Agustus 16, 2015

Catatan Anak Bangsa dari Pelosok Pulau Sulawesi


[Anak-anak Suku Bajo, Torsiaje Gorontalo/Dok Pribadi Penulis/IdrusDama
Kalau saja tak ada yayasan Panti Asuhan Darul Arqam Boalemo, tentu anak-anak pulau Sulawesi, daerah Kecamatan Paguyaman Pantai, provinsi Gorontalo, akan merana sepanjang hidup. Sebab, banyak di antara anak-anak pulau ini yang hidup dalam keterasingan dan telantar. Bukan saja lantaran miskinnya, tapi karena banyak yang sudah tak memiliki keluarga. Di saat yang tepat, Murzik Abdullah, tokoh Muhammadiyah Kabupaten Boalemo mencoba untuk menghapus tangis anak-anak yang kesepian ini. Mereka diambil ke panti asuhan, disekolahkah dan diberi biaya hidup secukupnya. 

Setelah tinggal di panti asuhan, anak-anak pulau Paguyaman Pantai tak berarti lolos dari nasib malang. Pendidikan yang diharapkan hanya kandas di gerbang pintu SMA. Setelah itu,  pihak panti asuhan tak bisa membiayai mimpi mereka untuk kuliah.Dalam artian, anak-anak  itu akan diantar pulang ke kampung halaman.Hal ini dilakukan karena pihak yayasan akan menampung anak-anak baru, yang nasibnya butuh perbaikan juga. Sementara fasilitas yayasan tak akan mampu menampung anak-anak yatim dalam jumlah yang banyak.

Seandainya kau adalah salah satu anak di sana, tentu kau akan menangis sejadi-jadinya. Mengapa? Karena setelah mereka diantar pulang oleh panti asuhan, mereka malah memilih menjadi nelayan. Di kampung halaman tak ada pilihan selain pergi melaut. Lapangan pekerjaan untuk lulusan SMA nyaris tak ada. Kalau pun ada, itu hanya di kantor desa. Tarkadang anak-anak itu tidak tertampung semua. Inilah sebuah kondisi anak-anak yang terlupakan oleh negeri ini. Perlu kiranya saya tulisan lewat blog, barangkali satu dua orang yang sempat membaca artikel ini, dan tergerak hatinya untuk sama-sama peduli.

Di suasana pelik itu, panti asuhan tak bisa berbuat apa-apa. Keterbatasan daya tak mampu membuat mereka melanjutkan mimpi anak-anak telantar hingga kuliah. Dan, itu berarti, masa depan yang mereka perjuangkan sia-sia saja.

Murzik Abdullah- Penanggungjawab Panti Asuhan Darul Arqam Boalemo
Melihat hal ini, pihak yayasan tetap terus berjuang. Murzik Abdullah, sosok yang kini menjabat kepala madrasah Tsanawiyah ini, terus berusaha membangun kerja sama. Meminta tolong kepada lembaga-lembaga kreatif, seperti: pengusaha tukang jahit, sablon, dan lembaga training komputer. Kiranya bisa melatih anak panti asuhan untuk bisa kreatif sesuai bidang yang mereka minati. Bekal ini, menurut Murzik Abdullah nanti akan mengantarkan mereka ke nasib yang lebih baik. Kendati demikian, banyak juga yang menolak. Sebab, biaya kursusnya belum bisa ditutupi oleh pihak Muahammadiyah.

“Dorang so jaga latih jadi pengusaha. Biar nanti kalau tidak bisa kuliah, ya jadi pengusaha. Ini somo kerja sama dengan pengusaha tukang jahit. Biar dilatihmenjahit baju.” Kata Murzik Abdullah, suatu hari ketika saya berkunjung ke rumahnya, di dusun Kampung Baru, desa Hungayonaa, Tilamuta.

Sampai saat ini, yayasan kecil itu hanya bisa menampung anak asuh 15 sampai 20 orang. Sebab tempat tinggal panti asuhan masih terbilang kecil. Dari belasan anak panti yang telah dididiknya, baru 4 orang yang bisa meraih sarjana. Dua sarjana pendidikan Islam jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Gorontalo (IAIN) dan 2 lainnya Sarjana bahasa Ingris lulusan Universitas Negeri Gorontalo. Salah satu diantara mereka, yang berasal dari Paguyaman Pantai, adalah penerima beasiswa Bidik Misi angkatan 2010. Dan kau tahu kawan? Saya adalah satu anak panti asuhan itu. Setelah lulus dari madrasah Aliyah, saya berkesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan anak miskin. Ketika itu masih di bawah pimpinan bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Saya bisa kuliah gratis selama 4 tahun di Universitas Negeri Gorontalo. Andai kata kalau bukan berkah dari Allah lewat kemurahan hati bapak Susilo, mungkin saya telah jadi anak-anak pengangguran yang nasibnya entah berkiblat ke mana.
 Ah, itu kasus anak telantar di Boalemo. Jika kita melihat dalam kaca mata yang lebih luas, tentu kasus serupa akan banyak ditemui. Misalnya, dalam laporan detik news pada jumat ( 15/5/2015) bahwa jumlah anak telantar di negeri kita ini mencapai angka 4,1 juta. Laporan ini tentu membuat mata kita terbelalak, bahwa ternyata tanggup jawab sosial penyelamatan anak bangsa cukup besar. Angka itu tak hanya menyentak nurani, menyentuh hati dan menghantam batin. Olehnya itu, tak elok bila kita telalu lama berpangku tangan, dan hanya melihat kondisi demikian semakin memburuk. Kita sebagai pemuda harus berpikir kreatif untuk menemukan solusi tentang kondisi ini. Maka dalam hal kondisi di daerah saya ini, paling tidak saya menawarkan beberapa solusi.

