Desember 08, 2014

Sebuah Cerita Cinta Karya Dani Sukma AS

[Foto : Dani Sukma AS]
Episode Lelaki Pemuja Airmata
/1/
Membaca matamu serupa menadah gerimis hingga aku menemu gigil. Sungguh, pada bola matamu kutemu rerintik kasih yang memenuhi segenap rongga dadaku. Kini, rerintik itu menjelma hujan, dan aku berbasah penantian; entah sampai kapan. Sungguh aku masih menyimpan segala harap, dapat mengguyur kesetiaan atas namamu pada jiwaku yang kerontang. Namun kutahu, bermandi kasih sayangmu serupa jelaga mimpi yang menampung doa air mata pengharapan dan tak pernah sampai pada risalah Tuhan.

Perempuanku, ini pagi aku berada di dekatmu –dekat sekali-, namun aku menemu jurang yang nganga di antara kita. Entahlah, sukar kutafsir segala rasa yang menggejolak dalam dada, namun yang aku tahu dalam telisik pikirku selalu lekat untai namamu hingga merasuk ke dalam tiap desah nafas yang menghidupkanku. Beginilah adanya, tiap ada di sisimu sesungguhnya aku menemu segala teduh, namun aku juga tak bisa berharap lebih sebab kuyakin memujamu tetaplah pilihan terbaik. Engkau tahu, saban malam aku selalu melihat beranda facebookmu dan ingin menikmati seluruh ada-mu. Tiap itu pula, aku selalu berharap dapat menemukanmu diperjalanan mimpi-mimpiku, karena kusadari mendambamu dalam alam nyata serupa menjaring angin; tak teraba, namun terasa menyejukkan jiwa!

/2/
Mungkin mendambamu ialah balada kerinduan yang tak kunjung usai. Namun yakinlah, aku akan terus bersimphoni kasih, sayang, rindu dan cinta atas namamu. Meski nada-nada yang kulantunkan sumbang namun aku tak peduli, sebab menyanyikan untaian namamu dalam kidung-kidung kasih ialah doa terbaik kepada Tuhan semoga kelak kita dipersatukan Tuhan di alam keabadian.

Kapan kita melaju langkah seperti dahulu? Ah, aku rindu saat-saat itu, saat aku bisa menikmati senyummu kala dahaga rindu begitu menyesal dalam sukmaku. Kadang aku cemburu pada segala yang lekat denganmu. Aku cemburu pada ranjang yang menyangga tubuhmu. Aku cemburu pada kain yang membalut tubuhmu. Aku cemburu pada laptop yang menampung keluh kesahmu. Aku cemburu pada malam yang selalu engkau jadikan pelepas resah dan gundahmu.

/3/
Biar saja biar saja orang-orang yang mempergunjingkanmu, aku tak peduli. Sebab saat ini yang aku pedulikan ialah rasa rindu yang bertakhta dalam singgasana kalbuku. Sungguh aku merindukanmu, teramat sangat rindu. Maka aku pasrahkan pikirku; detik ini, menit ini, dan jam ini –dan kuyakin detik, menit, jam berikut-berikutnya, untuk terus merindumu di keseluruhan batinku. Aku ingin engkau tahu, bahwa mengubur keinginan melupakanmu serupa memakamkanku pada pemakaman cinta. Di atas pusaraku tertancap sebuah nisan merah jambu –serupa warna kesukaanmu-, dan pada nisan itu tertulis namaku yang meninggal karena begitu merindukanmu.

Maafkan aku. Maafkan aku sebab masih merindukanmu. Maafkan aku sebab masih mengasihimu. Maafkan aku sebab masih mencintaimu, maafkan aku sebab masih mendambamu sebagai sebenar pelabuhan kesetiaanku. Sungguh aku bahagia dalam segala alpaku; mencintaimu meski kutahu aku tak mungkin memilikimu.

/4/
Saat ini batinku menangis. Bahkan terisak. Aku menangis sebab rasa rindu ini begitu membunuhku. Menguliti keseluruhan pikirku dan menyayat-nyayat jiwaku. Ah, aku begitu pedih. Pedih ini begitu terasa menghujam semakin dalam di hatiku. Entahlah, begitu lama cerita ini kubingkai dalam risalah kehidupanku. Jika kutuliskan mungkin akan menjadi ribuan puisi atas namamu. Sebab percayalah; aku mencintaimu bukan hanya untuk hari ini, hari kemarin atau hari-hari yang akan datang tetapi aku mencintaimu sebelum hari-hari dilahirkan dan sebelum waktu belajar merangkak di atas zaman.

Perempuanku, kusebut diriku ‘lelaki pemuja airmata’, sebab aku ingin mengkristalkan doa air mataku kala mencintaimu hingga menjadi kemilau yang bersinar. Aku berharap sinar ini akan dilihat Tuhan, dan Tuhan sadar bahwa mempersatukan aku denganmu ialah sebenar harap yang mampu melabuhkan pelayaran kasihku dalam dermaga kebahagiaan. Aku ingin Tuhan menggariskan takdirmu pun aku dalam saru rasa yang kita namai; cinta!

/5/
Perempuanku, izinkan aku terus mencintaimu. Meski engkau memilih lelaki lain untuk mencintaimu. Sebab kepemilikan cintamu ialah pilihanmu, namun aku berhak untuk memilih tetap mencintaimu meski engkau tiada memilihku sebagai pilihan cintamu. Jika memang pada akhirnya aku hanya mampu mempuisikanmu dalam hati sebagai bentuk setiaku atas cintamu maka itu sudah lebih cukup. Sebab aku sadari, mengharapkan yang lebih atas cintamu serupa mengasah belati yang pada akhirya kuhujamkan pada tubuhku sendiri. Jangan salah tafsir dengan belati yang kuhujamkan pada tubuhku. 

Sebab itu ialah isyarat bahwa aku rela mati untuk tetap mencintaimu. Sungguh, aku tak hendak berujar apa kecuali aku mencintaimu dalam mati-hidupku. Ah, harus dengan apa aku membahasakan ini semua. Namun engkau tiada mengerti betapa besar aku mencintaimu. Lihatlah pada cekung mataku ada pendar baying wajahmu. Dengarlah pada getar suaraku ada kerinduan yang begitu besar pada kasihmu. Lihatlah aku, lihatlah! Aku selalu melangkah dalam keseluruhan rindu atas namamu!
Padepokan Kompak, 04.11.2014

***

Biodata Penulis :
Dani Sukma AS, Penggagas Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK). Karyanya baik berupa cerpen, puisi, maupun esai dimuat di beberapa media massa, baik lokal maupun nasional. Selain itu juga termaktub dalam beberapa antologi sastra, antara lain: Antologi Flash Fiction Kampoeng Horas, Antologi Cerpen Topeng Manusia, Antologi puisi 53 Penyair Cahaya Medan dan Kumpulan [mirip] Cerpen; Para Penanti. Email : wongjowo.dani@gmail.com