lelaki, hatinya selembut wanita. Mungkin karena selama ini dia hidup bersama neneknya. Hingga, naluri lembut seorang wanita terwariskan dalam darahnya. 

“Tak baik anak lelaki menangis. Meskipun sakit, pantang lelaki menitihkan air mata.” Nasehat itu kembali terulang. Kalimat itu seperti ayat-ayat yang tak tergantingan selama delapan tahun. “ Wanita di dunia ini bukan hanya Annisa. Masih banyak kok Annisa yang lain, yang bahkan lebih sholehah dan bisa menerimamu apa adanya”

“Saya belum siap meninggalkan ibu dan Muthia. Jika saya memilih menikah, apa hendak dimakan setelah kepergian saya. Itulah mengapa, Azwar mau menangguhkan pernikahan bersama Annisa bu!” 

Spontan tangan Ibu Aminah bergetar, jiwanya tergoncang mendengar penuturan anak yang jadi tulang punggung keluarga itu. 

“Jadi, pernikahan ini batal karena itu? Bukankah ibu sudah katakan, jika hendak menikah, ibu akan siapkan segalanya. Ibu masih punya barang berharga yang bisa digadaikan untuk pernikahan. Asalkan kau bisa memutus masa bujangmu, dan orang-orang pun akan berhenti mencomooh ” tutur lembut Ibu Aminah menasehati anak lelaki tertuahnya itu. 

Hati Azwar seketika remuk bagai karang dihantam gelombang. Hancur berkeping-keping mendengarkan penuturan tulus sang ibu. 

“Nak, jika engkau masih di sini, sakit hatimu tak akan hilang. Pergilah merantau, temukan Annisa baru di luar sana. Tak usah kau pikirkan Ibu dan Muthia. Ibu bisa menghidupi keluarga ini meski harus menjadi pekerja serabutan di kebun jagung tetangga. Lalu, kembalilah menengok ibu jika telah menemukan Annisa baru untuk hidupmu” 

Azwar bertambah haru. Tubuhnya semakin erat memeluk ibu. Jemarinya tertaut keras tak ingin terlepas. Sepertinya, anak lelaki berbadan kurus itu telah menelan derita tiada berperih. Delapan tahun bukanllah waktu yang singkat. Apalagi bagi orang yang dilanda kesedihan yang tak ada obatnya.

“Lelaki harus bangkit, tak baik berlarut dalam satu masalah. Wanita sholehah juga banyak di dunia ini. Ya meski mereka tak berjilbab seperti gadis yang kau rindui itu. Tapi setidaknya mereka tak berkhianat”  ibu menyemangati. 

Azwar bukanlah tipikal lelaki yang mudah jatuh cinta. Berpindah hati dari satu wanita ke wanita yang lain bukanlah perkarah mudah baginya. Butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk menghapus sebuah nama yang bersemayam di hati. Jatuh cinta bukan seperti membeli permen, jika diarasa enak akan dilahap hingga habis, jika tidak sesuai selera, ya buang di jalanan begitu saja. 

Ternyata, pakainnya yang sederhana menjadikan dia rendah dalam pandangan masyarakat. Terlebih lagi pendidikannya yang hanya lulusan Aliyah. Wajar, penduduk tetap menatap pria berkulit warna langsat itu sebatas tinggi lutut, tidak lebih. Akhlak, ternyata tidak menjadi ukuran mereka untuk menjodohkan anak perempuannya. Siapa yang berpunya, tak perlu basa basi, segala urusan dimudah-mudahkan. 

Sebelum hati Azwar berlabuh pada Annisa, Azwar pernah berani melamar kembang desa. Ketika ayahnya masih ada. Namun, kenyataan jauh panggang dari api. 

“Menikah itu tidak hanya membeli anak sapi, tolong berpikirlah sebelum datang kembali” kata Mahmudin, Ayah Maimun, yang kini bersuamikan juragan Sagela di kampung ini. Sekembalinya Azwar dan ayahnya, Gadis yang hendak dilamar itu merontak keras. Penolakan ayahnya benar-benar perih tak terlukiskan. 

“Apa yang membuatmu tertarik kepada Azwar? Hah?” bentak pak Mahmudin. “ Apa kau tertarik kepada lelaki yang rumahnya saja tembus pandang menatap langit, beralaskan papan yang selalu bocor? Itu yang kau impikan?” Semprotnya garang. Tangis Maimum meledak. Pecah dan membahana seisi rumah. Jendela pun ikut bergeming, terasa kekecewaan telah penuh mengisi setiap kubus rumah. 

Namun, tangis Maimum hanya sekejab. Sebulan setelah menikah dengan Aziz, Maimun tak pernah bertegur sapa lagi dengan Azwar. Kalau pun berpapasan di jalanan, Maimum berpaling wajah. Sungguh wanita memang sering berbohong dalam masalah cinta.  Meski, tutur katanya berkali-kali mengungkap kesetiaan, tiadalah yang bisa dipetik kebenarannya. 

Sejak pelamaran ditolak, datanglah Annisa dengan sejuta mimpi. Angan-angan pernikahan tak mendapatkan pertentangan. Sebab, Ayah Annisa adalah guru ngaji Azwar juga. 

“ Asalkan akhlaknya baik, In sya Allah akan ada keindahan dalam sebuah rumah tangga. Boleh kekurangan harta, tapi hati yang tulus lebih dari intan berlian” Petuah itu jadi penguat hati Annisa. Besok hari, dia berniat memberitahukan persetujuan itu pada Azwar. Namun, tiba-tiba kejadian pahit harus dialami.
***
Sudah mengantuk...Nanti disambung Episode berikutnya ya... Soalnya buat bab ini jam 2.30 Malam. Jadi so mengantuk...hehe...