Solusi bagi anak telantar di pulau Sulawesi ( Gorontalo )

Solusi pertama: Mari kita giatkan gerakan infak masyarakat peduli panti asuhan. Saya sangat berharap, kita rakyat yang telah mapan secara finansial, kiranya bisa saling gotong royong, memperkuat anak bangsa, memberi mereka harapan bermimpi sebagaimana anak bangsa lainnya. Kita boleh membuat semacam iuran bulanan kecil-kecilan. Anggaplah 10 ribu/ bulan setiap kita menerima gaji bulanan, maka akan banyak manfaatnya. Apalagi yang ikut dalam program gerakan infak untuk panti asuhan ini berjalan kompak dan terstruktur. Tentu anak-anak ini bisa saja melanjutkan mimpi mereka kuliah. Dampaknya anak-anak itu termotivasi untuk belajar dan mengasah kemampuan. Dan kelak mereka bisa menjadi generasi bahagia ke depannya. Gerakan infak ke panti asuhan ini bukan hanya menolong nasik anak-anak yang terancam terantar, tetapi juga infak itu akan menjadi amal jariyah bagi kita sendiri. Iya kan?

Solusi kedua : Pengadaan alat indsutri kreatif panti asuhan. Dalam hal ini kiranya pemerintah bisa memberi bantuan berupa alat usaha industri kecil kreatif bagi anak-anak panti asuhan. Bukan hanya di Boalemo, tapi mungkin seluruh panti asuhan di negeri ini. Sehingga, kalau yayasan panti asuhan tak mampu mengantarkan anak asuhnya hingga ke jenjang kuliah, paling tidak, anak-anak ini bisa mandiri, bisa menjadi pengusaha, yang di kemudian hari mampu menolong anak panti asuhan selanjutnya. 

Dengan adanya pengadaan alat-alat latihan insdustri kreatif bagi anak-anak pati asuhan, maka pihak yayasan panti tidak begitu khawatir dengan nasib-anak ini. Mereka akan memiki talenta yang bisa dijadikan loncatan untuk meraih kesuksesan.

Solusi Ketiga: Dukunglah lembaga non profit. Seperti SOS Children's Villages Indonesia (Official site at : http://www.sos.or.id/). Organisasi ini bergerak untuk berjuangan untuk kebahagiaan anak. Bekerja dan memastikan anak tumbuh penuh cinta di lingkungan keluarga. Silahkan informasi terkait hal ini bisa langsung melihat kerjanya via Instagram : @desaanaksos - Fan page : SOS.Childrens.Villages.Indonesia  dan Offisial site : www.sos.or.id

Salurkan bantuan dan dukungan kita ke lembaga ini jika misalnya kita tak mampu memperjuangannya seorang diri atas hak-hak anak. Insyaa Allah lembaga sosial itu akan bisa melanjutkan maksud hati kita menolong anak negeri yang telantar.  

Dalam kasus anak telantar, saya sendiri berjuang lewat organisasi Forum Lingkar Pena. Di sini saya berbagi tips dengan anak-anak bagaimana menulis hingga mendapatkan uang. Kami datangi dan kumpulkan anak-anak di suatu tempat dengan jargon, " Yuk ikut sekolah Menulis". Kami terus bergerak mendidik anak-anak melalui literasi. Pun anggaran kegiatan dan pelatihan kepada anak-anak itu murni dari kantong-kantong pengurus sendiri. Inilah sebagai wujud tanggungjawab sosial kepada bangsa ini. Nah, organisasi sosial lainnya pasti sama. Maka diharapkan pemerintah mendukung gerakan sosial mencerdaskan anak ini sepenuh hati. Insyaa Allah roda masa depan akan berputar sesuai harapan.

 Solusi keempat: Pemberian Beasiswa kepada anak-anak yatim berprestasi. Dengan demikian, anak-anak panti asuhan tidak jadi anak telantar setelah mereka menamatkan sekolah tinggkat SMA. Mereka bisa melanjutkan studi ke jurusan yang mereka impikan di kampus. Hal ini sudah saya rasakan sendiri. Sebagai anak panti asuhan, saya sangat bersyukur telah mendapatkan beasiswa. Jadi, ke depannya adalah tugas saya melanjutkan perjuangan panti asuhan.  Saya kiran pemerintah boleh mencontoh apa yang telah dilaksanaka  Susilo Bambang Yudhono. Selama periondenya, ada program khusus beasiswa Bidik Misi, yakni beasiswa miskin berprestasi. Dari program ini siapa tahu ada program beasiswa anak panti asuhan berprestasi. Tentu akan sangat membantu.

Saya yakin, dalam hal beasiswa, pemerintah punya anggaran dan kekuatan besar untuk menolong nasib anak bangsa ini. Hanya yang menjadi pertanyaan, adakah di antara pemimpin daerah atau elit yang berkuasa bisa peduli?

Ayuk sekarang kita harus bergerak dan percaya diri untuk amal mulia ini. Kita tak boleh pesimis. Apalagi selalu menuntut pemerintah terus. Baiknya, kita sebagai pemuda dan masyarakat intelektual harus bisa bergerak dengan daya kita masing-masing. Minimal, sumbangsi pemikiran, jasa, atau sedikit finansial. Insyaa Allah itu akan mampu menghapuskan jutaan tetesan air mata anak bangsa ini. 

Mari kawan-kawan.
Kita kuatkan barisan.
Kita kokohkan niat.
Bantulah anak-anak di sekitar kita
Kemurahan hati kita adalah secawan harapan buat anak-anak bangsa ini.
Salam perubahan! Merdekalah anak bangsa!