Desember 05, 2014

Belajar Menulis Dari Buku " 101 Dosa Penulis Pemula" Karya Isa Alamsyah

[ Foto Pribadi : Buku Isa Alamsyah - Panduan Menulis Lengkap]

Dari Jatuh
Seorang anak belajar berdiri, berlajan, dan berlari
Dari Gagal
Kita belajar untuk Sukses
Dari Masalah 
Kita belajar untuk mencari solusi
Dari mengetahui dosa-dosa para penulis
Kita mengerti bagaimana menulis 

Kawan ! Saya paling suka mengoleksi buku teori menulis. Karena saya bermimpi ingin menjadi penulis suatu hari nanti. Minimal, dalam hidup ini, ada satu buku yang pernah saya tulis. Teramat sering saya memotivasi diri dengan sebuah ungkapan, “Jangan Mati sebelum menulis buku”. Kata-kata itu seperti energi yang besar bagi saya. Semangat yang mengalir dari ungkapan itu cukup menggoda untuk segera berkarya. Jujur, kata-kata itu cukup propokatif. Tapi Insya Allah tidak menentang takdir Allah, soal kematian. Kan namanya juga ikhtiar.

Dari sekian buku-buku tentang menulis yang saya miliki, hampir semua bahasannya sama. Tentang  bagaimana menemukan ide, menentukan judul, cara menuliskan cerita dengan baik dan apa saja yang dipersiapkan dalam menulis. Buku-buku itu membahas luas dan teoritis bagaimana proses kreatif dalam menulis. Namun, ketika selesai membaca, kadang bingung sendiri. Ide sudah dapat tapi menulis tidak selancar teori yang dibaca.

Suatu ketika saya mendapatkan info ada buku baru tentang panduan menulis. Buku itu karya pak Isa Alamsyah, “101 Dosa para penulis pemula”. Buku ini sudah saya nanti-nanti. Sebab, buku itu kabarnya adalah ringkasan dari workshop Asma nadia, penulis kondang yang sudah makan asam garam dalam dunia literasi. Saat buku ini beredar, saya langsung memesan 30 buah untuk anak-anak kelas menulis. Karena saya tahu buku ini akan sangat berharga bagi mereka.

Buku ini tidak hanya membahas bagaimana menemukan ide dan menjadikan tulisan berkualitas, tapi lebih pada menciptakan pemikiran kritis bagi penulis pemula. Caranya? Yakni menunjukan dimana letak kesalahan dan bagaimana memerbaikinya. Jadi, saat pembaca buku ini, kita  akan paham dan jadi sensitif soal masalah kepenulisan. Misalnya saja, penggunakaan subject, gaya membuka cerita yang “jelek”, dialog cerita yang menotonon, kesalahan dalam pengunakan sudut pandang, kesalahan dalam menentukan ending cerita, kesalahan pada kalimat kita yang sering berulang-ulang, ada kata ganti yang sering kita lupa dalam menggunakannya, penggunaan bahasa yang membosankan, pembuka cerita yang maaf, “maha lebay”, pemilihan judul yag tidak menarik, gaya pembuka cerita yang klise,  ending cerita yang tidak berkesan dan masih banyak lagi. Masalah yang dibahas ada 101 permasalahan. Yang kesemuanya itu begitu penting sebagai pondasi awal seorang penulis pemula.

Sebagai contoh, dalam bab awal buku ini membahas soal “serangan” kata aku. Tahukah kita, serangan kata itu tidak disadari begitu banyak menyisip atau bahkan menyusup di setiap kalimat. Jumlahnya bisa lebih dari tiga. Lalu apa masalahnya? Ya masalahnya kalimat kita tidak efektik dan cenderung membosankan. Coba kita butikan, berikut ini salah satu contoh  saya kutip dari bukunya langsung;

“Ketika aku pulang ke rumahku, aku buka pintu rumahku dan kulihat adikku sedang tidur”(Halaman : 3 )

Mari kita perhatikan, berapa jumlah kata aku yang ada dalam kalimat di atas? Kata “Aku” dalam kalimat di atas berjumlah enam. Dan perlu diketahui, jika dalam satu kalimat saja sudah ada enam kata aku, bayangkan kalau cerpen kalimatnya berjumlah seribu kata, maka ada berapa kata aku? Tentu ada enam ribuan. Jadi cerpenmu bakal cocok dibuang ke tong sampah saja. Hehehe maaf kejam ya? ya begitulah kalau tulisan tidak mau diperbaiki.

