Desember 06, 2014

Puisi Berantai "Cinta Kepada Ibu" Karya KBM Indonesia [Part 2]

Sahabat Sastra, sebagai lanjutan dari Puisi berantai tentang Ibu. Serial kali ini masih sambungan dari puisi sebelumnya [ Baca : Puisi Berantai "Cinta Kepada Ibu" Karya KBM Indonesia Part 1] . Maka postingan ini hanya sekadar lanjutan. Sebab, kami pikir, postingan puisi awal terlalu panjang dan kami buatkan da postingan agar lebih rapi. Berikut puisi Part dua tentang ibu.


Foto Ilustrasi by Kartun Muslimah]

Ibu,,,
di atas sajadahmu kau berurai air mata mendoakan anak-anakmu
Setiap malam ku pandangi raut wajah letihmu.
Bibir mungil yg masih nakal bergetar kala mencium keningmu
Dalam hati berbisik Kau adalah segalanya untukku,
Aku mencintaimu Mamak

-
"Ahhhh...!!!"betapa kata itu menyakitkanmu ibu..
Meski sedemikian singkat, sejatinya kau memahami..
Ada bakti yang sedang ku ingkari...
Acapkali pada sunyi yang bertahta.
Engkau tak pernah goyah melepas kasihmu.
-
Mungkinkah kau setegar itu?
ku tau dimatamu banyak menyimpan kegelisahan.
namun, enggau bisa berpegang pada huruf-huruf yang berlafazkan nama allah.
Ibu engkau lah panutanku.

Mawar Dani mesti terkadang aku lelah dalam mengeja amarahmu,
Namun kutahu tiap ejaan murka kau selalu menyelipkan doa tulus.
kau wanita terindah yang paling kukagumi.

-
Allah...
Biarkan cinta ini terus kembangkan sayapnya
Meskipun ia tak sempurna di mata hamba lain-Mu...
Saat Ia menangis
Aku tak bisa merayu dengan setusuk es krim atau permen yang ku bisa hanya mendoakan...
Cintailah ibuku seperti cintanya untukku yang tak pernah ia biarkan aku menangis...
Jangan lagi biarkan air mata itu ada
Dekap ia dengan karunia-Mu

Karna ku tahu...
Kau tak kan biarkan ibuku menjatuhkan air matanya..
Setiap kata yang ia haturkan adalah petuah hidupku karna perkataan ibu adalah doa...
Hukum aku jika aku terkadang membuatnya jenuh...

Allah Ajari aku tuk membahagiakannya
Pahamkan aku tentang cara membuatnya tersenyum...
Aku tak peduli berapa kerutan yg ada di wajahnya...
Yang pasti ku tau ku sering membuatnya kecewa..

Ibu, deraimu tentang suka dukaku
Ikhlasmu mengalahkan air yang mengalir paling bening 
Pelukmu hangat tak sepanas matahari
Ibu, entah kini, esok atau lusa, selalu ku panjatkan do'a
Pengorbananmu semoga berbalas surga ...
Bawa aku ke surga bersamamu bu ...
-
Ibu...
Setiap tetes hujan yang berderai di wajahmu, tak pernah tampak.
Namun aku melihat ada badai besar di dalam dirimu
Kau selalu mencintai badai itu.
Itulah aku dan ayah, badai besar yang takkan kau hapus dari memori emasmu yang takkan mampu kusentuh.
Ibu...
Dadaku sesak
Terkadang memutar ulang rekaman yang telah tersimpan dalam benak.
Angin malam pun hanya mampu membelaiku agar tetap setenang hutan.
Tapi kini...
Aku tak mampu menatapmu lagi yang telah dihalangi bumi.
Selamat jalan, semoga kau bahagia.

-
Ibu...
ak ada yang lebih menggairahkan dari mengenangmu
Perempuan kumal berkerudung panjang
Yang menggendong tumpukan ranting kering garing

Tak ada yang lebih menakjubkan dari mengingatmu
Perempuan kampung bertongkat bambu langsing
Yang menggiring bebek-bebek gendut di pematang

Surga ada di telapak kakimu yang penuh lumpur
Cinta ada di matamu yang mulai lamur
Dan kasih ada di hatimu yang selalu jujur
Tapi luka dan air mata ini seakan terbawa pada sosok tubuhmu yang terkubur!
-
Ibu...
Tubuhmu yang kecil.
Namun mampu menahan beban yang besar.
Dibalik ragamu yang mungil.
Kamu mampu menahan derita.
Air matamu ...
Perihmu ...
Jeritanmu ...
Kau pendam sedalam-dalamnya.

Demi ku seorang.
Demi buah hati yang tercinta.
Dalam kertas tipis putih ini aku tumpahkan Rasa khilaf

Sesalku yang telah membentakmu.
Namun,tak lekangku bangga padamu.
Yang tak henti menyayangiku.
Walau seperti apapun diriku ini.
-
Ibu ...
Masih membentangkan tangannya.
Dalam peluk hangatnya.
Ibu...
Maafkan anakmu ini
Meski ku belum sempat memberimu hadiah istana
Megah lengkap dengan pelayan-pelayannya

Maka sebagai gantinya ada untaian do'a untukmu wahai ibuku ...
yang selalu kurangkai di setiap sujudku
Ya Alloh bangunkan rumah untuk ibuku di surga
-
Ibu...
Harusnya aku malu...
Ketika aku pun sdh menjadi seorang ibu

Tapi sejujurnya
Aku masih sangat membutuhkan peluk kasihmu...
Petuah petuahmu sangat aku butuhkan
Agar akupun dapat 'memeluk ' anak-anakku.
Memberikan kehangatan pada hati mereka.
Juga memberikan keteduhan pada hidup mereka,
Teduh...layaknya tatapan matamu.

Ibu...
Andai saat ini engkau ada di sini
Tentu mataku sudah terlelap sebelum dini begini.
Keresahanku selalu muncul sarat akan saat sepi.
"Mampukah aku menjadi kuat sepertimu?
-
Ibu…
Saat ini hari benar benar telah menepi,
Dalam hening tadi,
Dalam simpuh ku pada Illahi Robbi
Aku mohon agar engkau selalu di lindungi
Agar engkau punya waktu lebih banyak lagi
Untuk mengajarkanku bagaimana indahnya 'memberi'
-
Ibu..
Ingin kusiratkan segala tentangmu
Ingin kutumpahkan luapan terima kasih yang memenuhi rongga dadaku

Namun, apalah aku?
Hanya untaian nama yang belum bisa membuatmu bahagia
Aku hanya sepasang mata yang kadang membuatmu kecewa
Aku hanya seonggok daging dengan darah yang sering mengundang amarah

Ibu..
Tak ada bunga seindah dirimu
Tak ada cahaya seterang nasihatmu
Terima kasih Ibu.

Note : Kumpulan puisi ini hak cipta KBM Indonesia.