Lalu bagimana cara memperbaiki kalimat di atas? Berikut perbaikannya;

“Ketika pulang ke rumah, Aku buka pintu dan terlihat adik sedang tertidur”( Halaman :4)

Nah, coba bandingkan. Kira-kira mana kalimat yang enak dibaca. Tentu kalimat kedua. Sebab, kata aku dalam kalimat itu tinggal satu. Makna dan informasinya pun tidak menghilangkan kalimat pertama yang kebanyakan kata aku.

Contoh lain tentang kata pengiring dialog, yang di bahas pada bab dosa ke -81. Seringkali kita terjebak dengan masalah dialog yang tidak variatif. Setiap sisipan akhir dialog hanya berputar-putar pada, tanyanya, jawabnya, ujar, ujarnya, jawabnya. Alhasil, dialog itu tidak hidup dan cuku membuat pembaca mengantuk. Coba perhatikan contoh di bawah ini;

“Idrus dari mana?” tanya Arif
“Dari kampus, ada apa” tanya Idrus Balik.
“Mau makan siang denganku ngak?” Tanya Arif lagi.
“Ngak ah, sudah ada janji soalnya sama si putri” jawab Idrus berlalu.

Dialog diatas buatan sendiri, hanya sekadar contoh, dulu saya melakukan dialog seperti itu.  Nah, setelah membaca buku ini, saya merasa sangat terbantu. Setidaknya virus kesalahan menulis sedikit terkurangi. Seperti halnya dialog yang super membosankan di atas.

Teman-teman, itulah salah satu contoh kelebihan dari buku ini. Membahas kesalahan namun disertai dengan rekomendasi dan saran perbaikan. Dan, hal ini nyaris  tidak ditemukan dalam teori menulis di bukuversi  lainnya. Untuk itu, saya sangat merekomendasikan kepada kalian untuk segera memiliki buku ini. Sebelum memang buku ini habis dalam peredaran.

Secara pribadi, buku terbitan 2014 ini cukup unik. Cara Isa Alamsyah dalam mengajari penulis pemula tidak membahas soal menemukan ide, tapi dimulai dengan cara memperkenalkan segala kesalahan dalam menulis. Luaran yang diaharapkan, ketika kita mau menulis tidak lagi melakukan kesalahan yang serupa. Nah cara terbaik memperbaiki kesalahan, yakni  harus paham dulu apa kesalahannya, barulah diperbaiki. Buku ini yang akan menolong kita menemukan kesalahan itu. Jadi, fungsi buku ini semacam anti virus, pendeteksi kesalahan dalam sebuah tulisan. Apa sudah bagus atau harus direvisi lagi.

Maka buku ini adalah panduan kilat yang mampu melejitkan potensi menulis. Saya sangat bahagia bisa memiliki buku ini. Kalau tidak berlebihan, karya Isa Alamsyah ini ibarat “kue” dengan cita rasa baru.  Kita sebagai penulis pemula bakalan tidak bosan membacanya berulang-ulang kali. Saya saja, hanya butuh sehari untuk “menghatamkan” buku ini. Mungkin karena saya keasyikan,hinggaakhinya lupa, tebal dan jumlah halamannya. Saya terlalu asyik “mencicipi” lembar demi lembar. Smapai halaman akhir kaget, sh ternyata sudah habis ya halamannya. Sungguh buku ini membuat kita candu.

Buku motivasi menulis ini dibuat dengan niatan ikhlas bagi penulis. Selain dengan tujuan komersil, buku ini didedikasikan untuk anak bangsa ke depan. Saya pernah membaca kisah pak Isa Alamsyah ketika membangun komunitas bisa menulis. Group yang jumlah ratusan ribu member itu dibuat atas keterpanggilan nurani untuk melanjutkan estapet kepenulisan. Saya sebenarnya terharu dengan ungkapan penulis buku ini.

“Ma, sudah saatnya kita melakukan engkaderan. Kita harus mulai mempersiapkan penulis selanjutnya” tutur Isa Alamsyah suatu waktu.

Membaca ini saya jadi terharu. Betapa buku dosa penulis pemula ini menjadi wujud kecintaan mereka pada generasi mendatang. Lelaki yang beristrikan Asma Nadia ini tidak ingin egois, dan juga tak ingin membawa mati ilmunya. Keduaya: Asma Nadia dan Isa Alamsyah,  ingin generasi muda selanjutnya mampu menulis dan memberi manfaat bagi dunia literasi bangsa ini.

So, bagi kita yang ingin menjadi penulis di masa depan, bersiapkah menyelami lautan ilmu mbak Asma Nadia dan Isa Alamyah dalam serial buku “101 dosa para penulis pemula”. Semoga ulasan ini bermanfaat. Salam…